Ulah Mengesalkan Pria Gelandangan Saat Dikunci di Ruang Psikiatri

Oleh Liputan6.com pada 16 Nov 2017, 20:32 WIB
Diperbarui 16 Nov 2017, 20:32 WIB
Ulah Mengesalkan Pria Gelandangan Saat Dikunci di Ruang Psikiatri
Perbesar
Ilustrasi gelandangan dengan gangguan jiwa.

Liputan6.com, Tulungagung - Kondisi pasien gelandangan dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang dirawat di ruang isolasi RSUD dr Iskak, Tulungagung, Jawa Timur hingga saat ini belum stabil.

Kabag Humas dan Pemasaran RSUD dr Iskak, Mochammad Rifai mengungkapkan pasien gangguan jiwa yang merupakan gelandangan di Pasar Ngunut itu saat ini masih dikunci di ruang psikiatri karena masih kerap mengamuk.

"Terkait pasien yang kemarin mengalami gangguan psikiatri, saat ini kami tangani secara prosedur penanganan psikiatri di ruang psikiatri. Sekarang pasien mulai tenang tetapi masih suka berteriak," kata Rifai, Kamis (16/11/2017), dilansir Antara.

Ia memastikan kondisi ruang isolasi untuk pasien psikiatri itu sangat layak. Selain berada di ruang khusus seluas 3 x 3 meter yang dilengkapi air conditioner (AC), dinding ruangan untuk pasien bermasalah kejiwaan, depresi dan gangguan psikiatri akibat pengaruh narkoba itu juga dilapisi busa setebal 20 cm.

Menurut Rifai, dinding busa di seluruh lapisan ruangan itu membuat pasien aman meskipun penderita berperilaku ekstrem dengan membentur-benturkan kepala ke dinding ruangan.

"Ruangan kami kunci untuk mengantisipasi pasien psikiatri ini mencoba melarikan diri," ujarnya.

Namun, ruangan psikiatri mewah dengan tingkat keamanan berstandar internasional itu belum dilengkapi toilet untuk buang air pasien.

Akibatnya, saat petugas mencoba sedikit membuka pintu ruang psikiatri itu, bau menyengat dari dalam langsung merebak keluar. Bau itu diduga berasal dari kotoran pasien gelandangan tersebut.

"Padahal, kemarin dia sudah dibersihkan oleh perawat, dimandikan dan rambutnya yang kumal bahkan disampo sampai bersih. Mungkin saja dia berak di dalam sehingga baunya keluar," kata petugas.

Rifai mengatakan tim psikiatri RSUD dr Iskak masih akan menanganinya hingga 2-3 hari sejak gelandangan yang biasa dipanggil Bogor itu menunjukkan perkembangan.

"Kalau kondisinya membaik dan stabil nanti akan kami serahkan ke Dinas Sosial untuk mendapat penanganan lebih lanjut. Tapi,jika gangguannya parah dan sulit diobati secara psikiatri, tentu akan kami rujuk ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Lawang, Malang," kata Rifai.

Saksikan video pilihan berikut ini:

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Lahirkan Bayi di Pinggir Jalan

Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun menangani kasus seorang wanita berstatus orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang melahirkan bayi perempuan di pinggir jalan wilayah Desa Pule, Kecamatan Sawahan, kabupaten setempat.

Kepala Desa Pule Anton Setyoko, Jumat mengatakan, peristiwa tersebut menghebohkan warga yang kebetulan melintas di lokasi itu. Beruntung, meski proses kelahiran bayi tersebut dilakukan di pinggir jalan, ibu dan bayi dalam kondisi baik.

"Kami tidak mengetahui identitas dari sang ibu, sebab ia bukan warga saya. Setelah melahirkan, ibu dan anak tersebut lalu dibawa ke puskesmas," ujar Anton, Sabtu, 11 November 2017, dilansir Antara.

Menurut dia, peristiwa tersebut diketahui berdasarkan laporan dari warganya yang melihat ada seorang wanita hendak melahirkan di jalanan, dekat gapura masuk desa.

Warga tersebut lalu melapor ke kepala desa untuk penanganan lebih lanjut. Mendapati laporan tersebut, pihaknya lalu menuju ke lokasi bersama seorang bidan.

Namun sesampainya di lokasi, wanita yang diduga mengalami depresi tersebut telah melahirkan dengan dibantu warga. Ibu dan bayi itu lalu ditangani oleh sang bidan di lokasi dan kemudian langsung dibawa ke puskesmas.

Di puskesmas, sang ibu pun langsung mendapatkan perawatan medis setelah melahirkan guna menghindari hal-hal yang berbahaya.

Sementara, Kepala Puskesmas Sawahan, dokter Agnes Ani menyatakan bayi yang dilahirkan dalam kondisi cukup sehat, dengan panjang mencapai 44 sentimeter dan berat 2,5 kilogram.

"Keduanya dalam kondisi stabil. Sayangnya, sang ibu tidak dapat diajak berkomunikasi. Mungkin karena depresi," kata Agnes.

Untuk penanganan lebih lanjut, keduanya lalu dirujuk ke RSUD Caruban Kabupaten Madiun. Adapun kasus tersebut selanjutnya ditangani oleh Dinkes dan Dinas Sosial Kabupaten Madiun.

Lanjutkan Membaca ↓