Pengakuan Mengejutkan Pemimpin Komunitas Bersarung dan Berkain

Oleh Edhie Prayitno Ige pada 16 Feb 2018, 16:01 WIB
Diperbarui 18 Feb 2018, 15:13 WIB
sesat

Liputan6.com, Semarang - Komunitas bersarung dan berkain yang digerebek polisi dan Polisi Militer Angkatan Laut (Pomal), harus menghentikan impiannya menggapai kedamaian hati. Selain aktivitas kelompoknya bubar, 43 orang dari 11 keluarga ini harus pulang ke keluarga dan masyarakatnya. Mereka pun dianggap menganut aliran sesat.

Penggerebekan komunitas kecil ini karena dicurigai menganut aliran sesat. Rumah di Jalan Palebon Raya Nomor 7, RT 01/RW 11, Palebon, Semarang, yang selalu tertutup itu pun diawasi. Bukan hanya polisi, namun juga warga setempat.

Kapolsek Pedurungan, Kompol Mulyadi mengatakan bahwa polisi terlibat dalam penggerebekan ini sebenarnya merupakan respons atas surat Polisi Militer Angkatan Laut (Pomal). Isi surat menjelaskan permintaan koordinasi karena ada satu perwira menengah AL yang desersi dan memilih terlibat dalam kelompok ini.

"Di luar yang anggota AL, kami yang menangani," ucap Kompol Mulyadi di Mapolsek Pedurungan, Jumat (16/2/2018).

Hal itu, menurut Mulyadi, diperkuat dengan laporan warga yang mengaku beberapa kerabatnya terlibat dalam kegiatan di rumah itu. Mereka mengaku resah dan khawatir dengan aktivitas di dalam rumah.

Para tetangga mencurigai kegiatan komunitas bersarung itu sebagai aliran sesat karena berada di rumah yang selalu tertutup. Penghuni juga nyaris tak pernah keluar.

"Kami sering melihat ada orang mengetuk pintu, namun tak diizinkan bertamu. Bahkan mau bertemu keluarganya saja tak boleh. Ada yang cerita sambil nangis-nangis," kata salah satu tetangga.

2 of 3

Dilarang Kerja dan Sekolah

sesat
Mereka tetap bersarung dan berkain ketika diklarifikasi kepada para penghuni rumah dilakukan oleh Camat Pedurungan dan Kapolsek Pedurungan.

Menurut Rondhiyono atau Andi, pemimpin kelompok atau komunitas bersarung dan berkain ini, kegiatan yang dilakukan hanyalah diskusi-diskusi saja. Mereka mendiskusikan bagaimana mendapatkan ketenangan hati, merasa damai.

"Tak ada apa-apa, kami cuma berkumpul dan berdiskusi saja, membahas soal kehidupan," kata Andi kepada penyidik.

Di antara 43 jiwa itu, terdapat banyak anak. Namun, mereka tak bersekolah sebagaimana lazimnya anak-anak. Mereka juga tak bermain di luar, bergaul dengan anak-anak lain.

Atas hal ini, Andi menjelaskan bahwa hal itu memang disengaja. Bahkan, orang dewasa juga tidak diizinkan bekerja tentu memiliki maksud. Programnya, mereka dikarantina selama satu tahun, sesudah setahun mereka baru bisa kembali ke masyarakat.

"Agar paham memaknai betapa pentingnya bergaul dengan orang lain. Dengan siapa pun karena seringnya berkumpul, kadang nilai pertemuan menjadi hilang," kata Andi.

Andi juga menjelaskan bahwa program yang baru berjalan tiga bulan, namun sudah dibubarkan ini tak ada kaitan dengan agama atau kepercayaan dan keyakinan apa pun. Namun, murni untuk menciptakan kesendirian dan hati yang damai.

"Kami mulai tutup gerbang, tidak interaksi dengan dunia luar sudah tiga bulan. Untuk makanan, kami sudah siapkan semua di dalam. Sekali lagi, ini tak terkait dengan agama," ujar Andi.

 

3 of 3

Sarung Hanya Simbol

sesat
Bangunan cukup besar dengan bagian samping dijadikan bengkel ini ternyata dihuni 11 keluarga, 43 jiwa. (foto: Liputan6.com/edhie)

Polisi tentu saja repot karena harus membedah pemikiran yang mendasari keyakinan tersebut. Pemeriksaan sudah dilakukan agar tak membuat semakin gelap, 11 keluarga diminta bubar dan meninggalkan rumah.

Arifin, salah satu tetangga menjelaskan bahwa kelompok itu dicurigai sesat dan berbahaya karena kebiasaannya berbeda. Anggota komunitas bersarung dan berkain ini tak mau tak mau bersosialisasi dengan orang lain yang bukan anggota kelompoknya.

"Yang bikin gerah itu ketika ada keluarga dari salah satu anggota yang datang, tapi tidak dibukakan pintu atau ditemui. Tentunya ini membuat warga sini repot," kata Arifin.

Kaum perempuan yang menjadi anggota kelompok harus mengenakan kain (jarit-Jawa). Sedangkan kaum pria harus bersarung. Syarat ini tidak ketat, karena banyak perempuan yang sudah mengenakan celana panjang, daster, atau pakaian lain. Pun dengan kaum laki-lakinya.

"Sarung dan kain jarit harus dikenakan, meskipun hanya sekadar disampirkan," kata Arifin.

Meski bersebelahan, Arifin tak tahu aktivitas penghuni rumah besar itu. Selain karena selalu tertutup, penghuni rumah itu juga tidak peduli dengan aktivitas warga di sekitarnya.

"Sebenarnya kalau warga sekitar sih enggak peduli dengan aktivitas mereka. Cuma yang meresahkan itu kadang ada keluarga dari anggota kelompok itu yang datang enggak digubris. Bahkan, pernah ada yang menangis sambil teriak-teriak mencari anaknya tetap saja tidak dibukakan pintu," kata Arifin.

Saksikan video di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by