Tanah Bergerak di Banjarnegara, Pelajar Terobos Belantara

Oleh Muhamad Ridlo pada 21 Jan 2018, 09:00 WIB
Diperbarui 21 Jan 2018, 09:00 WIB
Anak-anak sekolah harus meniti jalur licin di tengah belantara menuju sekolah. (Foto: Liputan6.com/SRU RAPI/Muhamad Ridlo)
Perbesar
Anak-anak sekolah harus meniti jalur licin di tengah belantara menuju sekolah. (Foto: Liputan6.com/SRU RAPI/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Banjarnegara - Bencana longsor dan gerakan tanah terjadi di Desa Suwidak dan Bantar Kecamatan Wanayasa, Banjarnegara, Jawa Tengah pada 22 November 2017 dan 7 Januari 2018 menyebabkan puluhan keluarga diungsikan.

Selain itu, ratusan keluarga lainnya terisolir lantaran putusnya jalur penghubung antara Desa Suwidak dengan Kota Kecamatan. Aktivitas warga pun terganggu. Ini termasuk pelajar yang saban hari mesti ke sekolah.

Puluhan pelajar setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) dari Desa Suwidak terpaksa menerobos hutan belantara untuk menuju sekolahnya yang berada di Kota Kecamatan Wanayasa.

Mereka harus berjalan kaki sejauh 3 kilometer untuk sampai ke titik penjemputan terdekat. Padahal, Banjarnegara dikenal sebagai daerah dengan curah hujan tinggi. Tak jarang, para pelajar berjibaku dengan hujan deras dan petir yang menyambar-nyambar saat mereka masih berada di tengah belantara.

Ini terjadi lantaran zona gerakan tanah mencapai belasan hektare. Penduduk enggan melewati jalur yang rawan longsor. Mereka lebih memilih memutar dengan jalur setapa di tengah belantara.

Tak hanya orang tua yang cemas. Marabahaya yang mesti dihadapi para pelajar pemberani ini pun memicu keprihatinan berbagai pihak, termasuk pemerintah desa dan Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGRI).

Pasalnya, tak jauh dari jalan alternatif itu, longsor menyebabkan puluhan keluarga Dusun Pramen Desa Bantar mengungsi ke dusun lain.

2 dari 3 halaman

Anak Sekolah Harus Dikostkan

Anak-anak sekolah harus meniti jalur licin di tengah belantara menuju sekolah. (Foto: Liputan6.com/SRU RAPI/Muhamad Ridlo)
Perbesar
Anak-anak sekolah harus meniti jalur licin di tengah belantara menuju sekolah. (Foto: Liputan6.com/SRU RAPI/Muhamad Ridlo)

Mereka di-kos-kan di rumah penduduk sekitar sekolah. Tercatat, sebanyak 94 siswa SMP dan SMA asal Desa Suwidak terpaksa tinggal di rumah kost, baik di Kecamatan Karangkobar maupun Wanayasa.

"Dibantu dari PGRI Banjarnegara dan donatur. Sebagian biaya hidup siswa di kost ditanggung oleh mereka," tutur Kepala Desa Suwidak Arif Santosa, Sabtu, 20 Januari 2018.

Dia tak bisa memastikan sampai kapan anak-anak desa ini harus tinggal di rumah kost. Pasalnya, hingga saat ini belum ada kabar kapan jalan yang putus akan diperbaiki.

Tak hanya anak SMP, anak sekolah dasar (SD) di Desa Suwidak yang berada di Dusun Ngaliyan, Banjarnegara pun terpaksa memutar 1,5 kilometer menuju sekolahnya. Mereka terpaksa meniti jalur licin dan curam di lereng perbukitan untuk menuju sekolah.

Warga tak berani membuka jalur baru yang berdekatan dengan jalan utama. Selain curam, area di sekitar longsoran juga masih labil dan berisiko tinggi terjadi longsor atau gugur susulan.

"Jangankan membuat jalur, mendekat saja warga takut. Soalnya tanahnya sangat labil," Arif menjelaskan.

3 dari 3 halaman

Waktu Perbaikan Jalan Putus Belum Pasti

Longsor memutus jalur satu-satunya di Dusun Pramen Suwidak, Banjarnegara. (Foto: Liputan6.com/SRU RAPI/Muhamad Ridlo)
Perbesar
Longsor memutus jalur satu-satunya di Dusun Pramen Suwidak, Banjarnegara. (Foto: Liputan6.com/SRU RAPI/Muhamad Ridlo)

Kepala Desa Bantar, Eko Purwanto menjelaskan, gerakan tanah yang terjadi di Desa Bantar tak terjadi secara tiba-tiba. Menurut dia, gerakan tanah ini sebelumnya sudah pernah terjadi dan merusak sejumlah rumah di Dusun Sikenong dan Pramen.

Pergerakan tanah ini telah dirasakan warga sejak Minggu pagi (7/1/2018) sekitar pukul 10.00 WIB, ditandai dengan rekahnya badan jalan aspal. Pukul 13. 00 WIB tanah di jalan itu anjlok sedalam 1 meter.

"Rekahan sempat ditutup dengan tanah agar bisa dilalui kendaraan," kata Eko.

Namun, tanah terus bergerak hingga malam dan mencapai kedalaman 2 meter. Jalan putus total sekitar pukul 19.00 WIB.

Akibatnya, Dusun Sikenong yang dihuni 185 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 600 jiwa pun terisolir. Mereka tak bisa keluar dusun lantaran tak ada jalur alternatif yang bisa dilalui.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara, Arif Rachman mengklaim telah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) untuk mengecek jalan yang putus antara Desa Bantar menuju Desa Suwidak.

Mempertimbangkan pentingnya jalan bagi warga, ia pun mendesak agar PU segera memperbaiki jalur ini. Namun, kemungkinan besar penanganan baru akan dikerjakan setelah gerakan tanah berhenti.

"Sudah berkoordinasi dengan DPU agar segera tertangani," ucap Arief Rachman.

 

Lanjutkan Membaca ↓