Menjelajah Pagi di Kolam Susuk yang Jadi Sumber Kehidupan Warga Perbatasan

Oleh Amar Ola Keda pada 10 Mar 2018, 06:07 WIB
Diperbarui 10 Mar 2018, 06:07 WIB
Kolam Susuk
Perbesar
Kolam susuk yang menjadi sumber kebutuhan warga perbatasan. Foto: (Ola Keda/Liputan6.com)

Liputan6.com, Belu - Objek wisata kolam susuk berada di Desa Dualaus, Kecamatan Kakuluk Mesak, kabupaten Belu, atau sekitar 17 kilometer arah utara dari Kota Atambua, ibu kota Kabupaten Belu. 

Tidak diketahui secara pasti kapan kolam susuk ditemukan, tetapi keberadaan objek wisata ini sudah ada sejak dahulu kala dan dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk kebutuhan hidupnya. Termasuk menangkap ikan, udang, kepiting, dan lain-lain. Kolam ini terbentuk secara alami dan memiliki tanah yang berwarna putih.

Sehingga kalau terkena sinar matahari, airnya memantulkan cahaya yang berwarna putih seperti susu. Ini menjadi alasan mengapa sekarang nama objek wisata ini lebih sering disebut dengan nama kolam susu.

Meski demikian, sebenarnya karena objek wisata ini dikelilingi oleh hutan bakau yang lebat, banyak sekali terdapat nyamuk di sekitar tempat ini.  Akhirnya masyarakat setempat kemudian menamai kolam tersebut dengan sebutan Kolam Susuk atau dalam bahasa Indonesia disebut kolam nyamuk.

Selain itu, hutan bakau ini juga merupakan tempat tinggal bagi ribuan kelelawar, kera jenis lokal, kepiting bakau, dan lain sebagainya. Kolam Susuk dapat dicapai dalam waktu 20 menit perjalanan dengan kendaraan roda empat dari Atambua.

Letaknya persis di Desa Junelu, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu. Di atas puncak bukit yang membentuk kolam tersebut, telah dipasang sebuah pigura raksasa bertuliskan Kolam Susuk. Di lembah bukit yang menghadap ke arah kolam, telah dibangun rumah-rumah payung sebagai tempat berteduhnya para wisatawan dari terik matahari.

2 dari 2 halaman

Budidaya Ikan

Kolam Susuk
Perbesar
Kolam susuk yang menjadi sumber kebutuhan warga perbatasan. Foto: (Ola Keda/Liputan6.com)

Bupati Belu, Willybrodus Lay, mengatakan untuk mengembangkan wisata itu, kawasan Kolam Susuk akan dimanfaatkan untuk budi daya bandeng dan udang. 

"Warga sekitar pernah mengembangankan bandeng dan udang di kolam tersebut. Namun, warga tidak merawat dan menatanya dengan baik, sehingga membuat lingkungan sekitarnya menjadi rusak. Sekarang kami tengah mengembangkan ulang," ujar Lay kepada Liputan6.com, Minggu pertengahan Februari lalu.  

Lokasi Kolam Susuk yang bermakna sejarah itu, kata Lay, kini sedang dipoles menjadi tujuan wisata alam dan bahari yang menakjubkan bagi para wisatawan. Pengembangan kawasan wisata terpadu Kolam Susuk untuk menyediakan lokasi wisata alternatif untuk warga asing terutama dari Timor Leste. 

Kolam Susuk adalah salah satu kawasan wisata tambak di Kabupaten Belu. Sejak dahulu sudah dimanfaatkan warga, baik dari dalam daerah maupun luar untuk menikmati suasana alam, sambil menikmati hasil tangkapan bandeng yang ada di kolam tersebut.

"Pemerintah dan masyarakat Kabupaten Belu bisa mendapatkan sumber pendapatan dari sektor pariwisata untuk kelangsungan pembangunan di daerah," pungkas dia. 

Lanjutkan Membaca ↓