Tenun Lurik Yogya Pantang Dihantam Masa

Oleh Switzy Sabandar pada 01 Feb 2018, 07:02 WIB
Diperbarui 01 Feb 2018, 07:02 WIB
Tenun Lurik Yogyakarta
Perbesar
Satu-satunya usaha tenun lurik ATBM yang bertahan di Yogyakarta

Liputan6.com, Yogyakarta Puluhan mesin tenun dari kayu berderet rapi di ruangan berdinding tembok beralaskan semen. Siswoharjono duduk bertelanjang dada menarik mesin dengan kekuatan lengannya.

Rambut putih dengan tulang melekat jelas di balik kulitnya justru jauh dari kata renta ketika melihat laki-laki berusia 85 tahun itu dengan telaten menggerakkan alat tenun bukan mesin (ATBM) di hadapannya. Jalinan benang warna-warni perlahan menjadi lembaran kain lurik yang pantas dilirik.

Mbah Sis, sudah 40 tahun bekerja untuk keluarga almarhum Dibyo Sumarto. Ia menggantungkan hidup sebagai penenun di Kurnia Lurik, satu-satunya usaha tenun lurik di Yogyakarta, yang bertahan menggunakan ATBM.

Sayangnya, tidak ada satu pun anak maupun cucunya yang mengikuti jejak Mbah Sis sebagai penenun lurik.

"Mereka milih jadi pegawai," ucap laki-laki yang pernah mengikuti pelatihan tentara semasa pendudukan Jepang di Tanah Air ini.

Mbah Sis tidak punya pilihan lain untuk mencari uang. Ia hanya suka bekerja di pabrik tenun. Menurut dia, tidak perlu kepanasan atau kehujanan karena selalu berada di dalam ruangan. Sebelum di Yogyakarta, ia pernah bekerja di Solo, Jawa Tengah.

"Di tenun juga, saya sudah biasa menenun sejak kecil," tuturnya. Usia senja tidak bisa berbohong dalam mempengaruhi produktivitas. Dulu, ia bisa menenun 10 meter kain per hari. Saat ini, lima meter per hari saja sudah bagus. 

Meskipun demikian, semangat Mbah Sis untuk menenun selalu membara. Sekalipun, tangannya mulai bergetar saat menenun karena umur yang tidak lagi muda.

Mbah Sis merupakan penenun tertua di Kurnia Lurik. Saat wisatawan datang, ia menjadi salah satu objek yang paling dicari. Sekadar berfoto atau berbincang. Tamu-tamu yang merupakan wisatawan dari kota besar kerap heran melihat sosoknya yang masih kuat mengoperasikan alat tenun di usia senja.

2 dari 5 halaman

Sulitnya Regenerasi Penenun

Tenun Lurik Yogyakarta
Perbesar
Satu-satunya usaha tenun lurik ATBM yang bertahan di Yogyakarta

Kurnia Lurik berdiri pada 1962. Lokasinya dari dulu sampai sekarang masih sama, yakni di Krapyak Wetan, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dibyo Sumarto sudah wafat, tapi usahanya diwariskan kepada keturunannya. Saat ini, ada empat cucunya yang mengelola usaha itu.

Salah satunya bernama Afrian Irfani. Lelaki kelahiran 25 tahun silam ini bercerita sebelum membuka usaha tenun lurik ATBM, sang kakek bekerja di sebuah usaha tenun ATBM di Yogyakarta.

Berbekal kemampuan yang diperoleh selama bekerja, Dibyo pun memutuskan untuk berwirausaha. Dia berbagi tugas dengan istrinya, nenek Afrian. Dibyo mengurusi produksi tenun lurik ATBM di rumah, sedangkan istrinya berjualan tenun lurik di Pasar Beringharjo.

Semula hanya lima orang yang bekerja di Kurnia Lurik. Lambat laun jumlah pekerjanya bertambah hingga 50 orang penenun.

"Itu baru penenunnya saja, belum yang bagian lainnya," kata Afrian.

Sampai 2006, jumlah penenun turun drastis karena gempa Bantul. Tidak hanya tanah di kabupaten Projotamansari itu yang bergoyang, usaha tenun Lurik Kurnia ikut terguncang. Penenun di tempat itu berkurang 50 persen.

Afrian mengakui sulit mencari penenun baru. Pernah ada pelatihan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY, beberapa waktu lalu, yang mengumpulkan 10 penenun baru. Akan tetapi, hanya satu yang lolos dan itu pun tidak bertahan lama bekerja di Kurnia Lurik.

Bagi Afrian menenun bukan pekerjaan yang sederhana. Perlu ketelatenan dan ketepatan saat menarik mesin tenun. Jika tarikan terlalu pelan, hasil tenun renggang. Sebaliknya, jika tarikan kencang, tali benang menjadi kusut.

"Saya tahu teorinya, pernah mencoba tetapi terlalu kencang jadi kusut dan boros tali benang," ujarnya, sembari tertawa.

Regenerasi penenun menjadi pekerjaan rumah yang masih ditanggung Kurnia Lurik. Cara paling masuk akal saat ini adalah mendatangi keluarga-keluarga penenun yang saat ini masih bekerja di sana. Mereka ditawari untuk menjadi penenun.

"Kalau dari keluarga penenun harapannya sudah bisa atau setidaknya akrab dengan tenun jadi tidak perlu dari awal mengajari," ucap Afrian.

 

 

3 dari 5 halaman

Lurik Naik Kelas

Tenun Lurik Yogyakarta
Perbesar
Satu-satunya usaha tenun lurik ATBM yang bertahan di Yogyakarta

Lurik saat ini bisa dibilang naik kelas semenjak sejumlah desainer papan atas memakai lurik sebagai materialnya. Sebut saja Lulu Lutfi Labibi dan Edu Hutabarat.

Kain motif lurik berasal dari kata lorek atau kesederhanaan. Istilah ini juga bisa menggambarkan jalinan benang menjulur vertikal dengan dua atau lebih warna yang berbeda.

Motif kain lurik digunakan untuk seragam prajurit kerajaan Mataram yang saat ini dikenal dengan sebutan Keraton Yogyakarta.

"Ada juga yang dipakai abdi dalem Keraton namanya motif telupat didominasi warna hitam dan biru tua, intinya ini pakaian untuk kalangan menengah bawah saat itu," ujar Afrian.

Kurnia Lurik juga menjadi langganan para artis ibukota. Afrian menyebutkan baru-baru ini musikus Yovie Widianto yang berkunjung.

 

4 dari 5 halaman

Jadi Tujuan Wisata

Tenun Lurik Yogyakarta
Perbesar
Satu-satunya usaha tenun lurik ATBM yang bertahan di Yogyakarta

Harga kain tenun di Kurnia Lurik relatif terjangkau, berkisar Rp 35.000 sampai Rp 50.000 per lembar, tergantung lebar kain, 70 centimeter atau di atas 100 centimeter. Awalnya, kain tenun lurik yang dijual berwarna klasik, seperti hitam, cokelat, dan hijau. Seiring perkembangan zaman, warna lurik kian beragam dan nyaris tidak terbatas, sesuka hati pembuatnya.

Selain lembaran kain, ada juga yang sudah berbentuk pakaian perempuan dan laki-laki yang dijual mulai Rp 180.000 sampai Rp 250.000.

Dalam satu bulan, Kurnia Lurik bisa menelurkan 3.000 meter kain. Relatif kecil jika dibandingkan dengan kain tenun buatan pabrik. Perbandingannya, penenun lurik yang menggunakan ATBM rata-rata menghasilkan delapan meter kain per hari. Tenun lewat mesin pabrik bisa menciptakan 50 meter kain per hari.

"Kalau dari produksi jelas kami kalah, tetapi kami menekankan sisi tradisional sekaligus wisata, jadi wisatawan bisa melihat secara langsung pembuatan kain lurik ATBM," kata Afrian.

Kurnia Lurik mempromosikan produksinya lewat media sosial Instagram dan Facebook. Pelanggannya pun tersebar di seluruh Indonesia, bahkan juga ada yang dari luar negeri, seperti Jepang dan Polandia. Kebanyakan wisatawan mancanegara yang pernah berkunjung menularkan informasi soal tenun lurik ke kerabatnya.

 

5 dari 5 halaman

Proses Panjang Lurik ATBM

Tenun Lurik Yogyakarta
Perbesar
Satu-satunya usaha tenun lurik ATBM yang bertahan di Yogyakarta

Proses pembuatan lurik cukup panjang. Pertama, benang mentah diwarnai setelah itu didiamkan selama satu hari. Setengah hari dijemur di bawah sinar matahari, selebihnya cukup diangin-angin.

Benang yang sudah diwarnai masuk ke pemintalan. Kemudian, warna benang disusun membentuk motif yang dikenal dengan nama nyekir. Hasilnya kemudian dimasukkan ke alat tenun. Proses ini disebut nyucuk.

 

"Nyucuk harus helai demi helai," ucap Afrian. Setelah itu baru ditenun.

Kain tenun lurik juga membutuhkan perlakuan khusus, seperti direndam air sebelum dijahit, simpan dalam lemari yang tidak lembab, jemur di tempat yang teduh, dan hindari mencuci dengan deterjen keras.

Saksikan video menarik pilihan berikut ini:

 

 

Lanjutkan Membaca ↓