Jelang Imlek, Ini Pedagang Musiman yang Paling Banyak Raup Untung

Oleh Eka Hakim pada 09 Feb 2018, 10:02 WIB
Diperbarui 09 Feb 2018, 10:02 WIB
Warga tionghoa percaya tebu dapat membawa rejeki (Liputan6.com/ Eka Hakim)

Liputan6.com, Makassar - Perayaan imlek tinggal seminggu lagi. Beragam kebutuhan ritual yang diperlukan menyambut imlek pun perlahan dilengkapi di beberapa klenteng. Salah satunya menyediakan tebu yang panjang dan berwarna hijau.

"Imlek tiap tahun itu membawa rejeki buat kami pedagang tebu. Yah harganya lumayan untuk keperluan ritual imlek," kata Nasir Daeng Ewa, salah seorang pedagang tebu musiman jelang imlek yang berdomisili di Kabupaten Takalar, Sulsel, Kamis (8/2/2018).

Harga yang mahal untuk perbatang tebu, diakui Nasir, hal yang wajar. Karena kata dia, selain melalui proses perawatan yang panjang, juga susah didapatkan seperti yang diinginkan untuk keperluan ritual.

"Saya juga ambilnya di Kabupaten Takalar kemudian dibawa ke Makassar. Jadi selain jarak ambilnya jauh, pencarian tebu khusus ini juga agak sulit. Yah wajar jika harga sebatang hingga Rp 1 juta," terang Nasir.

 

Warga tionghoa yakini tebu dapat membawa hoki di perayaan imlek (Liputan6.com/ Eka Hakim)
Warga tionghoa yakini tebu dapat membawa hoki di perayaan imlek (Liputan6.com/ Eka Hakim)

Tedi (47) salah satu suku etnis tionghoa di Jalan Pangeran Diponogoro Makassar mengatakan tebu yang disediakan merupakan tebu pilihan. Selain panjangnya di atas dua meter, juga batangnya masih berwarna hijau.

"Semakin panjang semakin bagus keberuntungannya," kata Tedi saat ditemui di tokonya, Kamis (8/2/2018).

Menurut cerita almarhumah neneknya dulu, kata Tedi, keberadaan tebu di perayaan imlek memiliki banyak makna. Salah satunya diyakini sebagai pembawa rejeki (hoki).

"Kata nenek dulu, kepercayaan ini sudah ada sejak ribuan tahun silam," akui Tedi.

Tebu khusus yang memiliki panjang di atas dua meter dan berwarna hijau itu, ungkap Tedi, biasanya digunakan untuk keperluan sembahyang di Klenteng yang dinamakan "Cia Gwek Ce Kau".

Setelah melalui proses sembahyang, tebu khusus yang ada di Klenteng itu, biasanya dibeli oleh para jemaat. Terutama bagi mereka yang memiliki usaha.

"Seperti saya ini, kalau masih dapat ada tebu di Klenteng, saya langsung beli untuk dipajang di toko. Yah biar usahanya berasa hoki," ungkap Tedi.

 

Tebu salah satu tanaman incaran warga tionghoa jelang imlek (Liputan6.com/ Eka Hakim)
Tebu salah satu tanaman incaran warga tionghoa jelang imlek (Liputan6.com/ Eka Hakim)

Selain diyakini sebagai pembawa hoki, tebu khusus yang dibeli dari Klenteng, juga dipercaya mampu mengusir hal-hal gaib yang bersifat jahat.

Tak hanya itu, lebih lanjut kata Tedi, dari cerita almarhumah neneknya dulu, konon tebu mengandung makna filosofi kehidupan. Dimana dapat dilihat dari ruas batang tebu yang ada.

"Setiap ruas pada tebu kata nenek dulu maknanya melambangkan tahapan hidup manusia," ucap Tedi.

Ia mengajak untuk memperhatikan proses pertumbuhan tebu. Ketika di tanam, mata tunas yang menempel pada ruas tebu secara perlahan berubah menjadi tanaman tebu yang baru dan akan terus tumbuh menjulang ke atas dan pada waktunya nanti batangnya sudah sangat tinggi, tebu itu akan merunduk ke bawah.

"Nah proses tumbuhnya tebu baru ini, persis dengan alur kehidupan manusia," kata Tedi.

Dimana saat masih berusia muda, manusia berlomba-lomba mengejar hasratnya atau cita-citanya. Seiring dengan itu, usianya juga kian bertambah dan akan mengalami masa kematangan emosional. Selanjutnya juga ditekankan bisa mawas diri serta selalu melihat ke bawah jauh.

 

Tebu salah satu tanaman incaran warga tionghoa jelang imlek (Liputan6.com/ Eka Hakim)
Tebu salah satu tanaman incaran warga tionghoa jelang imlek (Liputan6.com/ Eka Hakim)

Tak hanya itu, sifat tebu yang ketika sudah tinggi akan berubah menjulang ke bawah yang diartikan bahwa manusia sebagai mahluk ciptaan yang sempurna, wajib bisa mawas diri dan ditekankan sering melihat ke bawah. Dengan begitu, dapat berprilaku lebih bijaksana dalam menjalani kehidupan.

"Itulah makna yang tersimpan dalam tebu,” ungkap Tedi.

Sementara dari segi rasanya, tebu, kata Tedi, adalah salah satu tanaman yang banyak disukai mahluk hidup karena rasanya yang manis. Dari rasa tebu yang manis inilah diartikan dengan keberadaan manusia di muka bumi.

"Dimana hendaknya bisa mendatangkan manfaat bagi sesama mahluk hidup. Itulah filosofi yang ada di tebu ," Tedi menandaskan.