Kampung Bakpia Jogja, Legenda yang Bertahan Melawan Zaman

Oleh Switzy Sabandar pada 26 Jan 2018, 10:31 WIB
Diperbarui 26 Jan 2018, 10:31 WIB
Kampung Bakpia Yogyakarta

Liputan6.com, Yogyakarta Kampung Bakpia di Yogyakarta tidak seramai dulu, sekalipun suasana dan aktivitas di setiap rumah yang berada di gang sempit itu masih sama. Aroma makanan berbahan baku tepung dan kacang hijau yang dipanggang menyeruak tatkala melangkahkan kaki di sepanjang Sanggrahan, Pathuk, Ngampilan.

Pada kanan dan kiri jalan terpasang plang merek bakpia. Beberapa menggunakan nama orang, tetapi lebih banyak yang memasang merek berdasarkan nomor rumah atau angka kesukaan mereka.

Di dalam rumah warga, orang-orang duduk berhadapan mengelilingi meja. Adonan kulit dan isi bakpia berwarna ungu dan kuning terang menggunung di depan mereka.

Dengan lincah, jari-jari itu membungkus isi dengan kulit bakpia. Warna ungu untuk adonan isi dari ubi ungu, sedangkan warna kuning terang merupakan adonan kacang hijau.

"Satu kampung ini memang usahanya bikin dan jual bakpia semua, bisa dihitung pakai jari yang tidak bikin bakpia itu pun karena bekerja sebagai PNS," ujar Anastasia Suryani, pemilik usaha Bakpia 757 Mayang, kepada Liputan6.com, Kamis (25/1/2018).

Perempuan berusia 47 tahun itu merupakan salah satu pembuat bakpia di kampung itu. Usahanya berdiri pada 1993, ketika ia mulai berumah tangga. Bakpia bukan hal baru dalam kehidupan ibu dari tiga anak ini. Ibunya lebih dulu memulai usaha ini sejak 1980. Adik bungsunya juga membuat bakpia, hanya saja beda merek.

Suaminya juga berasal dari keluarga pembuat bakpia. "Saya dapat (suami), tetangga sendiri," kenang Suryani.

 

 

2 dari 6 halaman

Bakpia Masih Jadi Idola

Kampung Bakpia Yogyakarta
Kampung bakpia di Yogyakarta mencoba bertahan di tengah gempuran toko oleh-oleh

Dalam sehari ia bisa menjual 100-150 dus bakpia. Kalau musim liburan, ia bisa menjual sampai 400 dus per hari. Biasanya, Suryani menitipkan kepada pedagang di seputar Pasar Beringharjo dan Malioboro. Harga bakpia beragam, tergantung ukuran dan rasa, mulai dari Rp 10.000 sampai Rp 25.000 per dus.

Untuk membuat 100 dus bakpia, ia membutuhkan sekitar 10 kilogram tepung terigu. Satu dus bakpia bisa berisi 15 sampai 20 buah bakpia. Semula, bakpia identik dengan isi kacang hijau, tetapi seiring dengan perkembangan zaman, isi bakpia lebih variatif. Konsumen bisa memilih rasa keju, cokelat, stroberi, green tea, dan sebagainya.

Bakpia pun ada dua jenis, kering dan basah. Bakpia basah bisa bertahan sampai seminggu, sedangkan yang kering bisa awet hingga tiga minggu.

 

3 dari 6 halaman

Kampung Bakpia Sepi Wisatawan

Kampung Bakpia Yogyakarta
Kampung bakpia di Yogyakarta mencoba bertahan di tengah gempuran toko oleh-oleh

Situasi sekarang berbeda dengan masa lalu, sebelum tahun 2000. Dulu, masih banyak wisatawan yang lalu lalang masuk ke Kampung Bakpia untuk membeli langsung dari pembuatnya.

Walaupun harganya sama, membeli langsung ke perajin bakpia lebih menyenangkan. Pasalnya, pembeli bisa melihat langsung cara pembuatan bakpia tersebut.

Jajanan itu juga bisa dinikmati dalam kondisi hangat. Fresh from the oven.

Suryani menilai, saat ini nyaris tidak ada wisatawan yang berjalan masuk ke Kampung Bakpia. Hal ini diperkirakan karena toko oleh-oleh di Yogyakarta menjamur. Pemiliknya berani memberikan uang tips lebih kepada pemandu wisata yang membawa rombongan wisatawan ke toko mereka.

"Kalau tidak punya toko ya harus aktif menitipkan ke pedagang supaya laku terjual," tuturnya.

 

4 dari 6 halaman

Tergabung dalam Koperasi

Kampung Bakpia Yogyakarta
Kampung bakpia di Yogyakarta mencoba bertahan di tengah gempuran toko oleh-oleh

Perajin bakpia rumahan di Yogyakarta tergabung dalam sebuah koperasi yang sudah berbadan hukum pada 2012. Sebelumnya, pada 1990-an mereka lebih dulu bernaung di dalam sebuah paguyuban. Koperasi bernama Sumekar itu terdiri dari 68 anggota.

Mereka kerap mendapat pelatihan dari dinas terkait dan difasilitasi sejumlah kegiatan. Tiga tahun lalu, grebeg bakpia pertama kali digelar.

Seharusnya, kegiatan itu menjadi perhatian tahunan yang mampu mengusung Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Ngampilan. Namun, kegiatan itu tidak diselenggarakan pada tahun lalu.

"Ada beberapa urusan yang membuat acara itu tidak terwujud pada 2017, salah satunya pergantian lurah," kata Suryani yang juga menjabat sebagai bendahara Koperasi Sumekar.

 

5 dari 6 halaman

Cerita Warga soal Asal Muasal Bakpia di Kampung Sanggrahan

Kampung Bakpia Yogyakarta
Kampung bakpia di Yogyakarta mencoba bertahan di tengah gempuran toko oleh-oleh

Sanggrahan dikenal sebagai Kampung Bakpia sejak 1980-an. Banyak cerita yang berkembang perihal orang yang pertama kali mengenalkan bakpia ke dalam kawasan itu.

Sumiati, Ketua Koperasi Sumekar, menceritakan kakak laki-lakinya yang bernama Suwarsono sebagai orang pertama di kampung itu yang membawa resep bakpia. Sonder, demikian sapaan Suwarsono, merupakan salah satu pekerja di Bakpia Pathuk 75. Dia mencoba membuat bakpia setelah mengetahui resep dan cara pembuatan dari tempatnya bekerja.

Sumiati pun melabeli tempat usahanya dengan Bakpia 543 Sonder. Nama Sonder seolah tidak bisa dilepaskan dari kampung bakpia sebagai salah satu orang yang ikut menyosialisasikan resep kue tersebut.

Di kampung itu juga ada perajin bakpia yang memiliki sekitar 20 karyawan. Namanya Bakpia Pathuk 52. Sastro Sariyem (77) merupakan pemilik usaha itu bercerita mendapatkan resep membuat bakpia dari pemilik Bakpia Pathuk 75. Kemudian, ia mengajarkan cara membuat bakpia kepada ibu-ibu PKK di kampung itu.

"Sebenarnya nomor rumah saya itu 522, tetapi ada yang bilang dua nomor saja untuk merek, akhirnya jadi Bakpia Pathuk 52," ucap Sariyem.

 

 

6 dari 6 halaman

Sang Pelopor

Kampung Bakpia Yogyakarta
Kampung bakpia di Yogyakarta mencoba bertahan di tengah gempuran toko oleh-oleh

Berbicara Bakpia Pathuk tidak bisa lepas dari Bakpia Pathuk 75. Semua orang percaya, produsen bakpia itu yang pertama kali berdiri di sana.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, bakpia masuk ke Yogyakarta dibawa oleh seorang Tionghoa bernama Kwik Sun Kwok pada 1940-an. Ia mencoba berdagang jajanan khas Tionghoa yakni bakpia.

Semula bakpia merupakan kue berisi bak atau daging babi. Akan tetapi, masyarakat Jawa yang tidak mengonsumsi daging babi membuat makanan itu mengalami akulturasi. Isinya bukan lagi daging babi, melainkan kacang hijau.

Cara memasaknya pun tidak lagi menggunakan minyak babi, melainkan dengan dipanggang menggunakan arang. Kwik membeli arang dari temannya yang juga seorang Tionghoa bernama Liem Bok Sing.

Kwik menjual bakpia dengan menyewa sebidang lahan dari orang Jawa bernama Niti Gurnito di kampung Suryowijayan.

Pada 1960-an, Kwik wafat. Niti Gurnito dan Liem membuat usaha bakpia di tempatnya masing-masing. Liem membuka toko bakpia di Jalan KS Tubun Nomor 75 yang kini dikenal dengan Bakpia Pathuk 75.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓