Melestarikan Teh Kejek Garut Kesukaan Kaisar Jepang

Oleh Jayadi Supriadin pada 13 Mar 2018, 06:31 WIB
Diperbarui 13 Mar 2018, 06:31 WIB
Teh Kejek
Perbesar
Sejak zaman Belanda hingga kini, proses pembuatan teh Kejek (bahasa Sunda berarti diinjak) menggunakan injakan kekuatan kaki itu masih berlangsung. (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)

Liputan6.com, Garut - Bau asap sisa pembakaran teh langsung menyengat saat pertama kali memasuki bangunan hitam kusam ini. Beberapa orang dengan pakaian lusuh khas pekerja pabrikan, tampak asyik melakukan aktivitasnya sebagai pengolah teh Kejek di Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Bagi masyarakat Garut yang wilayahnya terkenal dingin, minuman teh dan kopi hangat adalah paduan serasi alami yang tidak dipisahkan hingga kini. Namun, khusus teh, ada satu proses pembuatan teh alami dan tradisional yang masih dipertahankan hingga kini.

Teh Kejek (injak), namanya. Proses pembuatan teh tersebut menggunakan injakan kekuatan kaki itu masih berlangsung hingga kini, sejak pertama kali diajarkan pengelola perkebunan Belanda satu abad silam.

"Mungkin yang masih bertahan hingga kini salah satunya kami," ucap Oos Affandi (54), pengolah teh Kejek asal Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Garut, Minggu, 11 Maret 2018.

Oos menyatakan, proses pembuatan teh Kejek memang terbilang unik dan langka. Sejak pertama kali diajarkan pegawai kebun Belanda di Perkebunan Teh Cikajang, Garut, yang terkenal kualitas teh hijaunya pada 1900 silam, hingga kini masih mempertahankan proses pengolahan tradisional itu.

Kejek dalam bahasa Sunda yang berarti "diinjak", memang sebagian besar masih menggunakan alat tradisional. Termasuk mengandalkan tenaga kaki dalam teknik injakan teh tersebut.

Tujuan utamanya adalah mengeluarkan getah daun teh agar mendapatkan hasil fermentasi lebih baik.

"Semakin banyak getah yang dikeluarkan semakin baik teh yang dihasilkan," katanya.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Pemetikan hingga Pengeringan

Ilustrasi Teh Hijau
Perbesar
Ilustrasi Teh Hijau (iStockphoto)

Oos menuturkan, dalam proses pengolahan teh Kejek, daun teh segar hasil petikan tangan petani, terlebih dahulu mengalami proses sanggrai atau pengeringan menggunakan wajan berukuran besar di atas tungku api atau anglo.

Proses itu memakan waktu hingga 20 hingga 30 menit, sampai keadaan teh dianggap pas untuk dilakukan proses penginjakan teh dalam sebuah bangunan sempit menyerupai parit. Perlakuan itu agar mampu mengeluarkan getah teh secara optimal.

"Lakukan injakan yang merata agar getah teh keluar sempurna," katanya.

Lalu, setelah proses kejek dilakukan, daun teh kemudian dibawa ke tempat penggarangan untuk proses pengeringan di atas bara api. Teh yang sudah kering selanjutnya disimpan di suatu tempat selama tiga hari hingga akhirnya dipilah untuk dipasarkan.

Sejak pertama kali proses kejek diterapkan, ia mengaku telah menjadi generasi ketiga dalam rantai produsen teh Kejek yang berada di Desa Cigedug, kaki Gunung Cikuray, Garut tersebut.

"Saya sendiri mulai tahun 1970 dan masih bertahan dengan cara kejek ini," ujarnya.

Meskipun dengan alat seadanya, ia bersama beberapa pegawainya yang sebagian besar tetangga sekitar, mampu menghasilkan hingga 25 kilogram teh Kejek siap seduh dari 100 kilogram teh basah hasil petik petani.

"Untuk harga jual kami patok di angka Rp 40 ribu hingga Rp 60 ribu per kilogram," katanya.

Teh Kejek hijau hasil olahannya bahkan sudah menjelajah hingga luar negeri tersebut. "Tapi saat ini, kami hanya layani permintaan pasar Garut saja, tenaganya (pekerjanya) berkurang," imbuhnya.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Pertahankan Pengolahan Teknik Lama

Pemetik Teh Kaki Gunung Kerinci
Perbesar
Sebagian ibu-ibu warga Kabupaten Kerinci di kaki Gunung Kerinci adalah pemetik teh peninggalan Belanda yang kini dikelola oleh PT. Perkebunan Nusantara (PTPN). (Liputan6.com/B Santoso)

Adapun Dasep Badrusalam, salah satu tokoh budayawan Garut menambahkan, semula masyarakat Cikajang mengolah teh dengan cara dipilin atau diremas dan pijat menggunakan tangan. Namun, melonjaknya permintaan, akhirnya pola itu ditinggalkan dan beralih menggunakan cara kejek hingga kini.

Selain getah daun yang keluar lebih banyak, produksinya pun lebih melimpah. "Ukurannya kalau teh dengan dipilin (pijat dan remas tangan) hanya sanggup 20 kilogram, kalau kejek bisa 100 kilogram," dia menegaskan.

Selain itu, proses pengolahan dengan kejek atau diinjak tersebut, dapat menghasilkan cita rasa tinggi dari setiap teh yang dihasilkan. Kondisi ini, sangat kontras jika diolah menggunakan mesin yang terkadang menghasilkan daun teh dalam keadaan gosong.

"Selain melanggengkan budaya, juga sebenarnya rasanya lebih enak, ada manis-manisnya," ujar Dasep.

Supaya menghasilkan teh Kejek hijau yang berkualitas, proses pertama dimulai saat pemetikan teh segar berlangsung. Petani yang sudah terlatih bakal memilih daun teh segar muda sesuai kebutuhan. "Jangan disabit, sebab biasanya daun teh tua pun ikut dipanen," katanya.

Dengan pemilihan daun teh hijau muda itu, cita rasa dan aroma teh Kejek yang dihasilkan bakal menjadi lebih baik. Tak mengherankan, sekalipun dengan pengolahan sangat sederhana, kualitas teh Kejek sangat disenangi masyarakat dunia.

Dalam sejarahnya, berdasarkan penuturan cerita yang berkembang, konon kaisar dan masyarakat Jepang yang doyan minum teh hijau, serta sebagian masyarakat Eropa menyenangi teh hasil injakan warga lokal Garut tersebut.

"Mungkin juga karena Jepang pernah menjajah kita dan budaya ngeteh mereka cukup tinggi," ujarnya.

Bagi Anda yang menyukai seduhan teh hijau berkualitas khas Kejek Garut, tak ada salahnya mencoba teh produksi Pangirutan yang satu ini. Selain harganya terjangkau, cita rasa dan aroma yang tidak ada duanya, bakal mengiringi minum teh hangat Anda.

Lanjutkan Membaca ↓