Kisah Tragis Pria Kupang pada Malam Pergantian Tahun

Oleh Ola Keda pada 03 Jan 2018, 17:30 WIB
20151006-Kabut asap

Liputan6.com, Kupang - Abdul Haris Kadir (38), warga RT 39 RW 13 Kelurahan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), ditemukan tewas pada Minggu, 31 Desember 2017. Haris meninggal dengan luka robek pada perut sebelah kanan.

Kejadian itu berawal sekitar pukul 13.00 Wita. Korban bersama beberapa rekannya mengonsumsi minuman keras di depan rumah kos milik Fence Adam di RT 37 RW 12 Kelurahan Oesapa.

Karena hujan, korban bersama rekannya membubarkan diri. Korban bersama dua rekannya, Ricky Tutpai dan Herman Lapi, memilih berteduh di rumah kos. Adapun, rekan korban lainnya berteduh di kuburan yang berada di samping rumah kos.

Entah apa penyebabnya, tiba-tiba rekan pria Kupang itu, Ricky Tutpai dan Herman Lapi Besi, berteriak meminta pertolongan. Rekan korban lainnya dan masyarakat yang tak jauh dari lokasi kejadian mendatangi TKP dan mendapati korban terluka parah.

"Korban sempat dilarikan ke RS SK Lerik oleh rekan korban dan masyarakat setempat, namun tidak bisa tertolong," ujar Kapolsek Kelapa Lima, AKP Didik Kurnianto kepada Liputan6.com, Senin, 1 Januari 2018.

Polisi langsung memeriksa lokasi tempat Abdul Haris meninggal jelang malam tahun baru. Ada 20 orang saksi juga diperiksa."Pihak keluarga korban juga sudah membuat laporan polisi," ucap Didik.

 

 

2 of 2

Penyebab Kematian

Petasan, Kembang Api dan Mercon
Ilustrasi Foto Petasan (iStockphoto)

Berdasarkan pemeriksaan, polisi memastikan kematian Abdul Haris Kadir (38) karena ledakan petasan. Berdasarkan hasil autopsi di Rumah Sakit Bhayangkara Titus Uly, korban terkena serpihan seng akibat ledakan petasan.

"Korban sedang berteduh karena hujan, kemudian ada lemparan petasan dan kena di seng rumah warga. Waktu petasannya meledak, korban terkena serpihan seng dan seng itu melekat di perutnya," ujar Didik di Kupang, Rabu (3/12/2018).

Didik melanjutkan, korban dinyatakan meninggal dunia dalam perjalanan menuju Rumah Sakit SK Lerik, Kota Kupang. Setelah diautopsi, dokter kemudian menemukan serpihan seng sedalam 3,5 cm.

Pihak keluarga, lanjut Didik, menerima kematian korban sebagai kecelakaan.

"Korban meninggal dalam perjalanan ketika dibawa ke rumah sakit diduga karena kehabisan darah. Kita periksa 20 orang termasuk teman-teman yang minum bersamanya dan keluarga juga telah mengikhlaskan kematian korban karena kecelakaan," kata Didik.

Saksikan video pilihan berikut:

Lanjutkan Membaca ↓