Menyerap Energi Cinta Pohon Pinus Pagi Hari

Oleh Edhie Prayitno Ige pada 26 Jan 2018, 06:00 WIB
Diperbarui 28 Jan 2018, 05:13 WIB
kragilan

Liputan6.com, Magelang Pohon pinus memiliki nama keren Pinus Merkusii. Pohon ini ditakdirkan lahir di dataran tinggi bersuhu rendah. Batangnya tegak mengais langit. Saat pagi, pepohonan pinus ini sering berkolaborasi dengan kabut pagi pegunungan, untuk mencipta harmoni alam.

Di hutan pinus Kragilan, Magelang, harmoni pinus, kabut, dan gunung sangat gampang ditemui. Bahkan ketika menuju lokasi saja, kita sudah harus mengenakan jaket tebal jika tak ingin kedinginan.

"Iya, apalagi musim hujan gini. Tapi enak kok," kata Benedicta Novin, seorang pengunjung asal Ngawen Muntilan.

Novin datang bersama beberapa temannya SMA. Mereka sengaja datang ke Pinusan Kragilan untuk menyerap energi cinta pepohonan pinus itu. Entah dapat cerita darimana, namun mereka meyakini hal itu.Menjadi tempat untuk berkumpul dengan teman-teman masa lalu sangat ideal. (foto: Liputan6.com/edhie prayitno ige)Fransiska Suharmi Pertiwi dan Hermawan yang datang rombongan dengan Novin menyebutkan bahwa energi cinta itu dibutuhkan agar persaudaraan yang terbina bisa lebih produktif jika dilandasi cinta.

"Saya pernah membaca bahwa di Korea, pohon pinus itu dijadikan lambang cinta. Ia kokoh kuat, menjulang dan tegak ke atas," kata Fransiska.

Karakter pinus Kragilan tak beda dengan hutan pinus lainnya. Hanya saja karena ini tanaman budidaya Perhutani, tentu lebih rapi. Jalan yang sudah diperkeras dengan beton yang membelah hutan itu memang sangat fotografis. Bahkan seperti lukisan. Semak berduri dan aneka rerumputan liar, tentu menjadi bagian harmoni alam.Pinus selalu menjulang tinggi dengan daun lembut seperti jarum. (foto: Liputan6.com/edhie prayitno ige)Energi cinta dan ketulusan pinus memang sangat terasa di Kragilan. Tempat di lereng gunung Merbabu ini, sejatinya sudah lama ada, namun baru belakangan saja dieksplorasi, sejalan dengan gaya hidup media sosial dan swa foto yang mengiringi.

"Kalau kita perhatikan, daun pinus itu senantiasa hijau. Ia menjadi coklat setelah jatuh. Perubahan warna itu kan ada di atas tanah, bukan kering baru kemudian gugur," kata Hermawan.

Ia menjelaskan fenomena itu ia tangkap sebagai sebuah semangat untuk selalu segar dan hidup. Melalui daun pinus itu pula Hermawan menangkap adanya energi untuk terus berkarya, berkarya, dan berkarya.

 

2 of 2

Cara ke Kragilan

kragilan
Elang Jawa yang hanya sepasang di daerah Dukun, Magelang kadang masih terlihathingga menjangkau wilayah ini. (foto : Liputan6.com/edhie prayitno ige)

Warga Kragilan memang sukses mengenalkan hutan pinus ini ke khalayak luas. Dengan nama resmi Top Selfie Kragilan sudah cukup populer bagi warga Magelang, Jogja, Boyolali dan sekitarnya.

Fasilitas yang ada sekarang pun sudah cukup komplit seperti toilet, warung penjual makanan dan minuman ringan, area parkir, beberapa tempat duduk untuk bersantai, dan juga rumah pohon.

Menuju sumber cinta pohon pinus ini, jika dari Magelang atau Muntilan naik menuju arah Ketep Pass. Dari Ketep lurus saja mengikuti jalan tersebut. Setelah berjalan sekitar 4 km, kita akan sampai gapura dengan tulisan Top Selfe Kragilan.Jika beruntung, di perjalanan akan kita temui terbitnya matahari. (foto : liputan6.com/edhie prayitno ige)Sedangkan jika dari Semarang, lewat jalur Kopeng hingga sampai di pertigaan arah Keteb Pass. Pelan saja, nanti gapura Top Selfie berada di kanan jalan. Namun hati hati jika melewati jalur kopeng karena jalanya cukup curam dan berkelok. Selain itu di beberapa titik terdapat lubang lubang.

Tiket masuk Top Selfie Pinusan Kragilan saat ini Rp 10 ribu/pengunjung. Selain itu bagi juga diwajibkan membayar uang parkir Rp 2 ribu. Dengan harga tiket masuk yang cukup murah dan tempatnya yang sejuk plus instagramable, tak ada alasan untuk tak berlibur di hutan pinus. 

Nah, kapan terakhir main ke hutan pinus?

Lanjutkan Membaca ↓