Geram dengan Ulah Tikus, Kades di Ponorogo Bikin Sayembara Menggiurkan

Oleh Dian Kurniawan pada 15 Feb 2018, 08:30 WIB
Diperbarui 17 Feb 2018, 08:13 WIB
Tikus

Liputan6.com, Ponorogo - Barno, Kepala Desa Bringinan, Ponorogo, Jawa Timur geram dengan ulah tikus. Pasalnya, sebanyak 88 hektare sawah di desanya diserang tikus. Para petani pun terancam gagal panen tahun ini.

Barno sampai kewalahan mengatasi keluhan petani. Ia akhirnya membuat sayembara untuk mengatasi hama tikus yang menyerang lahan padi milik warganya.

"Pasalnya, ada 88 hektare lahan padi milik warga yang diserang, saat ini Bringinan Darurat Hama Tikus," tegasnya.

Barno membuat perlombaan, jika ada warga yang menangkap tikus terbanyak akan mendapat uang jutaan rupiah. Tak hanya itu, Barno juga memberi imbalan Rp 5 ribu jika menangkap seekor tikus hidup-hidup.

"Kalau tikus mati dihargai Rp 2.500," tutur Barno, Rabu, 14 Februari 2018.

Begitu sayembara disosialisasikan, ratusan warga langsung mendaftar. Tak hanya para petani, ibu-ibu rumah tangga juga tak mau ketinggalan. Bahkan, anak-anak juga tergiur imbalan tersebut.

"Cara ini terbilang efektif guna mendapatkan perhatian warga untuk membasmi tikus yang menyerang lahan padi," jelasnya.

2 dari 3 halaman

Dukungan Banyak Pihak

Tikus
Warga antusias ikut sayembara menangkap tikus. Foto: (Dian Kurniawan/Liputan6.com)

Barno menambahkan, kegiatan penangkapan tikus ini diberi nama ‘Gropyok’. Selain didukung dari perangkat desa Bringinan juga didukung oleh Dinas Pertanian, Ponorogo.

"Tadi bahkan ada warga yang berhasil menangkap tikus dan dibayar uang oleh Dinas Pertanian," cakapnya.

Mantan TKI ini pun juga mengaku bangga dengan warganya yang mau bergotong-royong membasmi hama tikus dengan alat seadanya, mulai dari cangkul, sabit, maupun linggis.

Guna melengkapi peralatan warganya, Barno bahkan memberikan 50 kg karbit yang bisa digunakan untuk memancing tikus keluar.

 

 

3 dari 3 halaman

Perangkap Tikus

Tikus
Warga antusias ikut sayembara menangkap tikus. Foto: (Dian Kurniawan/Liputan6.com)

Dari perlombaan ini, warga mendapatkan jumlah uang yang berbeda-beda. "Ada yang dapat Rp 5 ribu ada yang lebih, tergantung dia menangkap berapa tikus," tukasnya.

Demi mengurangi serangan hama tikus, seusai lomba warga juga diingatkan oleh perangkat desa untuk membuat perangkap tikus mandiri.

"Soalnya tikus tidak hanya di sawah saja tapi juga di pemukiman warga," dia memungkasi.

Saksikan video pilihan berikut ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓