Aneh, Bekantan Kini Lebih Suka di Tanah Ketimbang di Pohon

Oleh Maulana S pada 23 Nov 2017, 18:00 WIB
Diperbarui 23 Nov 2017, 18:00 WIB
Bekantan di Kebun Binatang Singapura
Perbesar
Bekantan mempunyai wajah khas berwarna biru ketika masih bayi (Foto: Wildlife Reserves Singapore)

Liputan6.com, Kalimantan Timur - Salah satu satwa endemik Pulau Borneo, yakni bekantan mengalami perubahan perilaku yang signifikan. Primata dengan nama latin Narsalis larvatus itu mulai suka berinteraksi di permukaan tanah ketimbang di pohon.

Koordinator tim Ecology and Conservation Center for Tropical Studies (ECOSITROP), Yaya Rayadin mengatakan, perubahan perilaku itu sudah menjadi perhatian para peneliti sejak 2013 silam.

"Mereka lebih suka menapaki tanah," ujarnya, Kamis (23/11/2017).

Yayan menambahkan, interaksi di tanah sebelumnya hanya dilakukan di kawasan rivarian (kanan kiri sungai) dan mangrove saja. Kini para bekantan lebih sering terekam di kawasan perkebunan sawit, hutan tanaman industri (HTI), dan kawasan reklamasi tambang.

"Mereka juga mulai sering berjalan kaki di kawasan konservasi kawasan dan kawasan lindung di Kalimantan Timur," ujarnya.

Yayan dan timnya meriset dengan menggunakan study camera trap alias kamera otomatis untuk merekam kehadiran satwa di kawasan tersebut. Di beberapa lokasi pemasangan kamera otomatis, peneliti berhasil merekam dan memotret beberapa kelompok bekantan yang bergerak di atas permukaan tanah.

Perubahan perilaku itu dipadang ECOSITROP sebagai hal yang serius. Bisa jadi, perubahan perilaku itu menjadi ancaman nyata bagi populasi bekantan yang kini diperkirakan tinggal 20 ribuan saja.

"Jumlah itu sudah menyeluruh di Pulau Borneo Sabah, Brunei, Serawak, dan Kalimantan," paparnya.

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Habitat Bekantan Terancam

Ancaman itu berarti, ada habitat bekantan yang terekspolitasi. Habitat bekantan semakin berkurang karena adanya pembangunan di sekitar wilayah rivarian yang selama ini menjadi habitat utama Bekantan.

Dari kondisi itu, ECOSITROP menegaskan perlunya membangun koridor satwa agar dapat memudahkan pergerakan bekantan dari kawasan yang sudah terganggu. Serta melindungi habitat bekantan baik yang berada di kawasan mangrove maupun yang berada di wilayah rivarian.

"Selanjutnya, sosialisasi kepada para pihak dalam rangka perlindungan bekantan maupun kawasan yang menjadi habitat bekantan sangat penting dilakukan," ujar Yaya.

Lanjutkan Membaca ↓