Menyusuri Cagar Budaya di Kawasan Militer Kota Bandung

Oleh Huyogo Simbolon pada 30 Apr 2018, 11:01 WIB
Diperbarui 30 Apr 2018, 11:01 WIB
Historical Trips Bandung
Perbesar
Peserta Historical Trips sedang mengikuti kunjungan ke kawasan militer di Gedung Kodiklat TNI AD, Bandung, Jawa Barat.

Liputan6.com, Bandung - Selama ini Bandung dikenal dengan berbagai julukan, mulai dari kota peristirahatan, kota wisata, kota kembang, hingga kota mode atau fashion. Namun, selain julukan tersebut, Bandung juga memiliki satu sebutan yang perlu untuk ditambahkan, yaitu kota militer.

Hal itu dapat diamati dengan melihat sejarah perencanaan dan pembangunan Kota Bandung oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.

Dalam catatan sejarah, persiapan untuk menjadikan Bandung sebagai ibu kota Pemerintahan Hindia Belanda mulai terjadi sejak tahun 1915. Sejak itulah bangunan-bangunan monumental yang indah mulai dibangun di Bandung, termasuk fasilitas militer.

Bangunan-bangunan itu banyak tersebar di wilayah Bandung, khususnya di pusat kota. Bersama dengan Historical Trips, Liputan6.com berkesempatan menyusuri bangunan yang masih berdiri sejak ratusan tahun lampau itu.

Kami menyusuri bangunan masyarakat Eropa sekitar tahun 1920-an yang terdapat di daerah di mana jaringan jalannya diberi nama dengan nama-nama pulau dan kota di Indonesia, yakni Jalan Banda, Jalan Lombok, Jalan Kalimantan, Jalan Sumatera, Jalan Jawa, dan lain-lain.

Kawasan militer begitu terasa saat tiba di Jalan Aceh. Gedung Jaarbeurs yang dahulu merupakan pasar malam dan pameran industri, sekarang digunakan sebagai Gedung Komando Pembina Doktrin, Pendidikan, dan Latihan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (Kodiklat TNI AD).

Dari Jalan Aceh yang lurus memanjang, terdapat Markas Kodam III Siliwangi. Gedung bergaya art deco itu dulunya hanyalah rumah dinas panglima tentara Hindia Belanda atau Paleis van den Legercomandant.

Bangunan megah karya bersama kakak beradik Richard Schoemaker dan Wolff Schoemaker tahun 1918 yang sekarang berfungsi sebagai kantor militer ini berdiri tahun 1918. Tak kurang dari dua tahun lamanya pembangunan gedung dibangun.

Simak video pilihan berikut ini:

2 dari 3 halaman

Rencana Perpindahan Ibu Kota

Gedung Detasemen Markas Komando Militer (Denma Kodam) III/Siliwangi
Perbesar
Gedung Detasemen Markas Komando Militer (Denma Kodam) III/Siliwangi.

Adapun Kantor Departement van Oorlog atau disebut juga Departemen Peperangan Hindia Belanda sendiri adalah gedung yang sekarang gedung Detasemen Markas Komando Militer (Denma Kodam) III/Siliwangi di depan Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution.

Gedung dengan banyak jendela kayu ini berdiri pada 1913 dengan gaya arsitektur klasik romantik hasil rancangan Letnan Dua Genie V. L. Slors. Lalu pada 1916, Ir. Richard Leonard Arnold Schoemaker merenovasi gedung ini hingga selesai pada 1920.

"Oleh masyarakat Bandung, bangunan ini disebut Gedung Sabau yang berarti satu bau alias 7.096 meter persegi. Gedung ini dibangun di atas lahan seluas 7 hektare," kata pemandu Historical Trips Malia Nur Alifah, pada Minggu, 29 April 2018.

Sekalipun indah, namun sebenarnya gedung ini tidak mencerminkan adaptasi arsitektur bangunan di iklim tropis. Alhasil, tahun 1916, orang-orang Belanda yang ada di dalam gedung ini kerap mengaku kepanasan.

"Karena kerap kepanasan itulah maka di depannya dibangun sebuah taman bernama Insulinde Park yang dulunya adalah lapangan militer untuk olahraga ataupun upacara militer. Dulunya, aneka pepohonan dan tanaman dari seluruh pulau di Hindia Belanda. Sekarang disebut Taman Lalu Lintas," jelasnya.

Dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (1985) karya Haryoto Kunto disebutkan, dalam upaya mendukung pelaksanaan rencana Bandung sebagai ibu kota kolonial Belanda, berbagai fasilitas vital pemerintah kolonial mulai dipindahkan. Seperti Kantor Pusat Pos dan Telekomunikasi (dahulu PTT), jawatan kereta api (dahulu SS), serta beberapa bagian dari departemen dan lembaga. Termasuk, kepindahan pihak perusahaan swasta.

Sebagai calon ibu kota Hindia Belanda tentu diperlukan dukungan militer. Karena itulah Departement van Oorlog juga mulai melakukan pemindahan berbagai instalasi dan personel sejak 1816 sampai 1920 dari Weltevreeden (Jakarta Pusat).

Namun, untuk mengantisipasi kehidupan kota yang terus meningkat dan perluasan kota yang terus berkembang, pemerintah kota pada tahun 1930 menugaskan kepada Prof Ir Herman Thomas Karsten membuat rencana pembangunan dan perluasan kota yang kemudian dikenal sebagai Karsten Plan.

Rencana ini dituangkan untuk memperlihatkan keseimbangan antara pembangunan kawasan timur dan kawasan barat kota. Sedangkan kawasan utara kota direncanakan untuk perluasan perumahan masyarakat Eropa. 

3 dari 3 halaman

Fasilitas Sekolah hingga Kolam Renang

Peserta Historical Trips mengunjungi SMAN 3 & 5 Bandung.
Perbesar
Peserta Historical Trips mengunjungi SMAN 3 & 5 Bandung.

Beberapa kalangan menyebutkan, pola bangunan di sekitar jalan ini mengikuti model tata kota renaisans seperti Paris. Selain itu, dalam kawasan militer tersebut juga terselip fasilitas umum seperti sekolah, kolam renang dan tempat rekreasi.

Salah satu sekolah yang kini dikenal banyak orang adalah Gedung SMAN 3 dan 5 Bandung. Dulunya, bangunan ini dirancang oleh Prof Charles Prosper Wolff Schoemaker.

Gedung yang beralamat di Jalan Sumatera ini dibangun pada 1916. Anemer atau pemborong gedung adalah Lim A Goh yang juga anemer Gedung Sate. Sekolah ini merupakan sekolah menengah untuk bangsa Belanda dan kalangan ningrat pribumi yang merupakan sekolah gabungan antara SMP (MULO) dan SMA (AMS) dengan masa studi 5 tahun.

Beranjak dari sekolah, terdapat karya luar biasa lainnya, yaitu Kolam Renang Centrum. Dibangun 1920 oleh Wolff Schoemaker, bangunan ini memiliki arsitektur modern tropis. Di masa lalu, kolam renang ini hanya diperuntukkan untuk kaum Eropa dan orang kulit putih saja.

Itulah sejumlah bangunan militer dan fasilitas lain yang dulu menjadi bangunan fenomenal. Bagi pencinta bangunan tua maupun heritage bangunan ini menjadi daya tarik buat mereka telusuri.

Ketua Historical Trips, Hasan Sobirin mengatakan, ada beberapa kawasan cagar budaya di Kota Bandung baik itu yang sifatnya sebagai permukiman, perdagangan, dan perkantoran atau instansi.

"Kawasan militer ini kita anggap penting karena Bandung dulu akan dijadikan ibu kota Hindia Belanda, dibangunlah infrastruktur," kata Hasan.

Adapun tujuan trip ini pihaknya ingin menjembatani keingintahuan masyarakat melalui beberapa kegiatan eksplorasi.

"Saya juga melihat banyak dari masyarakat yang ingin tahu. Kawasan militer pun yang saya perhatikan pun dalam kondisi terawat," ujarnya.

Lanjutkan Membaca ↓