Miris, 30 Persen Hutan di Kerinci Kritis

Oleh Bangun Santoso pada 15 Des 2017, 09:02 WIB
Diperbarui 17 Des 2017, 08:13 WIB
Hutan Kerinci

Liputan6.com, Jambi - Wilayah Kerinci di sisi barat Provinsi Jambi menjadi salah satu daerah penting di Pulau Sumatera. Daerah yang sebagian besar adalah gunung api dan kawasan hutan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) ini merupakan daerah serapan sekaligus sumber air bagi empat provinsi di Sumatera, yakni Jambi, Sumatera Barat, Bengkulu, dan Sumatera Selatan.

Sayangnya dari hasil kajian Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Kerinci Unit I, sebanyak 30 persen dari total kawasan hutan yang dikelola KPHP seluas 34.250 hektare masuk kategori kritis.

"Itu berdasarkan citra lansat kondisi. Tutupan lahan pada wilayah KPHP sebagian besar sudah berubah menjadi lahan pertanian dan perkebunan," ujar Kepala KPHP Kerinci Unit I, Neneng Susianti di Kerinci, Selasa, 12 Desember 2017.

Total kawasan hutan Kerinci yang dikelola KPHP dan sudah beralih fungsi tersebut mencapai 24.713,61 hektare.

Namun, pada wilayah ini masih terdapat hutan primer seluas 7.288,5 atau 21,70 persen. Perubahan kondisi penutupan ini tidak terlepas dari sangat sempitnya lahan pertanian di Kabupaten Kerinci.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

 

2 of 3

Pembagian 62.500 Bibit Pohon

Bentuk Karakter, 150 Siswa SMK Tanam Pohon
Sejumlah siswi membawa bibit pohon saat mengikuti bakti sosial penanaman pohon di Taman Tegar Beriman, Cibinong, Kabupaten Bogor (22/5). (Liputan6.com)

Selain itu berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Kerinci, wilayah kawasan hutan produksi telah ditetapkan sebagai Hutan Produksi Pola Partisipasi Masyarakat (HP3M).

Untuk mengurangi lahan kritis di Kerinci, Bupati Kerinci, Adi Rozal bersama KPHP Kerinci tengah gencar mengajak masyarakat untuk menanam pohon.

Kegiatan bertajuk Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) ini juga didukung oleh WWF Indonesia serta Millenium Challenge Account Indonesia (MCAI).

Terkini, Pemkab Kerinci, bersama KPHP dan WWF Indonesia membagikan 62.500 bibit pohon kepada warga di 10 desa yang wilayahnya berada di sekitar lahan kritis.

Sepuluh desa tersebut adalah Desa Tamiai, Pancuran Tigo, Renah Kayu Embun, Pungut Mudik, Suko Pangkat, Air Betung, Hiang, Belui, Bukit Pulai, dan Desa Air Panas Baru.

"Kalau dari dulu kita semangat menanam di lahan kritis, pastilah tidak akan bukit-bukit kita yang gundul. Jadi mari menanam," ajak Bupati Kerinci, Adi Rozal.

3 of 3

Rumah Harimau Sumatera

Hutan Kerinci
Kayu pacat, salah satu jenis pohon tua dan langka di kawasan hutan Kerinci. (Liputan6.com/B Santoso)

Selain karena gunungnya, Kerinci juga dikenal karena kawasan hutannya. Hutan di Kerinci yang sebagian besar masuk kawasan TNKS merupakan rumah atau habitat harimau Sumatera hingga badak Sumatera.

Tak hanya itu, TNKS juga dihuni oleh 42 jenis mamalia, 10 jenis reptil, enam jenis amfibi dan enam jenis primata. Sebagian besar satwa liar di kawasan hutan Kerinci masuk kategori terancam punah. Seperti harimau Sumatera, badak Sumatera, siamang, beruk, kucing emas, katak bertanduk, dan kera ekor panjang.

Selain itu, kawasan TNKS juga dihuni oleh 306 jenis burung. Delapan di antaranya adalah burung endemik. Seperti tiung Sumatera, puyuh gonggong, burung abang pipi, celepuk, rangkok badak dan julang emas.

Hutan di Kerinci juga ditumbuhi lebih dari 4.000 jenis flora yang terbagi dalam 63 familia. Terdapat pula beberapa jenis flora langka serta endemik. Seperti histiopteris insica, pinus merkusi Kerinci dan kayu pacat. Di hutan ini juga ditemukan bunga bangkai.

Selain flora endemik, ditemukan juga 115 jenis tanaman ethnobotanical yang biasa dimanfaatkan oleh warga sekitar sebagai obat-obatan, bahan pembuatan kosmetik, bahan makanan hingga obat nyamuk.

Salah satu daya tarik di kawasan hutan Kerinci adalah Gunung Kerinci.

Puncak Gunung Kerinci berada pada ketinggian 3.805 meter di atas permukaan laut (mdpl). Di Puncak Indrapura, pengunjung dapat melihat di kejauhan membentang pemandangan indah Kota Jambi, Padang, hingga Bengkulu.

Bahkan Samudra Hindia yang luas dapat terlihat dengan jelas. Gunung Kerinci memiliki kawah seluas 400x120 meter dan berisi air yang berwarna hijau. Di sebelah timur terdapat Danau Bento, rawa berair jernih tertinggi di Sumatera. Di belakangnya terdapat Gunung Tujuh dengan kawah indah yang hampir tak tersentuh.

Gunung Kerinci merupakan gunung berapi bertipe stratovolcano yang masih aktif dan terakhir kali meletus pada 2009.

Lanjutkan Membaca ↓