Mama-Mama Muda Mendaur Ulang Barang Bekas hingga Mendulang Uang

Oleh Huyogo Simbolon pada pada 07 Apr 2018, 09:00 WIB
Ibu-ibu Pamitran IV, Kompleks Panghegar Permai, RT 05/09, Kelurahan Cipadung Kulon, Kecamatan Panyileukan, Kota Bandung, memamerkan produk barang bekas yang mereka daur ulang

Liputan6.com, Bandung - Punya barang bekas sudah tidak dipakai? Daripada dibuang mending diberikan saja kepada Enie Mu’alifah (43). Sebab dari kreasi ibu rumah tangga ini barang bekas termasuk plastik dapat didaur ulang menjadi benda baru penuh cita rasa seni.

Aneka sampah plastik seperti bungkus plastik laundry, kantong kresektrashbag, dan plastik-plastik kecil ini misalnya. Di tangan Enie, plastik tersebut dibuat menjadi kostum dengan sentuhan seni yang sekilas mirip dengan gaun asli.

Kostum lainnya lebih unik lagi. Memanfaatkan karung bekas, ranting pohon dan kulit pohon, dia berhasil menciptakan kostum mirip gaun mewah.

Selain fesyen, ia juga membuat suvenir berbahan kayu hingga batok kelapa. Juga beberapa aksesori yang bisa menjadi hiasan di rumah.

Enie membuat dan menjual produk-produk daur ulang barang bekas tersebut di rumahnya, Jalan Pamitran IV, Kompleks Panghegar Permai, RT 05/09, Kelurahan Cipadung Kulon yang terletak di Kecamatan Panyileukan, Kota Bandung, Jawa Barat.

Jika biasanya di zaman sekarang orang berjualan online lewat situs web ataupun media sosial, tidak demikian dengan Eniem. Pemesan produk daur ulang barang bekas hanya bisa langsung dipesan di tempat. Apa pasal?

Saksikan video pilihan berikut ini:

 

1 of 4

Ikut Dilombakan

Enie membuat dan menjual produk-produknya tersebut di rumahnya, Jalan Pamitran IV, Kompleks Panghegar Permai, RT 05/09, Kelurahan Cipadung Kulon, Kecamatan Panyileukan, Kota Bandung.
Enie membuat dan menjual produk-produknya tersebut di rumahnya, Jalan Pamitran IV, Kompleks Panghegar Permai, RT 05/09, Kelurahan Cipadung Kulon, Kecamatan Panyileukan, Kota Bandung.

"Ini tidak diproduksi massal, sengaja agar produk yang dibuat jadi limited edition," kata Enie saat dijumpai Liputan6.com, Kamis, 5 April 2018.

Dia lalu menunjukkan pada sebuah kostum yang pernah dilombakan di acara Bandung Clean Festival 2017. Gaun berbahan plastik, karung, kresek, kertas koran yang dibuat dalam waktu dua minggu.

"Karena saat membuat ini tergantung pada mood saya. Kalau bagus bisa lebih cepat, tapi kan bukan soal cepatnya yang dikejar tapi sisi artistiknya," ujarnya.

2 of 4

Berawal dari Acara Agustusan

Terali berwarna hitam dengan ukuran 2x1 meter berisi sepatu boots, kabel bekas, spion bus hingga perkakas dapur
Terali berwarna hitam dengan ukuran 2x1 meter berisi sepatu boots, kabel bekas, spion bus hingga perkakas dapur

Sebuah monumen nyeleneh terpajang di halaman rumah Enie. Kebetulan, rumahnya tidak memiliki pagar yang justru membedakan ia dari penghuni lainnya di kompleks itu.

Terali berwarna hitam dengan ukuran 2x1 meter itu berbentuk vertikal. Pada bagian depan terdapat sepatu bot, kabel bekas, spion bus hingga perkakas dapur. Monumen tersebut menjadi penanda bahwa barang bekas bisa diubah menjadi produk yang lebih bernilai seni.

"Itu temanya 'Membumi'. Bentuknya seperti orang terbalik dengan maksud seperti apa pun juga kondisi kita baik ketika dalam keadaan terjatuh tidak akan terpuruk karena berpegangan pada tali, yaitu pada keyakinan," ucap Enie, menjelaskan filosofi monumen tersebut.

Bagi Enie, monumen itu bukan maksud untuk dipuja-puja, namun ingin memberi makna pada sesuatu.

Begitu juga ketika ia melakoni kegiatan mendaur ulang plastik 2013 silam. Ketika itu, Enie membuat kostum berbahan plastik guna ditampilkan dalam perayaan 17 Agustus.

"Saya awalnya suka bikin kostum di acara agustusan, di sekolah dan sering dilombakan. Makin ke sini semakin banyak tetangga yang ingin gabung," ungkap Enie.

Karena melihat antusias ibu-ibu kompleks, barang yang digunakan untuk membuat kerajinan seni semakin berkembang.

"Termasuk kalau lihat tukang rongsok itu senang banget. Ada barang elektronik tidak terpakai kita buat sesuatu, ada alat dapur kita bikin juga jadi instalasi," ujarnya.

Akhirnya, dengan konsep mengubah barang bekas dan plastik menjadi produk artistik, sebanyak 11 ibu-ibu kini tergabung dalam wadah Rastik Sekar Jagad atau barang bekas jadi antik, senang berkarya jaga budaya.

"Kita ingin menghasilkan produk yang bermuatan kebudayaan sendiri, tetapi menampilkan keindahan dan kecnatikan yang setiap orang saat melihatnya jadi terpesona," tutur Enie.

3 of 4

Mendulang Uang dari Barang Terbuang

Kostum dengan memanfaatkan karung bekas, ranting pohon dan kulit pohon, menjadi mirip gaun mewah
Kostum dengan memanfaatkan karung bekas, ranting pohon dan kulit pohon, menjadi mirip gaun mewah

Enie yang bukan seniman apalagi berkuliah di jurusan seni, senang karya-karnya diapresiasi banyak orang. Selain dilombakan, produknya juga sudah terbilang menghasilkan.

Suvenir dari bahan kulit kayu yang ia temui di jalan, misalnya. Harganya hanya Rp 100 ribu. Bahkan, kostum yang dibuat dengan berminggu-minggu harganya bisa mencapai Rp 750 ribu.

Padahal, bahan bakunya diambil dari plastik, karung dan benda yang tak terpakai lainnya.

"Semakin ke sini saya jadi banyak mempelajari soal lem, cat saja. Untuk desain saya tidak ambil pusing. Malah tidak ada satu pun yang pakai sketsa segala," kata Enie.

Kalaupun harus dikerjakan ramai-ramai itu juga tidak harus saling memaksakan kehendak.

"Kita lakukan dengan kesenangan. Setiap orang punya karakter berbeda dan itulah sisi uniknya," kata Enie menjelaskan.

Pernah suatu waktu, Enie membuat kostum dari bahan kertas. Alih-alih menciptakan kreasi baru, kostum yang dibuat malah jadi menambah sampah. Sebab, kertas bukan tipe benda yang disimpan cukup lama akan awet apalagi bila terkena air.

Selain kini bisa menghasilkan uang, Enie bersama ibu-ibu RT 05 tetap berkegiatan seperti biasa. Bahkan, kompleks mereka tinggal kini lebih nyentrik.

Terdapat gapura dengan cantelan barang bekas mulai dari tutup panci, gayung, kaleng dan lain-lain. Namun disusun rapi serta diberi cat dengan warna dan motif yang menarik.

"Itu biar sebagai pengingat bahwa segala sesuatu tidak gampang, banyak hal yang dibuang tapi malas untuk menggali potensi. Kita perlu menghargai barang, tidak perlu konsumtif," ungkapnya.

Lanjutkan Membaca ↓