Peduli Gizi Buruk, Asmat Jadi Lokasi Penempatan Mahasiswa KKN UGM

pada 07 Feb 2018, 18:02 WIB
Diperbarui 07 Feb 2018, 18:02 WIB
Asmat
Perbesar
Tim Deru yang dikirimkan ke Asmat Papua yang telah kembali pada Minggu lalu. Untuk kemudian pada Maret mendatang mengirim peserta KKN ke Asmat. Foto: (Ridho Hidayat/JawaPos.com)

Yogyakarta - Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta akan mengirimkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) bersama sejumlah tim lain ke Kecamatan Agats, Kabupaten Asmat, Papua, mulai akhir Maret nanti.

Pengiriman tersebut sebelumnya telah dirintis oleh tim dari Unit Penanggulan Bencana (DERU) guna melakukan koordinasi dengan stakeholder terkait penanganan gizi buruk di Asmat.

Sekretaris Direktorat Pengabdian Masyarakat UGM, Rachmawan Budiharto mengatakan pengiriman mahasiswa UGM untuk melaksanakan KKN tersebut direncanakan akan dilakukan sebanyak 3 kelompok atau klaster.

Diutamakan dari program studi Ilmu Kesehatan. Namun, tidak menutup kemungkinan, program studi lainnya juga akan diberangkatkan ke Asmat ujarnya kepada JawaPos.com.

Seperti keterlibatan dari Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol), maupun dari teknik. "(Pemberangkatan) akhir Maret atau awal April, itu memang jadwal reguler," katanya, dalam jumpa pers Senin, 5 Februari 2018.

Baca berita menarik lainnya dari JawaPos.com di sini.

 

2 dari 2 halaman

Tindak Lanjut Tim Deru

Tim DERU UGM
Perbesar
Tim DERU UGM melakukan mitigasi gizi buruk Asmat

Pemberangkatan mahasiswa KKN ke wilayah Agats yang sempat berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB) campak dan gizi buruk tersebut, merupakan tindak lanjut dari keberangkatan tim Deru pada 23-24 Januari lalu ke sana.

Kedatangan Tim Deru ke Asmat untuk berkoordinasi dengan masyarakat setempat terkait misi pendampingan terhadap warga sekitar.

Tim Deru yang beranggotakan 7 orang kemarin, imbuhnya, bertugas untuk memantau kondisi di lapangan. Melihat seperti apa kehidupan di sana, pemberian logistik berupa obat dan makanan serta pemasangan panel Surya bertenaga 200 Wp.

Dari pengiriman 1 tim awal itu diketahui, di sana tak hanya membutuhkan bantuan logistik maupun kesehatan saja. Namun memerlukan sentuhan dari berbagai aspek, terutama pendampingan dalam kurun waktu tertentu.

"Di sana butuh teman yang hadir dalam jangka panjang, tidak hanya sekadar diberi bantuan makanan atau obat terus selesai," tuturnya.

Hendro Wartatmo, anggota tim Deru sekaligus dosen di Fakultas Kedokteran UGM menambahkan, antara kurang gizi dan penyakit campak yang berstatus KLB saling berhubungan.

"Kalau kurang gizi kejadian jangka panjang. Mengatasinya tidak hanya seminggu dua minggu saja. Kalau campak itu memang kejadiannya akut," katanya.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓