Kisah Pramuka Nekat Potong Laju Mobil Rombongan Cawagub Jabar

Oleh Abramena pada 06 Apr 2018, 14:03 WIB
Diperbarui 06 Apr 2018, 14:03 WIB
Kisah Pramuka Nekat Potong Laju Mobil Rombongan Cawagub Jabar

Liputan6.com, Bogor - Seorang remaja lelaki berseragam pramuka nekat memotong laju kendaraan rombongan calon Wakil Gubernur Jawa Barat (Cawagub Jabar) Dedi Mulyadi yang sedang melintasi jalan Sukabumi-Ciawi, Bogor, Kamis, 5 April 2018. Arus lalu lintas di kedua jalur tersebut terbilang macet parah.

Aksi siswa SMAN 1 Cijeruk Bogor itu bukan untuk gaya-gayaan. Ia terdorong untuk menghentikan laju kendaraan cawagub demi membuka jalur bagi ambulans yang sedang membawa pasien kritis. Ambulans itu ikut terjebak macet.

Ia meliuk-liukan sepeda motornya untuk menyalip kendaraan besar dan rombongan cawagub. Setelah dirasa pas, ia memarkirkan kendaraannya di pinggir jalan. Ia lalu turun dan langsung mengurai kemacetan sampai ke perempatan Ciawi, Bogor.

Aksi kader pramuka tersebut menarik perhatian calon Wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Mantan Bupati Purwakarta itu turun dari kendaraannya dan menghampiri Bagus yang tengah bergelut dengan debu jalan. Cucuran keringat pun mengalir deras dari tubuh bocah itu.

"Ade namanya siapa? Kenapa melakukan ini? Ade masih sekolah?" berondongan pertanyaan meluncur dari mulut Dedi Mulyadi.

Anggota pramuka itu mengaku bernama Bagus (17). Dia mengaku aksinya mengatur kendaraan di jalan raya saat macet adalah rutin.

"Ini mah sudah rutin Pak, enggak apa-apa," katanya.

Dedi semakin kagum saat Bagus menolak halus pemberian uang yang disodorkannya. "Saya kagum ke Dek Bagus. Mau membantu orang dengan ikhlas," ujarnya.

 

 

2 dari 2 halaman

Pengalaman Pilu

Kisah Pramuka Nekat Potong Laju Mobil Rombongan Cawagub Jabar
Ada kisah pilu yang melatari aksi nekat anggota pramuka di Bogor memotong laju mobil rombongan Cawagub Jawa Barat. (Liputan6.com/Abramena)

Bagus menceritakan awal mula terdorong mengatur jalan raya. Ia memiliki kisah pilu terkait dengan mobil ambulans yang terkena macet.

Ayahnya meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit saat dibawa mobil ambulans dan terjebak kemacetan. Sejak saat itu, Bagus berjanji pada dirinya sendiri untuk membantu membuka jalan bagi ambulans yang terkena macet.

"Saya kalau mendengar suara ambulans suka teringat almarhum bapak. Bapak saya meninggal di dalam mobil ambulans karena terkena macet. Saat itu, tidak ada yang membantu membuka jalan, tidak ada yang menghiraukan," ucapnya lirih.

Bagus pun sama sekali tidak mengetahui jika dalam antrean kemacetan tersebut terdapat rombongan Dedi Mulyadi. "Tadi itu spontan saja Pak. Dengar ambulans langsung saja turun ke jalan," ucapnya polos.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓