Warga Lawan Aksi Sweeping FPI, 10 Orang Terluka

Oleh Liputan6.com pada 22 Jan 2018, 20:41 WIB
Diperbarui 22 Jan 2018, 20:41 WIB
demo-fpi-4-130610c.jpg
Perbesar
Aksi unjuk rasa, berkaitan dengan bentrokan yang dipicu sengketa lahan di Alam Sutera, Kampung Paku Alam, Serpong, Tangerang, Kamis (6/6) lalu. (Liputan6.com/Panji Diksana)

Liputan6.com, Pamekasan - Aksi penyisiran Laskar Pembela Islam (LPI) di Desa Ponteh, Kecamatan Galias, Pamekasan, Madura berujung mendapat perlawanan balik dari warga. Aksi penyisiran lembaga yang bernaung di bawah Front Pembela Islam (FPI) itu berujung bentrok. Akibatnya, sepuluh orang mengalami luka termasuk ibu rumah tangga dan anak-anak.

Kasat Reskrim Polres Pamekasan, AKP Hari Siswo mengatakan, aksi penyisiran itu dilatarbelakangi adanya dugaan bahwa di Desa Pontoh terjadi praktik prostitusi ilegal.

Tetapi, Hari menilai, penyisiran yang dilakukan LPI itu berada di luar kewenengananya sebagai organisasi masyarakat. Oleh karena itu pihaknya akan mengusut tuntas kasus bentrokan yang mengakibatkan sepuluh orang terluka itu.

"Kasus LPI ini sama halnya dengan mengabaikan peran aparat keamanan dan aparat penegak hukum di negeri ini," ujarnya, sebagaimana dilansir Antara, Senin (22/1/2018).

Saat ini, polisi sudah mengantongi beberapa bukti dalam kasus bentrokan tersebut. Sejumlah barang bukti yang telah dikantongi petugas, menurutnya adalah pecahan kaca mobil LPI yang dirusak warga, beberapa pentungan yang diduga dibawa Laskar Pembela Islam saat penyisiran, serta alat serbuk cabai yang digunakan pasukan LPI saat melakukan penyisiran.

Hari menyebutkan, lima orang warga yang menjadi korban bentrokan di antaranya, Agus Aini (35), Satruki (45), Hamidi (28), dan Suramlah (55). Jumlah lainnya masih tergolong anak-anak.

"Kelima orang ini, semuanya warga Dusung Langtolang, Desa Ponteh, Kecamatan Galis," kata Hari Siswo.

Agus Aini mengalami pingsan saat kejadian, karena hendak dibawa paksa oleh pasukan LPI, Satuki mengalami luka memar di kepala bagian atas dan dahi, karena terkena pentungan, sedangkan Hamidi hanya mengalami perih di mata karena tersiram air cabai.

Sementara Hamid, mengalami luka di bagian dada dan Suramlah mengalami "shock" karena pada saat kejadian hampir dipukul oleh kelompok ormas LPI.

2 dari 3 halaman

Korban Anak-Anak Masih Trauma

fpi-bentrok-130606d.jpg
Perbesar
Aksi unjuk rasa, berkaitan dengan bentrokan yang dipicu sengketa lahan di Alam Sutera, Kampung Paku Alam, Serpong, Tangerang, Kamis (6/6) lalu. (Liputan6.com/Panji Diksana)

Sejumlah anak-anak di Desa Ponteh Pamekasan, Jawa Timur yang menjadi korban bentrok antara ormas Laskar Pembela Islam (LPI) dengan warga desa Jumat, 19 Januari 2018hingga kini masih mengalami trauma.

Anak-anak di Desa Ponteh yang mengalami trauma itu yang menyaksikan secara langsung kejadian kasus kekerasan antara LPI dengan warga.

"Soalnya saat kejadian, ada kegiatan ulang tahun anak di rumah, dan tiba-tiba segerombolan orang berbaju serta putih datang dan menyeret perempuan yang datang ke rumah mengantar anak-anak mereka pada acara ulang tahun itu," kata warga di desa itu, Agus Aini, Minggu.

Laskar Pembela Islam (LPI) itu menduga kerumunan kaum perempuan di Dusun Langtolang, Desa Ponteh, Kecamatan Galis, Pamekasan itu adalah pekerja seks komersial (PSK).

"Padahal, ibu-ibu yang ada saat itu yang diundang pada hajatan ulang tahun," ujarnya menjelaskan.

Akibat aksi gerombolan berbaju putih itu, warga dan tetangga Agus Aini langsung membela ibu-ibu tersebut sehingga bentrok antara LPI dengan warga tidak terhindari.

"Anak-anak banyak ketakutan, menangis histeris, karena situasinya seperti sedang carok, apalagi pasukan LPI itu membawa pentungan," ujar Agus Aini sebagaimana dilansir Antara.

Sebelumnya, Panglima LPI Madura Abd Aziz Muhammad Syahid mengatakan aksi penyisiran di Desa Ponteh, Kecamatan Galis, Pamekasan yang dilakukan itu, sebagai upaya untuk mengamalkan ajaran Islam, yakni "memerintahkan pada kebaikan dan memberantas berbagai bentuk kemungkaran".

Kedatangan LPI ke Dusun Langtolang, Desa Ponteh, Kecamatan Galis, Pamekasan itu, menurut dia, karena di desa itu, ada salah satu rumah warga yang menjadi tempat prostitusi ilegal.

"Ini jelas bertentangan dengan syariat Islam, serta visi misi Kabupaten Pamekasan yang telah menjalankan syariat Islam melalui program Gerakan Pembangunan Masyarakat Islami (Gerbang Salam)," ujar Aziz.

Sebelum melakukan penyisiran, pihaknya mengaku telah meminta pemkab dan aparat penegak hukum melakukan penertiban berbagai jenis penyakit masyarakat yang ada di Pamekasan, akan tetapi tidak diindahkan.

Ia juga membenarkan mengenai adanya anggota laskar yang terluka dalam bentrok yang terjadi di rumah prostitusi di Desa Ponteh, Kecamatan Galis, Pamekasan. Sementara itu, Kapolres Pamekasan AKBP Teguh Wibowo menyatakan, telah memproses kasus bentrok antara LPI dengan warga Desa Ponteh, Kecamatan Galis, Pamekasan, Madura yang terjadi Jumat.

"Kami telah mengumpulkan barang bukti yang ditemukan di lokasi bentrok, termasuk menyita mobil ormas Islam tersebut yang dirusak massa saat kejadian berlangsung," katanya, menjelaskan.

3 dari 3 halaman

Polisi Akan Segera Usut Kasus Bentrokan

VIDEO: FPI Bentrok dengan Pekerja Lokalisasi Balong Cangkring
Perbesar
Kedatangan FPI terkait dengan Balong Cangkring yang semula adalah tempat rehabilitasi tuna susila, malah menjadi lokasi prostitusi.

Polres Pamekasan, Jawa Timur, mulai mengusut kasus bentrokan antara Laskar Pembela Islam (LPI) dan warga Desa Ponteh, saat ormas itu melakukan penyisiran tempat prostitusi di desa itu pada Jumat, 19 Januari 2018.

"Kami telah mengantongi sejumlah barang bukti dalam kasus bentrok antara ormas LPI dengan warga," ujar Kapolres Pamekasan AKBP Teguh Wibowo di Pamekasan, Sabtu.

Polisi juga telah mengidentifikasi koordinator kedua belah pihak, baik dari LPI maupun warga.

Sejumlah anggota LPI dilaporkan mengalami luka-luka akibat bentrok dengan warga Desa Ponteh, Kecamatan Galis, Pamekasan sekitar pukul 13.30 WIB.

Sebanyak enam unit mobil LPI juga dirusak warga saat masuk tanpa izin ke rumah warga yang ditengarai sebagai tempat prostitusi di Kabupaten Pamekasan ini.

Warga melakukan perlawanan atas aksi yang dilakukan laskar berseragam dengan lambang LPI ini, karena mereka masuk ke rumah warga tanpa izin dan melakukan penggeledahan, sedangkan yang bersangkutan bukan pihak berwenang.

Sementara itu, Panglima LPI Madura Abd Aziz Muhammad Syahid mengatakan, aksi penyisiran yang dilakukan itu, karena pihaknya tidak ingin Kabupaten Pamekasan menjadi tempat maksiat.

Pamekasan, kata dia, merupakan kabupaten di Pulau Madura yang telah memiliki kebijakan politik dalam menerapkan syariat Islam melalui program gerakan pembangunan masyarakat Islami (gerbang salam).

"Maka hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam harus digusur dari Bumi Pamekasan ini," ujar Aziz.

Panglima Laskar yang juga pengasuh pondok pesantren di Pamekasan itu lebih lanjut menjelaskan, sebelum melakukan penyisiran, pihaknya telah meminta pemkab dan aparat penegak hukum melakukan penertiban berbagai jenis penyakit masyarakat yang ada di Pamekasan, akan tetapi tidak diindahkan.

Ia juga membenarkan mengenai adanya anggota laskar yang terluka dalam bentrok yang terjadi di rumah prostitusi di Desa Ponteh, Kecamatan Galis, Pamekasan. "Sekitar lima orang dirawat di rumah sakit. Ada sebagian yang dirawat di rumah masing-masing. Ada yang patah tulang, bocor kepala, gigi rontok, dan luka-luka," katanya.

Abd Aziz Muhammad Syahid lebih lanjut menjelaslan, selain menyebabkan anggota laskarnya luka-luka, kasus bentrok antara LPI dengan warga itu juga menyebabkan dua mobil yang digunakan LPI saat melakukan penyisiran tempat prostitusi juga dirusak massa.

"Terkait perusakan ini, kami masih akan melakuan upaya hukum dengan melaporkan kasus ini ke Mapolres Pamekasan," ujarnya.

Saksikan video pilihan berikut:

Lanjutkan Membaca ↓