Geliat Ekonomi di Kebun Teh Andung Biru

Oleh Dian Kurniawan pada 23 Apr 2018, 18:30 WIB
Diperbarui 25 Apr 2018, 18:13 WIB
Teh Andung Biru

Liputan6.com, Probolinggo - Kebun Teh yang berada di Gunung Gambir, Desa Andung Biru, Kecamatan Tiris di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, tak sekadar menjadi destinasi wisata andalan. Lebih dari itu, kebun teh seluas 183,49 hektare itu juga menjadi sumber perekonomian masyarakat sekitar.

Terbukti, 250 warga sekitar bekerja dan menggantungkan hidupnya di kebun teh milik PTN XII PERSERO itu, dengan menjadi buruh petik teh. Para pemetik teh yang berangkat sejak pukul 05.00 hingga pukul 10.00 WIB, mampu menghasilkan hingga 30 kilogram teh.

"Dua minggu sekali, saya mendapatkan upah Rp 250 ribu upah petik. Itu akumulasi mas, kalau per harinya saya dapat sekitar Rp 20 ribu hasil dari mengumpulkan petikan 20 sampai 30 kilogram mas,” ujar Anita, salah satu warga pemetik teh, Selasa, 17 April 2018.

Lain pemetik, lain juga dengan buruh yang mengangkat hasil teh siap untuk diimpor. Semakin banyak teh dipetik, bakal kian menambah pundi-pundi rupiah baginya. Seperti yang disampaikan Suheri (32), warga Desa Racek, Kecamatan Tiris, yang setiap hari menerima upah Rp 54 ribu dari hasil keringatnya.

"Jadi setelah dipetik, teh yang sudah dipanen ditimbang di sini, baru dikemas. Hari ini, teh hasil panen akan diimpor ke pabrik teh di Wonosari Malang," kata Suheri.

Hasanudin, mandor kebun teh milik PTN XII Persero menjelaskan, wisata petik teh Lawang Kedaton kini tak hanya menjadi destinasi wisata andalan, tapi juga pioner pemberdayaan masyarakat setempat.

"Jadi kami punya 183,49 hektare kebun produktif, yang dalam sehari menghasilkan 4,5 ton teh basah. Ini adalah salah satu dari empat kebun teh terbesar di Jawa Timur, selain sebagai lokasi wisata juga roda ekonomi masyarakat sekitar," tuturnya.

Saksikan video pilihan di bawah ini: