Selingkuh, Warga Bangkalan Dianiaya Pakai Bambu Runcing

Oleh Musthofa Aldo pada 26 Jan 2018, 00:04 WIB
Diperbarui 26 Jan 2018, 00:04 WIB
Penganiyaan Bangkalan
Perbesar
Polisi dari Polres Bangkalan saat mengevakuasi korban penganiayaan bernama Sirin warga Desa Bilaporah. (Humas Polres Bangkalan/Musthofa Aldo)

Liputan6.com, Bangkalan Suasana Desa Bilaporah Barat mencekam. Kabarnya, Rabu, 24 Januari 2018, selepas Duhur, seorang warga bernama Muhammad Sirin, 35 tahun, dianiaya beramai-ramai oleh tetangganya sendiri. Isunya, penganiayaan berat itu dilatari masalah perselingkuhan korban dengan istri salah satu pelaku.

Bilaporah terletak di Kecamatan Socah, sekitar 30 menit dari pusat kota Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur ke selatan arah Pelabuhan Kamal. Akses termudah ke TKP lewat Kampung Lengguleng, Desa Keleyan.

Ketika Liputan6.com meninjau tempat penganiayaan, terasa betul suasana mencekam itu. Warga yang duduk di teras rumah atau di warung menatap tajam seolah menembus kaca helm bila ada orang baru melintasi desa itu.

Kira-kira satu kilometer dari mulut Gang Pesakalan, melewati jalan kecil beraspal namun berkelok, tampak mobil polisi dengan lampu suar masih menyala. Garis polisi tampak dipasang memenglilingi sebuah pekarangan di kiri jalan. Ada tiga rumah dan sebuah langgar di pekarangan itu, di rumah yang terasnya berbentuk huruf L, Sirin dianiaya para pelaku.

"Kejadianya pas masuk waktu salat duhur," kata seorang polisi di TKP.

Yang ganjil, plafon rumah berbentul L itu rusak parah, jebol hampir di semua sisi. Pecahan asbes berserakan dilantai. Di halaman ada setumpuk potongan bambu. Kata polisi, bambu itu digunakan pelaku menjebol plafon.

"Korban sembunyi di plafon, makanya para pelaku merusak plafon agar korban keluar," ujar dia.

Setengah jam kemudian aparat dari Polsek Socah dan tim Buser Polres Bangkalan tiba di TKP mengevakuasi korban penganiyaan ke rumah sakit.

"Polisi naik tangga ke atap untuk evakuasi Sirin, tak ada warga bantu polisi, mungkin karena kasus perselingkuhan," kata polisi yang sama.

Kepergok Selasa Malam

Penganiayaan Bangkalan
Perbesar
Kapolres Bangkalan, AKBP Anissullah M Ridha menunjukkan barang bukti senapan angin dan senjata tajam yang digunakan menganiyaan Sirin. (Liputan6.com/Musthofa Aldo)

Ihwal kabar perselingkuhan itu, liputan6.com mendapat keterangan lebih rinci dari seorang warga sebut saja namanya Abdullah. Dia cerita pelaku penganiayaan tak lain tetangga Sirin sendiri dan masih ada hubungan keluarga. Rumah pelaku hanya berjarak 50 meter dari rumah korban.

Ceritanya, Selasa malam, 23 Januari 2018. Mul, 27 tahun, memergoki Sirin sedang berduaan dengan istrinya di rumah. Mendapati istrinya berselingkuh, Mul lantas memberitahu keluarganya. Mul dan istri Sirin masih sepupu.

Entah bagaimana respon keluarga setelah mendengar penuturan Mul itu. Yang pasti, esok harinya mereka beramai-ramai menyerang Sirin. Saat penyerangan, Hanifah, istri Sirin, tengah tertidur di ruang tamu Bersama anaknya yang masih berusia 7 tahun.

“Saya dibangunkan dan dibawa keluar oleh empat orang, saya lihat banyak orang di halaman, mereka pegang bambu, habis itu saya tak sadar, setelah sadar saya sudah berada di rumah nenek,” kata Hanifah seperti tertuang dalam laporan polisi.

Diduga, setelah Hanifah dan anaknya dievakuasi itulah, Sirin dianiaya para pelaku. Meski sempat diselamatkan polisi, namun menjelas sore, Sirin meninggal di ruang IGD RSUD Syamrabu. Dia terluka parah di kepala belakang, telinga kanan, punggung belakang dan sejumlah luka tusuk dipinggang

“Setelah sadar, sore saya ke rumah sama nenek, plafon sudah hancur semua,” tutur Hanifah.

 

Dua Pelaku Ditangkap

Penganiayaan Bangkalan
Perbesar
Bapak dan anak jadi tersangka dalam kasus penganiyaan di Bangkalan. (Liputan6.com/Musthofa Aldo)

Sembilan jam setelah penganiayaan, sekira pukul 20.30 wib, Rabu malam. Dua pelaku penganiyaan Sirin yaitu Mulyadi, 27 tahun dan Hamsah, 44 tahun ditangkap di satu rumah di Bilaporah. keduanya berstatus bapak dan anak.

“Mereka masih diperiksa secara intensif, untuk mengungkap para pelaku lain,” kata Kapolres Bangkalan, AKBP Anissullah M Ridha, Kamis, 25 Januari 2018.

Kepada penyidik, tersangka Mulyadi menuturkan Sirin kepergok berduaan di rumah mertuanya di Desa Lengguleng sekitar pukul 03.00 WIB selasa dini hari. Saat itu, dia langsung mengambil celurit untuk menghabisi Sirin. Namun berhasil kabur.

“Saya lalu ceritakan ke bapak, dan sepakat mendatangi Sirin esok harinya,” tutur Mulyadi.

Sebelum menyerang Sirin, Mulyadi mengamati lebih dahulu aktivitas di rumah korban. Setelah, dipastikan Sirin berada di rumah, mereka mendatanginya. Namun hanya berjumpa istri dan anak Sirin. Istri Sirin pun diminta pergi menjauh baru kemudian menyerang.

Setelah rumah digeledah Sirin tak temukan, ternyata korban diketahui sembunyi di Plafon. Para pelaku lantas mengambil bambu dan menjebol asbes. Karena terdesak, Sirin berhasil keluar dari plafon dan pindah ke atap. Melihat Sirin di atap, seorang pelaku menembaki sirin dengan senapan angin.

Tak puas, para pelaku kemudian mengambil tangga dan naik ke atap. Saat itulah Sirin dibacok hingga terkapar. Setelah diperkirakan tewas, para pelaku kemudian meninggalkan lokasi.

“Saya tidak menyesal, saya puas menghabisi dia, karena sudah selingkuh dengan istri saya, saya siap menanggung hukuman apa pun,” tutur tersangka Mulyadi.

Saksikan video pilihan berikut ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓