Ulah Kawanan Landak Bikin Resah Petani di Gunungkidul

Oleh Liputan6.com pada 09 Apr 2018, 10:30 WIB
Diperbarui 11 Apr 2018, 10:13 WIB
Landak

Liputan6.com, Gunungkidul - Kawanan landak menyerang dan merusak lahan pertanian milik warga di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Serangan landak itu berlangsung selama dua bulan terakhir.

Kepala Dukuh Watu Belah, Gunung Kidul, Sulistyo, mengatakan banyak tanaman warga yang rusak akibat serangan landak. Tanaman kacang milik warga, misalnya, ketika hendak dipanen, buahnya sudah lebih dulu dimakan landak. Akibatnya, dua bulan terakhir, hasil panen kacang tidak maksimal.

"Untuk meminimalkan kerusakan lahan pertanian, warga berburu landak untuk mengurangi populasi landak di desa tersebut," ucap Sulistyo, Senin (9/4/2018), dilansir Antara

Dia mengatakan, berbagai upaya warga kemudian mencari landak di kawasan ladang yang di sekitarnya terdapat gua. Sebab, di tempat tersebut banyak landak bersembunyi.

"Kami memasang beberapa perangkap. Kalau di sini sudah ada beberapa yang tertangkap, sekitar delapan ekor, kalau di wilayah lain belum tahu," katanya.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Sigi Investigasi: Perburuan Landak Jawa Ilegal
Landak Jawa terus diburu karena mitos kesehatan, hingga dianggap sebagai hama bagi sebagian petani.
2 of 2

Kepercayaan Setempat soal Landak

Pengaruh Cuaca, Petani Keluhkan Hasil Panen
Petani beraktivitas di lahan pertanian garapan. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Sulistiyo menjelaskan, selain menggunakan pawang untuk menangkap landak, pihaknya sudah melaporkan hama ini ke Dinas Tanaman Pertanian dan Pangan Gunungkidul.

"Harapannya bisa dikurangi populasinya, sehingga tidak merugikan penduduk," ujarnya.

Sementara, salah seorang petani, Suyoto mengatakan dua bulan terakhir kacang, ketela, dan jagung milik warga rusak. "Sudah dua bulan ini serangan landak meningkat, memakan apa saja yang ada di ladang," ucapnya.

Dia mengatakan, bersama warga terus memburu landak dengan cara dipasang perangkap menggunakan bambu.

"Kalau dibunuh langsung, kepercayaan di sini tidak memperbolehkan," katanya.

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by