Buaya di Kolong Bekas Tambang Timah Bikin Resah

Oleh Liputan6.com pada 30 Jan 2018, 11:00 WIB
Diperbarui 14 Jul 2018, 11:54 WIB
Buaya

Liputan6.com, Bangka Tengah - Warga Kecamatan Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mulai resah karena buaya sering muncul di tepian mandi di lubang atau kolong bekas penambangan bijih timah .

"Dalam beberapa hari ini buaya sering muncul dengan panjang sekitar dua meter, jumlahnya lebih dari dua ekor," kata Bujang, warga setempat, Senin 29 Januari 2018, dilansir Antara.

Keresahan warga sangat beralasan terutama kalangan orang tua karena lubang atau kolong bekas penambangan bijih timah tersebut sering menjadi tempat mandi dan berenang anak-anak di desa tersebut.

"Biasaya lubang bekas tambang bijih timah dengan kedalaman sekitar dua meter ini sering dijadikan tempat mandi bagi anak-anak kampung sekitar sini," katanya.

Kemunculan buaya tersebut menimbulkan kekhawatiran dan keresahan warga terutama kalangan ibu-ibu karena sering membiarkan anak mereka mandi di kolong tersebut.

"Sejak seringnya muncul buaya tersebut maka kami melarang dan mengumumkan kepada orang kampung untuk tidak mandi di kolong yang lokasinya tidak jauh dari pemukiman penduduk karena khawatir menjadi mangsa buaya," katanya.

Prima, warga lainnya, mengaku sudah mencoba menangkap buaya itu bersama warga yang lainnya namun belum membuahkan hasil karena dinilai buaya itu cukup cerdik.

"Kami sudah mencoba dengan berbagai cara, termasuk memancing buaya itu dengan memberikan bangkai ayam namun tidak dimakan. Bahkan buaya itu tidak muncul saat itu," katanya.

Saksikan video pilihan di bawah ini: 

 

2 of 2

Operasi Penyelamatan Buaya Berkalung Ban

Kisah Nahas Buaya Berkalung Ban yang Sering Hebohkan Warga Palu
Foto yang diambil pada tanggal 27 Januari 2017 ini menunjukkan seekor buaya air asin berada di dalam air dengan kondisi lehernya terlilit ban di sungai Palu di Palu, Sulawesi Tengah. (AFP Photo/Arfa)

Belakangan ini buaya yang sedang jadi perhatian luas adalah buaya berkalung ban. Strategi untuk penangkapan buaya berkalung ban oleh tim penyelamatan dengan cara memasang perangkap masih belum membuahkan hasil.

Pada Minggu, 28 Januari 2018, perangkap yang sudah disediakan dengan memasang umpan satu ekor bebek hidup tak kunjung membuat buaya itu tertangkap.

"Belum masuk perangkap, tadi buaya hanya berada tepat di samping perangkap, dia mondar-mandir seperti mengejek," ujar Hartono warga sekitar yang menyaksikan proses pemasangan perangkap.

Upaya penyelamatan buaya oleh Panji Petualang diinisiasi oleh Jawa Pos Group. Rencananya, strategi baru akan terus diterapkan untuk menangkap buaya berkalung ban tersebut.

Dari pantauan Liputan6.com, terhitung buaya tersebut hanya melewati perangkap 4 sampai 5 kali. Bahkan sesekali posisi buaya hampir masuk dalam mulut perangkap. Namun, lagi-lagi urung.

Perangkap itu merupakan hasil pinjaman dari Dinas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulteng. Perangkap yang berbentuk hampir mirip perangkap tikus itu memiliki cara kerja persis perangkap tikus.

"Jadi cara kerja perangkap buaya berkalung ban itu sama dengan perangkap tikus. Kalau buayanya bisa masuk dalam perangkap dan memakan umpan bebeknya, maka otomatis pintu perangkap akan tertutup akibat tarikan buaya pada umpan itu," tutur Haruna dari BKSDA Sulteng kepada Liputan6.com, Senin (29/1/2018).

Sedangkan Panji mempertimbangkan, posisi perangkap akan diubah dari sebelumnya yang berada di darat agar bisa terapung di air.

"Untuk memudahkan buaya itu masuk ke perangkap," ujarnya.

Hingga kini Tim Jawa Pos yang dibantu Pol Airud Polda Sulteng terus memantau pergerakan buaya di sekitar tempat reklamasi. Mereka optimistis, beberapa waktu ke depan buaya berkalung ban tersebut akan masuk ke dalam perangkap dengan sendirinya, sehingga tim penyelamat bisa segera melepaskan ban dari leher sang buaya.

Lanjutkan Membaca ↓