Kasihan, Bayi-Bayi Tak Berdosa Ini Terjangkit HIV dari Orangtua

Oleh Muhamad Ridlo pada 02 Des 2017, 19:16 WIB
Diperbarui 02 Des 2017, 19:16 WIB
Bayi rentan tertular HIV/Aids dari orang tuanya. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Purbalingga - Penyebaran penyakit Human immunodeficiency virus (HIV) atau Infection and acquired immune deficiency syndrome (AIDS) di Purbalingga, Jawa Tengah, pada 2017 ini semakin mengkhawatirkan. Terjadi peningkatan nyaris tiga kali lipat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Kurun waktu antara 2010-2016, di wilayah yang dikenal lantaran industri rambut dan bulu mata palsunya ini, terjadi 168 kasus HIV/AIDS, di mana 14 penderita di antaranya meninggal dunia. Di tahun ini, hanya dalam jangka 10 bulan, antara Januari-Oktober 2017, terdapat 60 kasus dengan 12 di antaranya meninggal dunia.

Lebih miris lagi, dari jumlah itu, sebagian adalah bayi dan balita. Terdata, sebanyak 10 bayi dan 22 balita di Purbalingga terpapar penyakit yang membuat tubuh manusia kehilangan sistem imun atau daya tahan tubuh itu.

Diduga, bayi dan balita ini tertular HIV/AIDS oleh ibu kandungnya. Padahal, sebagian besar ibu kandung bayi-bayi ini adalah ibu rumah tangga biasa. Diduga, sang ibu ditulari oleh para suami.

"Saat pemantauan pekan layanan HIV/AIDS kemarin saya menemukan 22 balita dan 10 bayi terinfeksi HIV. Sungguh saya sangat miris," ucap Wakil Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi, Sabtu (2/12/2017).

Dyah menilai, tertularnya bayi-bayi tak berdosa adalah sebentuk kelalaian. Sebab itu, para ibu hamil diimbau untuk melakukan tes HIV pada masa kehamilan awal. Dengan demikian, ibu dengan HIV bakal memperoleh layanan persalinan khusus untuk mencegah penularan HIV/AIDS dari ibu kepada bayinya.

Golongan berisiko HIV/AIDS pada 2017 ini juga mengalami pergeseran. Pada kasus sebelumnya, risiko tertinggi lebih pada kaum heteroseksual usia matang. Namun, pada 2017 ini, banyak ditemukan kasus HIV/AIDS pada remaja berumur 18-26 tahun.

Dyah menduga, masih banyak kasus HIV yang belum terungkap. Sebab, kasus HIV/AIDS sejatinya seperti fenomena gunung es. Kondisi yang terpantau hanya di permukaannya. Sementara, angka yang tak tampak justru lebih besar.

"Setiap calon pengantin yang akan menikah, hendaknya melakukan pre-screening atau premarital test berupa tes HIV. Hal ini dilakukan untuk mengurangi penyebaran HIV secara dini," dia menegaskan.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

2 dari 3 halaman

Sosialisasi Penanggulangan Aids

Sosialisasi pencegahan HIV/Aids digelar di seratusan lebih perusahaan di Purbalingga. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Sosialisasi pencegahan HIV/Aids digelar di seratusan lebih perusahaan di Purbalingga. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Pada peringatan Hari HIV/AIDS Sedunia selama lima hari antara 27 November-2 Desember 2017 ini, Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Purbalingga menggelar berbagai upaya pencegahan HIV/AIDS. Tahun ini, KPAD fokus pada upaya deteksi dini melalui kegiatan pekan layanan kesehatan, yakni layanan Voluntary Counselling and Testing (VCT).

Layanan VCT dilakukan serentak di 22 -puskesmas seluruh Purbalingga, laboratorium kesehatan, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Goeteng Tarunadibrata, dan semua rumah sakit nonpemerintah.

Sekretaris KPAD Purbalingga Heny Ruslanto mengatakan, sebanyak 1.159 orang telah dites HIV. Mereka terdiri dari masyarakat umum, calon pengantin, ibu hamil, dan kalangan aparatur sipil negara.

"Di antaranya, terdapat hasil tes yang reaktif sebanyak tiga orang," Heny membeberkan.

Dalam pekan peringatan Hari HIV/AIDS Sedunia, KPAD dan Dinas Kesehatan Purbalingga juga menggelar tes kesehatan mendadak di sejumlah tempat karaoke dan tempat hiburan lain.

Kampanye pencegahan penyebaran HIV/AIDS dilakukan pula dengan pembagian leaflet dan penyematan logo merah HIV/AIDS kepada ribuan karyawan perusahaan di Purbalingga. Poster juga ditempel di 100 lebih perusahaan yang ada di Purbalingga.

"Penyebaran poster juga dilakukan kepada pengelola objek wisata, restoran, dan hotel. Sebagai puncak acara akan diadakan upacara peringatan HAS pada 4 Desember 2017,” Heny menjelaskan.

3 dari 3 halaman

Penularan HIV/AIDS pada Ibu Rumah Tangga di Cilacap

Di Cilacap, ibu rumah tangga menjadi kelompok tertinggi angka tertular HIV/Aids 2016-2017. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Di Cilacap, ibu rumah tangga menjadi kelompok tertinggi angka tertular HIV/Aids 2016-2017. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Tren penularan HIV/AIDS pada ibu rumah tangga juga terjadi di Cilacap, Jawa Tengah. Hingga 2017 ini, total 905 orang yang positif orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Sementara, orang yang diduga terjangkit atau suspect berkisar 2.300 orang. Dari jumlah itu, sebagian penderitanya adalah perempuan.

Celakanya, dari jumlah perempuan yang terjangkit HIV dua tahun terakhir, 50 persen lebih merupakan ibu rumah tangga atau orang rumahan. Diduga kuat, mereka ditulari oleh suaminya. Mereka hanya menjadi korban aktivitas sang suami di luar.

"Tahun 2016 itu kan, tren penderita HIV/AIDS itu adalah ibu rumah tangga. Kok, ibu rumah tangga? Karena mereka ditularkan oleh para suaminya," ucap pengurus Pimpinan Daerah Aisyiah (PDA) Kabupaten Cilacap, Ulfah Hikmah, Sabtu, 4 November 2017.

Untuk itu, berbagai kelompok perempuan di Cilacap, bekerja sama menyebarkan informasi dan mengantisipasi bahaya penyakit HIV/AIDS di kelompok terkecil di pedesaan, seperti PKK, posyandu, perkumpulan Aisyiah, Muslimat NU, Fatayat NU, hingga pengajian-pengajian rutin para ibu.

Kelompok perempuan juga mendesak agar Pemda Cilacap secepatnya menerbitkan regulasi penanggulangan tuberkulosis (TB). Jika perda dirasa terlalu panjang prosedurnya, ia pun mengusulkan agar Bupati Cilacap menerbitkan peraturan bupati (perbup) sebelum Perda TB-HIV diparipurnakan.

Lanjutkan Membaca ↓