Heboh Tarian Erotis di Gedung Wanita Banyuwangi

pada 03 Apr 2018, 00:02 WIB
Diperbarui 14 Des 2018, 15:57 WIB
Ilustrasi prostitusi

Banyuwangi - Minggu malam, 1 April 2018, suasana Gedung Wanita Banyuwangi, Jawa Timur, mendadak heboh. Acara pameran dan modifikasi yang digelar salah satu merek mobil kenamaan di gedung milik Pemerintah Daerah Banyuwangi itu, diisi hiburan tak senonoh berupa tarian erotis.

Informasi yang diperoleh Times Indonesia, saat itu, terdengar alunan musik disko dilengkapi dengan para penari wanita yang menampilkan gerakan-gerakan erotis. Tak pelak, para pria yang hadir langsung heboh.

Tanpa dikomando mereka mendekat ke arah panggung. Menyambut antusiasme penonton, penari yang berpakaian serba minim pun ikut bermanuver.

Sambil membelakangi penonton, penari menggoyangkan pantat dengan gaya erotis. Tak pelak, aksi para penari tersebut makin membuat meriah dentuman musik dari DJ.

Tak berhenti di situ, demi memukau penggemar, gadis-gadis penari bergaya menungging di atas panggung. Kaum pria yang berjajar di depan pentas sontak berteriak kegirangan.

"Asik, asik, asik," ucap salah satu penonton.

Pertunjukan tarian erotis di Gedung Wanita Banyuwangi ini pun menuai kritikan. Khususnya dari kalangan masyarakat umum.

Mereka merasa kecewa lantaran menilai seharusnya Gedung Wanita digunakan sebagai tempat kegiatan yang mengangkat citra dan marwah wanita. Bukan malah sebaliknya.

"Gedung wanita kok dipakai kegiatan yang memamerkan tarian erotis. Saya yakin jika aktivis wanita dan ulama tahu, pasti sudah dibubarkan kegiatan itu," celetuk Efendi, warga Banyuwangi.

 

Baca juga berita menarik lainnya di Timesindonesia.co.id.

2 of 2

Kritikan Ulama

Tarian Erotis di Gedung Wanita Banyuwangi
Beberapa penari wanita berbaju minim dalam pameran dan modifikasi mobil di Gedung Wanita Banyuwangi, pada Minggu malam (1/4/2018). (Times Indonesia/Istimewa)

Pertunjukan tarian erotis tak lepas dari kritikan kalangan ulama. "Kami sangat sesalkan dan meminta Pemda (Pemerintah Daerah) memberi teguran dan sanksi kepada panitia penyelenggara," tegas Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) atau Asosiasi Pondok Pesantren Banyuwangi, KH Ahmad Munib Syafaat, Senin (2/4/2018).

Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) yang sekaligus anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Banyuwangi ini juga meminta kepada pihak penyelenggara untuk meminta maaf secara terbuka di media karena kegiatan ini dinilai sangat mencederai norma, adat, serta mencoreng citra religius daerah.

"Nanti kita sampaikan juga ke pimpinan dewan, kita sungguh sangat menyesalkan, panitia perlu dipanggil. Biar ini menjadi pembelajaran dan tidak berulang," kata pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Blokagung, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari.

KH Ahmad Munib Syafaat menambahkan, tarian semacam itu memang kurang layak digeber di Gedung Wanita Banyuwangi, yang notabene milik pemerintah daerah. Harusnya, tempat pelat merah dijadikan wahana mengangkat citra dan marwah wanita sekaligus daerah.

Kecaman dari NU

Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi, Jawa Timur, ikut bereaksi atas kemunculan tontonan tarian erotis dalam pameran dan modifikasi mobil di Gedung Wanita setempat, Minggu malam (1/4/2018).

"Kami mengutuk keras pertunjukan yang tidak pantas tersebut, Gedung Wanita itu gedung bermartabat," tegas Wakil Ketua PCNU Banyuwangi, H Nanang Nur Ahmadi, Senin (2/4/2018).

Pemerintah Daerah Banyuwangi, lanjutnya, harus meminta pertanggungjawaban pihak panitia. Karena diyakini izin pinjam tempat plat merah yang diajukan panitia ke instansi terkait tidak menyebut adanya tarian panas.

"Izin harus diperiksa, apakah sesuai dengan isi acara," ucapnya.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓