Balita Bicara Pernikahan Dini dengan Cap Tangan Warna-warni

Oleh Muhamad Ridlo pada 22 Jan 2018, 11:30 WIB
Diperbarui 24 Jan 2018, 11:13 WIB
Cap tangan anak-anak untuk kampanye pola asuh dan asupan gizi. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Cilacap - Puluhan pasang cap tangan mungil warna-warni tercetak pada selembar kain putih di Balai Desa Grugu, Kecamatan Kawunganten, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Lewat cap tangan itu, anak-anak bersuara soal pernikahan dini, pola asuh, gizi buruk, dan perhatian orangtua.

Barangkali, alam pikir anak-anak ini tak menjangkau penyebab banyaknya anak-anak penderita gizi buruk di kampung mereka. Mereka juga sama sekali tak tahu bahwa salah satu temannya memiliki orangtua yang merupakan pasangan yang terlampau muda untuk membina rumah tangga.

Namun, yang pasti ada sebagian kecil dari mereka yang menjadi korban ketidaktahuan, bahwa pernikahan dini berimbas pada kehidupan anak-anak.

Cap tangan yang digagas oleh Keluarga Mahasiswa Gadjah Mada (Kagama) dalam rangka menyambut hari gizi dan kampanye pola asuh itu juga tak muncul tiba-tiba. Pada mulanya, para mahasiswa hanya ingin menyosialisasikan pola asuh ideal orangtua pada anak.

Informasinya, sosialisasi kesehatan di Desa Grugu sangat minim. Pasalnya, Desa Grugu merupakan wilayah yang tak mudah dijangkau dan jauh dari akses kesehatan.

Namun, apa yang didapati pada masa pengenalan anak (screening) sungguh memprihatinkan. Mereka menemukan ada persoalan lebih pelik terjadi di Desa Grugu. Dari 60 anak yang di-screening, enam di antaranya terindikasi gizi buruk, sedangkan dua lainnya mengalami gizi kurang.

Studi menunjukkan ada korelasi antara gizi buruk dengan pernikahan dini, sebagai salah satu pemicunya. Usia orangtua yang tergolong belia, 16-20 tahun, pengetahuan dan kesadaran dalam mengasuh anak tergolong rendah.

2 of 3

Pernikahan Dini Berimbas pada Buruknya Pola Asuh Anak

Lewat cap tangan, anak-anak bersuara soal gizi, pola asuh dan pernikahan dini. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Lewat cap tangan, anak-anak bersuara soal gizi, pola asuh dan pernikahan dini. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Angka 13 persen gizi buruk dan gizi kurang, memang belum bisa memberikan keseluruhan kondisi sebernanya. Apalagi, sampel hanya diambil dengan metode random, atau yang berhasil dijangkau.

Namun, angka itu sekaligus peringatan bahwa anak-anak membutuhkan asupan gizi yang cukup dan itu hanya bisa didapat dari pola asuh dan perhatian penuh orangtuanya.

Orangtua muda juga belum punya mental untuk merawat anak. "Jadi anak asupan gizinya kurang diperhatikan. Ini persoalan yang kami temukan," ucap Ketua panitia program Serunya Mengenal dan Berbagai (Serambi) 2018 Kagama, Akbar Insan Kamil, Minggu, 21 Januari 2018.

Demi mendorong peningkatan pengetahuan itu, anak dan orangtua dilibatkan dalam kegiatan edukasi tentang pola asuh yang dibalut lewat kegiatan menarik, mulai nonton film bersama hingga ajang kreativitas mewarnai.

Orangtua diminta berkomitmen untuk memperhatikan pola asuh. Lewat aksi cap tangan anak pada lembar kain yang dipasang di balai desa itu, anak-anak mengingatkan bahwa orangtua mesti memperhatikan asupan gizi dan meningkatkan perhatian kepada mereka.

3 of 3

Pasangan Muda Pasrahkan Anak kepada Kakek dan Nenek

Aktivis membimbing anak-anak untuk mencetak cap tangan di lembar kain putih. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Aktivis membimbing anak-anak untuk mencetak cap tangan di lembar kain putih. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Kepala Desa Grugu, Nasem mengakui pernikahan dini di desanya tergolong tinggi. Imbasnya, kesiapan ekonomi dan mental pasangan pun amat minim.

Desa Grugu adalah daerah dataran rendah berrawa yang dipengaruhi pasang surut air laut. Di desa ini, pekerjaan utama 4.000 warganya adalah petani dan nelayan. Bagi anak muda, pekerjaan itu tak diminati dan dianggap tak menjanjikan penghasilan tinggi.

Lantaran tak memiliki pendapatan, ibu yang menikah dini ini terpaksa mendulang nasib dengan menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Adapun sang suami, biasanya berjibaku di Jakarta, bekerja apa saja.

Bayi-bayi yang baru dilahirkan terkadang ditinggal tanpa asupan air susu ibu (ASI). Anak-anak itu lalu dititipkan kepada kakek-neneknya. Akibatnya, perhatian dan asupan gizi anak-anak terbengkalai.

"Ada juga remaja yang 16 tahun sudah menikah. Pasangan ada yang jadi TKI atau merantau ke luar negeri. Anak-anak ditinggal," tutur Nasem.

Lantaran diasuh kakek neneknya, bayi dan balita tak mendapat pengsuhan secara optimal. Pengasuhan terbagi dengan pekerjaan sebagai buruh tani di sawah. Gizi buruk dan gizi kurang pun tak terhindarkan.

Lanjutkan Membaca ↓