Jembatan Holtekamp, Ikon dan Destinasi Wisata Baru di Papua

Oleh Katharina Janur pada 23 Feb 2018, 08:01 WIB
Diperbarui 25 Feb 2018, 07:13 WIB
Papua

Liputan6.com, Jayapura - Tak lama lagi, masyarakat Papua akan menikmati indahnya hamparan Teluk Youtefa dan perbukitan di sekelilingnya dari atas Jembatan Holtekamp yang dibangun di atas teluk yang dikelilingi Bukit Skyline di Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura.

Jembatan Holtekamp yang membentang sepanjang 112,50 meter didominasi warna merah juga bakal menjadi ikon baru Kota Jayapura yang menghubungkan Kota Jayapura dan Kabupaten Keerom, hingga ke wilayah perbatasan negara Papua Nugini.

Jembatan Holtekamp mulai dipasang salah satu sisinya pada Rabu, 21 Februari 2018, walaupun ada perintah Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk menghentikan sementara seluruh pekerjaan jembatan dan terowongan di Indonesia yang dilakukan di atas ketinggian. 

"Lifting Center Span-1 Jembatan Holtekamp sudah direncanakan dengan baik. Setibanya kami di Jayapura, langsung melakukan koordinasi dan pengecekan kesiapan untuk memastikan adanya jaminan keselamatan dalam pelaksaan dan persiapan. Semua proses pengecekan sudah dilaporkan kepada Pak Menteri dan sudah disetujui," kata Dirjen Bina Marga PUPR, Arie Setiadi Moerwanto.Jembatan Holtekamp Kota Jayapura (Liputan6.com / Katharina Janur)Tak tanggung-tanggung, proses pengangkatan kerangka dengan berat 2000 ton menghadirkan para profesor dan ahli dari Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, dan ahli checking jembatan dan terowongan dari BPPT yang masuk dalam Tim Komite Keselamatan Kerja PUPR.

Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional/Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN/BPJN) yang juga menjabat sebagai Sekretaris Komite Keselamatan Kerja PUPR, Yudha Handita Pandjiriawan menyebutkan pengangkatan salah satu sisi bentangan Jembatan Holtekamp telah mendapatkan izin Menteri PUPR.

Itu setelah dicek dari segala sisi, misalnya apakah desain jembatan yang sudah disetujui menteri, atau apakah kondisi jembatan masih sama saat dikirim dari Surabaya ke Jayapura, dan lain sebagainya.

"Hasil pengecekan itulah, salah satu sisi Jembatan Holtekamp dapat diangkat. Proses pengangkatan membutuhkan waktu 3-5 jam, tergantung keadaan disekitarnya, apakah disesuaikan dengan cuaca di sekitarnya, kecepatan angin atau hujan atau kondisi alam lainnya. Tapi, saat ini semua berjalan lancar dan diharapkan dapat berjalan normal," kata Yudha.

Penggangkatan Jembatan Holtekamp dilakukan dengan empat buah hidrolik yang masih-masing berjumlah 37 kabel dan diangkat dengan ketinggian 16 meter.

2 of 4

Ikon Kota Jayapura

Papua
Warga Kampung Enggros Kota Jayapura. (Liputan6.com / Katharina Janur)

Kepala Balai Nasional Pembangunan Jalan dan Jembatan Wilayah Papua, Osman Hariyanto Marbun menjelaskan pengangkatan dan pemasangan satu sisi Jembatan Holtekamp merupakan tahapan pembangunan jembatan yang menjadi impian masyarakat Kota Jayapura dan Papua pada umumnya. Ini sekaligus menghubungkan Kota Jayapura dan perbatasan Negara Papua Nugini. 

Secara teknik, Jembatan Holtekamp merupakan pertama di Indonesia bahkan di dunia yang perangkaian dilakukan oleh PT PAL. Selain itu, rekor kerangka jembatan pertama yang diangkut secara utuh dengan berat 2000 ton dan panjang 112,5 mater dari Surabaya ke Kota Jayapura dengan jarak tempuh 3200 kilometer, tercipta.

"Rangka baja pelengkung jembatan dikirim dan diangkut dengan kapal LCT/tongkang dari Surabaya ke Jayapura, menjadi inovasi pertama bidang kerangka jembatan di Indonesia," kata Osman.

Osman menambahkan latar belakang dibangunnya jembatan, sebagai terobosan penyebaran penduduk di Kota Jayapura yang diarahkan ke Koya. Dengan jembatan inilah, jarak tempuh dari pusat Kota Jayapura ke Koya dapat dipersingkat.

Proses pengangkatan Jembatan Holtekamp. (Liputan6.com / Katharina Janur)"Saat ini lahan pemukiman penduduk sudah padat dan pemerintah menghendaki pemukiman di Kota Jayapura dikembangkan ke arah Koya yang berdekatan dengan perbatasan Negara Papua Nugini," jelasnya.

Jembatan Holtekamp juga ingin mementahkan anggapan banyak pihak yang menganggap Papua sebagai daerah terbelakang dan tertinggal di Indonesia. Berdirinya Jembatan Holtekamp juga dijadikan sebagai sarana pendukung PON 2020, di mana Papua sebagai tuan rumah dalam pelaksanaannya.

"Jembatan ini mampu membuktikan konstruksi jembatan dari baja dengan inovasi baru berteknologi tinggi untuk Provinsi Papua yang pengerjaannya dilakukan oleh PT.Pembangunan Perumahan (PP), PT. Hutama Karya (HK) dan PT. Ninda Karya (NK)," kata Osman.

3 of 4

Destinasi Wisata

Papua
Salah satu tiang pancang Jembatan Holtekamp dari kejauhan. (Liputan6.com / Katharina Janur)

Jembatan Holtekamp yang dibangun sejak 2016 dengan dana sharing dari APBN, APBD Kota Jayapura dan APBD Provinsi Papua akan menjadi destinasi wisata baru bagi Papua.

Begitu pun dengan peningkatan ekonomi kerakyatan bagi masyarakat di Kampung Enggros dan Kampung Tobati yang berada di sekitar pembangunan jembatan tersebut.

Pendeta Willem Itaar, salah satu pemilik hak ulayat tanah di sekitar Jembatan Holtekamp yang turut hadir dalam acara pengangkatan salah satu sisi jembatan menyebutkan perlu adanya peranan pemerintah dalam pembinaan kepada masyarakat setempat untuk mendukung peningkatan ekonomi kerakyatan.

"Pekerjaan jembatan targetnya untuk pariwisata dan berdampak ekonomi langsung kepada masyarakat adat. Semoga ada pemberdayaan masyarakat lokal, misalnya dengan mengembangkan kuliner untuk wisatwan," jelas Willem.

Tugu Masuknya Injil di Tanah Tabi (Liputan6.com / Katharina Janur)

Saat ini, masyarakat adat membutuhkan sentuhan dari pemerintah untuk pendampingan atau pemberdayaan. Apalagi, lahan masyarakat sudah habis untuk pembangunan.

Sentuhan yang dimaksud bisa saja dalam bentuk pengelolaan penginapan atau pembuatan menu olahan dari bahan dasar lokal. "Masyarakat butuh inovasi dalam pengembangan pariswisata," kata Willem.

Dengan proses itu, Willem yakin pemalangan kepada sejumlah infrastuktur yang sering mengatasnamakan masyarakat adat akan terhenti. Dirinya mengklaim pemalangan terjadi karena tidak ada koordinasai komunikasi dengan masyarakat adat.

"Jika semua masalah diawali dengan baik, pasti akan berakhir dengan baik. Pemalangan bukan bagian dari kehidupan, tapi untuk sebuah kebaikan bagi masyarakat lokal yang memiliki hak ulayat. Apalagi jika ada pembinaan dan keterlibatan masyarakat adat dalam pembangunan, pasti tak akan terjadi pemalangan," katanya.

Tak hanya wisata di Kampung Enggros atau Kampung Tobati, destinasi wisata di sekitar Jembatan Holtekamp banyak yang harus disinggahi, misalnya saja tugu masuknya Injil di Tana Tabi, lalu ada juga Hutan Perempuan di Kampung Enggros, kemudian arah ke Koya, ada Pos Pelintas Batas di Skow, Kota Jayapura dan masih banyak lagi.

4 of 4

Rekor MURI

Papua
Rekor Muri Jembatan Holtekamp. (Liputan6.com / Katharina Janur)

Atas kerja keras tersebut, Museum Rekor Indonesia (MURI) memberikan dua penghargaan kepada Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) atas pelaksanaan pembangunan Jembatan Holtekamp.

Kedua penghargaan itu dianugrahkan kepada Direktorat Jendeal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, atas pertama Pengiriman rangka baja pelengkung bagian tengah secara utuh dengan jarak terjauh.

Penghargaan kedua yakni Pengangkatan dan Pemasangan Rangka Baja Jembatan dalam Bentuk Utuh Terpanjang. MURI beralasan penghargaan yang diberikan adalah penghargaan pertama kali di Indonesia, bahkan dunia dalam pengiriman rangka baja box pelengkung terpanjang dengan bentang 112,5 meter dan berat 2.000 ton yang dirangkai di PT. PAL dan pengiriman dilakukan dengan LCT (Tongkang) terjauh rangka baja jembatan dengan utuh yaitu sejauh 3.200 km dari Surabaya hingga ke Jayapura. 

"Rangkaian pengerjaan Jembatan Holtekamp merupakan inovasi baru dalam pengiriman kerangka baja jembatan yang dilaksanakan oleh perusahaan Konsorsium yang dilakukan PT PP, PT HK dan PT NK dan belum pernah dilakukan oleh pihak lain untuk pekerjaan sejenis," kata Mannager MURI,  Andre Koandono. 

MURI mencatat pengiriman rangka jembatan baja secara utuh baru pertama kali terjadi di dunia. Sebab biasanya, rangka jembatan dikirim dan dipasang secara terpisah.

"Pengiriman terjauh dan jembatan terberat diraih Jembatan Holtekamp dalam rekor ini dan sangat wajar, jika MURI memberikan penghargaan ini," jelas Andre.

Saksikan video pilihan berikut ini: 

Lanjutkan Membaca ↓