Pagi di Lembah Palu dan Cerita Atlantis yang Hilang

Oleh Apriawan pada 27 Des 2017, 06:01 WIB
Diperbarui 29 Des 2017, 05:13 WIB
Pagi di Lembah Palu dan Cerita Atlantis yang Hilang

Liputan6.com, Palu - Lembah Palu adalah kawasan di sekitar Kota Palu yang berbentuk hampir menyerupai mangkuk. Kota multidimensi dengan Sungai Lariang yang membelah di tengah menjadikan Palu sebagai salah satu destinasi wisata yang sayang untuk dilewatkan.

Lansekap kota yang menyerupai mangkuk itu memiliki pusat kota berada di kawasan timur. Teluk Palu membentang dari barat hingga utara hampir 360 derajat, serta jejeran perbukitan menambah kesan yang tak terlupakan bagi setiap pengunjung yang pernah menginjakkan kaki di kota ini.

Sering dijuluki Kota Tiga Dimensi, Palu dipercayai sebagai negeri mitologi Atlantis yang hilang. Julukan yang disematkan oleh pengunjung mancanegara yang bertandang ke sana itu merujuk pada sungai, teluk, dan perbukitan yang berada di satu kawasan.

Jesica Natalie, seorang pelancong dari Negeri Kangguru, sengaja datang ke Palu untuk menikmati malam pergantian tahun di Lembah Palu. Kedatangannya kali ini merupakan yang kedua. Ia bahkan mengajak serta sanak keluarganya.

"Pergantian tahun 2015, waktu itu saya kebetulan berada di Palu untuk menyelesaikan proyek penelitian. Saya kemudian takjub dengan keramahan warga Palu serta ragam budaya, terutama destinasi wisata yang ada di Lembah Palu," katanya.

Namun yang paling berkesan, menurut Jesica, adalah pemandangan Lembah Palu saat pagi dan petang yang tidak pernah ditemuinya di tempat lain yang pernah dikunjungi sebelumnya.

"Saya pernah ke Bali, Lombok, Raja Empat, hingga di Toraja, namun belum pernah menemukan keindahan yang menakjubkan seperti yang ada di Lembah Palu. Bahkan di Hawai sekalipun belum bisa menyamai Palu," tuturnya kepada Liputan6.com di obyek wisata Tanjung Karang, Minggu, 24 Desember 2017.

Saksikan video pilihan berikut ini:

 

2 of 3

Pilihan Destinasi

Pagi di Lembah Palu dan Cerita Atlantis yang Hilang
Air Terjun Wera di Lembah Palu. (Liputan6.com/Apriawan)

Deretan destinasi bisa Anda kunjungi ketika berada di Palu seperti wisata Pantai Teluk Palu di Kampung Nelayan, Anjungan Nusantara, dan Pantai Talise. Ada lagi destinasi Taman Edukasi Perdamaian Nosarara Nosabatutu, Monumen GMT 2016, dan wisata religi Palu Barat.

Sedikit menjauh dari pusat kota, para wisatawan bisa berkunjung ke Permandian Air Panas Bora, Pusat Laut Donggala, Pantai Tanjung Karang, Paralayang Matantimali, Air Terjun Wera, dan masih banyak lagi destinasi wisata yang begitu alami.

Jika perut lapar, Anda bisa berwisata kuliner daerah di Kampung Kaili. Menu wajib yang Anda coba adalah kaledo yang merupakan akronim dari kaki lembu Donggala. Dengan lengkapnya pilihan wisata, pemerintah setempat mengklaim bahwa Palu layak disebut mutiara di khatulistiwa.

"Kita tunjukan kepada Indonesia, kita buktikan kepada dunia bahwa Palu memang pantas dikatakan mutiara di khatulistiwa," ungkap Wali Kota Palu, Hidayat.

Ia bahkan menyatakan julukan Kota Palu sebagai mutiara di khatulistiwa bukanlah klaim sepihak melainkan pemberian dari Bung Karno saat mengunjungi Kota Palu di masa pemerintahannya.

"Orangtua kami bercerita dan memang ini benar adanya, bahwa nama Bandara Udara Mutiara yang saat ini berganti menjadi Bandara Mutiara Sis Aljufri, adalah pemberian Bung Karno yang menyebutkan bahwa Kota Palu adalah mutiara di khatulistiwa," ujar Hidayat.

3 of 3

Kisah Gempa Maha Dahsyat

Kisah Mencekam tentang Teluk Palu di Masa Lalu
Air Panas Bora, Sulawesi Tengah. (Liputan6.com/Apriawan)

Jauh sebelum julukan ini disandang oleh Palu, terdapat kisah mencekam yang membentuk daerah itu. Darwis, penjaga Monumen Perdamaian Taman Edukasi Nosarara Nosabatutu yang letaknya di salah satu jejeran perbukitan Jabal Nur menuturkan, mengatakan pernah mendengar kisah itu dari orangtua kerabatnya.

Cerita dari mulut ke mulut itu menuturkan peristiwa gempa maha dasyat yang disertai tsunami hingga membuat puluhan warga kehilangan nyawa. Peristiwa itu terjadi pada 1927.

"Dulu Pantai Teluk Palu sebelum peristiwa gempa dan tsunami, terletak di Kelurahan Petobo. Namun semenjak tsunami terjadi, air laut lambat laun surut hingga puluhan kilometer ke Pantai Talise," kata Darwis sambil meramu kopi khas Palu, Kopi Kulawi, Minggu, 17 Desember 2017.

Kisah itu diyakini nyata berdasarkan bukti yang ada. "Sampai saat ini juga, air yang berasal dari dalam tanah di Kelurahan Petobo masih ada yang rasanya asin, seasin air laut," tutur Darwis.

Di bagian lain perbukitan Jabal Nur, yang jaraknya puluhan kilometer dari bibir pantai Teluk Palu, juga ditemukan tumpukan-tumpukan batu karang bukti luasnya teluk di masa lampau.

Lanjutkan Membaca ↓