232 Jiwa Mengungsi Akibat Longsor Sirongge Banjarnegara

Oleh Muhamad Ridlo pada 11 Feb 2018, 22:00 WIB
Diperbarui 11 Feb 2018, 22:00 WIB
Warga menonton gerakan tanah yang masih berlangsung. (Foto: Liputan6.com/BPBD Banjarnegara/Muhamad Ridlo)
Perbesar
Warga menonton gerakan tanah yang masih berlangsung. (Foto: Liputan6.com/BPBD Banjarnegara/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Banjarnegara - Hujan lebat beberapa hari terakhir memicu bencana longsor atau tanah bergerak di Desa Sirongge Kecamatan Pandanarum Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Sabtu petang hingga malam (10/2/2018).

Lantaran membahayakan, ratusan warga Dusun Sawangan mengungsi. Pasalnya, gerakan tanah terus berlangsung dan dikhawatirkan menimpa rumah warga.

Sementara ini, tercatat jumlah pengungsi mencapai 232 jiwa, terdiri dari 81 laki-laki, 151 perempuan, 24 anak-anak dan 13 lansia. Warga mengungsi ke sejumlah lokasi yang dinilai aman dari longsor.

Warga paling banyak mengungsi ke gedung SD Negeri 2 Sirongge. Selain itu, mereka juga mengungsi ke Puskesmas Pandanarum.

Di luar fasilitas umum, warga juga mengungsi ke rumah saudara atau tetangga di dusun lain yang relatif aman dari ancaman longsor, yakni Dusun Gumelar, Getas dan Bantengan.

2 dari 4 halaman

Kajian Geologi di Dusun Sawangan

Longsor juga menutup jalur Sirongge. (Foto: Liputan6.com/BPBD Banjarnegara/Muhamad Ridlo)
Perbesar
Longsor juga menutup jalur Sirongge. (Foto: Liputan6.com/BPBD Banjarnegara/Muhamad Ridlo)

Kepala Pelaksana Harian (Lakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara, Arif Rachman menerangkan, longsor di Desa Sirongge bukan kejadian baru. Pada 2017 lalu, tiga lokal kelas SD Negeri Sirongge ambles. Selain itu, puluhan rumah warga juga terancam.

Hanya saja, gerakan tanah terasa massif beberapa hari terakhir. Puncaknya adalah Sabtu dan Minggu ini, saat gerakan tanah berlangsung lebih cepat dari biasanya.

"Pernah dilakukan kajian geologi. Dulu kan pernah ada jalan, gedung sekolah dan lain sebagainya. Kajian geologinya, daerah situ memang rawan," dia menjelaskan kepada Liputan6.com.

Pantauan pada hari Minggu, gerakan tanah terus terjadi. Longsor atau gerakan tanah di Sirongge, Banjarnegara bisa diketahui secara visual maupun dari suara. Itu juga ditunjukkan dari pohon-pohon yg makin miring dan terus bergerak dan mengeluarkan suara derakan keras.

"Ini tidak blek hari ini, tapi semenjak kemarin sudah ada gerakan tanah," Arif menambahkan.

3 dari 4 halaman

Pengungsi Berdesakan di Ruang Sempit

Pengungsi di SD Negeri 2 Sirongge akibat gerakan tanah Dusun Sawangan. (Foto: Liputan6.com/BPBD Banjarnegara/Muhamad Ridlo)
Perbesar
Pengungsi di SD Negeri 2 Sirongge akibat gerakan tanah Dusun Sawangan. (Foto: Liputan6.com/BPBD Banjarnegara/Muhamad Ridlo)

Dia pun mengakui, pusat pengungsian yang kini didirikan belum layak. Pasalnya, ruangannya kurang luas.

Contohnya, di SD Negeri 2 Sirongge. Di gedung sekolah ini, ada 56 kepala keluarga yang mengungsi. Akibatnya, pengungsi berjubel di ruangan yang sempit. Mereka merupakan warga RT 01, RT 02 dan RT 03 RW 03 Dusun Sawangan, Sirongge.

Padahal, dari seluruh jumlah pengungsi, ada kelompok rentan. Di antaranya 11 balita dan 10 lansia. Mereka tidur berjubel di ruang kelas.

"Ruang kelas untuk pengungsian yang kurang luas dikhawatirkan juga mengganggu kesehatan pengungsi," tuturnya.

BPBD juga terus memantau gerakan tanah. Jika kondisi tak aman, maka pengungsian juga akan dipindah ke lokasi aman.

4 dari 4 halaman

PR BPBD untuk Cari Posko Pengungsian

Area gerakan tanah Desa Sirongge, Pandarum mencapai luasan hektaran. (Foto: Liputan6.com/BPBD Banjarnegara/Muhamad Ridlo)
Perbesar
Area gerakan tanah Desa Sirongge, Pandarum mencapai luasan hektaran. (Foto: Liputan6.com/BPBD Banjarnegara/Muhamad Ridlo)

Di titik lainnya, sebanyak 11 kepala keluarga yang terdiri dari 38 jiwa memilih mengungsi di kandang. Padahal, terdapat empat bayi dalam kelompok pengungsi ini.

Sebab itu, BPBD Banjarnegara tengah mencari pengungsian lagi agar warga tak berdesakan. Dengan begitu, pengungsi akan lebih nyaman.

Pasalnya, gerakan tanah masih terus terjadi dan belum dapat diprediksi kapan berhenti. “Pantauan masih terus dilakukan. Kami belum tahu sampai kapan warga akan diungsikan,” ucapnya.

Akibat gerakan tanah itu, aliran listrik ke sejumlah pengungsian putus. Padamnya listrik ini menyebabkan petugas terkendala.

Arif mengakui, hingga saat ini belum terdata keberadaan ibu hamil dan disabilitas. Sebab itu, Minggu ini, BPBD kembali mendata keseluruhan jumlah pengungsi dan karakterisitiknya.

Sejumlah kebutuhan pengungsian yang mendesak, di antaranya adalah pampers bayi, alas tidur, selimut, makanan bayi.

Lanjutkan Membaca ↓