Pertemuan Seronok Mahasiswa 'Upin-Ipin' dengan Santri Cilacap

Oleh Muhamad Ridlo pada 18 Jan 2018, 11:30 WIB
Diperbarui 28 Jan 2021, 23:12 WIB
Mahasiswa dan Atase Kedubes Malaysia berdialog dengan santri Pesantren El Bayan. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Perbesar
Mahasiswa dan Atase Kedubes Malaysia berdialog dengan santri Pesantren El Bayan. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Cilacap - Seperti biasa, pukul 15.00 WIB adalah waktunya santri-santri di Pondok pesantren modern El Bayan Majenang, Cilacap, mengikuti kelas Madrasah Diniyah (Maddin). Dengan khidmat, ratusan santri Diniyah Ula dan Wustho yang terbagi di puluhan kelas itu mendengarkan paparan sang ustaz.

Akan tetapi, suasana itu berubah menjadi kehebohan kecil kala sejumlah mahasiswa asal negerinya Upin-Ipin, Malaysia, memasuki salah satu ruangan kelas putri. Mereka pun memperkenalkan diri dan memaparkan tujuan kunjungan.

Bukannya menyimak dengan tenang, para santri putri pesantren modern itu justru sibuk kasak-kusuk antar sesamanya. Mereka saling pandang satu sama lain dan tertawa cekikikan.

Barangkali, para santri putri ini merasa aneh ketika tiba-tiba serombongan tamu dengan bahasa Melayu memasuki ruangan mereka. Mungkin juga, mereka merasa bertemu dengan kawannya Upin-Ipin.

Pemisahan santri putra dan putri ini juga berlaku untuk El Bayan yang telah mengadopsi sistim pesantren modern. Di pesantren ini, pendidikan keagamaan yang dengan metode tradisional dikombinasikan dengan pendidikan formal.

Mahasiswa asal Malaysia yang tengah belajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung, Ramdhan, berujar mereka ingin mengenal dan mempelajari pola belajar pesantren modern di Indonesia. Malahan beberapa di antaranya bakal diadopsi di Malaysia.

"Ya kami bersilaturahmi dan mengenal kehidupan pesantren," ucapnya, Rabu sore, 17 Januari 2018.


Program Pertukaran Pelajar dan Mahasiswa Sudah, Pertukaran Santri?

Pentas Tari Saman oleh santri-santri Elbayan. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Perbesar
Pentas Tari Saman oleh santri-santri Elbayan. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Ramdhan adalah mahasiswa yang mengikuti program pertukaran mahasiswa Indonesia-Malaysia. Dia bersama dengan sembilan mahasiswa Persatuan Kerja Sama Malaysia Indonesia (PKMI) berkunjung ke Pesantren El Bayan bersama dengan Atase Keagamaan Kedutaan Besar (Kedubes) Malaysia untuk Indonesia.

Atase Keagamaan Kedubes Malaysia, Zainal Abidin bin Arifin, mengakui hingga saat ini belum ada kerja sama tukar santri antar dua negara. Namun, di masa depan, tak menutup kemungkinan untuk menggelar program itu seperti program pertukaran pelajar atau mahasiswa yang kini telah berjalan.

Lantaran belum ada kerja sama itu, tak jarang ditemui kendala mengurus visa bagi santri asal Malaysia yang hendak belajar di pesantren Indonesia.

“Tentang masalah visa yang dihadapi oleh santri, khususnya yang ingin belajar di pesantren. Insyaallah, menerusi kunjungan, kita dapatkan input, dan kita berbincang dan mengemukakan ke pihak yang berwenang,” Zainal menjelaskan.

Ia pun optimistis program itu akan berjalan di masa mendatang. Apalagi, ia mendapati ada kombinasi menarik antara pendidikan keagamaan dengan pendidikan modern berupa sekolah formal, mulai dari sekolah umum dan kejuruan di pesantren ini.

Hasil kunjungan ini penting untuk membuka kemungkinan agar santri-santri di Malaysia belajar di pesantren seperti di El Bayan yang memiliki institusi pendirian lengkap.

"Cuma, kalau dari segi institusi pendidikan pesantren Indonesia Malaysia Indonesia itu belum ada mekanisme yang khusus. Seperti mengurusi visa, masalah pemilihan pelajar dan sebagainya," dia menerangkan.


El Bayan, Gabungkan Pesantren Tradisional dengan Pendidikan Modern

Santri Zaman Now di El Bayan tetap memakai sandal jepit dan sarung. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Perbesar
Santri Zaman Now di El Bayan tetap memakai sandal jepit dan sarung. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Ketua Yayasan El Bayan Majenang, KH DR Fathul Amin Aziz, mengatakan sejauh ini ada dua santri asal Malaysia yang belajar di El Bayan. Santri pertama kini telah lulus Aliyah (SLTA) dan melanjutkan ke perguruan tinggi di tempat lain. Adapun santri kedua saat ini tengah belajar setingkat Tsanawiyah atau SLTP.

Aziz mengungkapkan, santri pertama tak mengalami kendala ketika mengurus atau memperpanjang visa belajar. Namun, santri kedua, kesulitan untuk memperoleh dan memperpanjang visa belajar.

Dia pun berharap kunjungan Atase Keagamaan Kedubes Malaysia itu bakal mempermudah santri kedua negara untuk memperoleh visa belajar di pesantren.

"Mudah-mudahan ada semacam perjanjian dua negara untuk mempermudah santri dari Malaysia belajar di Indonesia dan sebaliknya," ucap Aziz.

Aziz menjelaskan, pesantren Elbayan berdiri pada 1931 atau nyaris berusia seabad. Mulai tahun 1980-an pesantren mulai mengadopsi pendidikan formal, dengan mendirikan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau SD.

Kemudian pada 1990-an didirikan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Selanjutnya, pada tahun 2000-an didirikan lagi dua pendidikan setingkat SLTA dan kejuruan, yakni MA Elbayan dan SMK Komputama. Di tahun-tahun yang sama, El Bayan juga mendirikan kursus komputer.

Saat ini, El Bayan tengah mendirikan Sekolah Tinggi Manajemen Ilmu Komputer (STMIK). Rencananya, tahun ajaran 2018, perguruan tinggi sudah mulai menerima mahasiswa.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya