Mengayun Nyali Pagi-Pagi di Bukit Buntu Macca

Oleh FauzanEka Hakim pada 02 Nov 2017, 06:01 WIB
Diperbarui 02 Nov 2017, 06:01 WIB
Mengayun Nyali Pagi-Pagi di Bukit Buntu Macca Sang Primadona
Perbesar
Selain Bukit Buntu, ayunan ekstrem juga tersedia di Kulon Progo berjuluk Ayunan Langit. (Liputan6.com/Eka Hakim)

Liputan6.com, Enrekang - Buttu Macca kini menjadi salah satu tempat wisata di Sulawei Selatan yang menjadi primadona. Selain menikmati panorama alam, dari Bukit Buntu Macca itu pengunjung juga bisa mencoba hal yang ekstrem dengan berayun di atas ketinggian.

Potensi bukit yang terletak di Kotu Kecamatan Anggaeraja, Kabupaten Enrekang itu awalnya tak terlalu dianggap. Padahal, panorama alam yang disajikan dari atas bukit menakjubkan.

"Selain dimanjakan suasana alam pegunungan yang hijau, bisa juga tes nyali dengan berayun di atas ketinggian yang di bawahnya dapat dilihat pemukiman warga lereng gunung," kata Hendrianto, warga Kabupaten Enrekang, Senin, 30 Oktober 2017.

Ia mengatakan wisata ekstrem Buttu Macca merupakan hasil polesan tangan kreatif pemuda dan mahasiswa Kotu yang kemudian menamakan dirinya sebagai Laskar Bambapuang. Awalnya, mereka hanya kemping sambil memasang hammock di antara dua pohon pinus.

"Dari sinilah mereka terinspirasi, mengubah hammock menjadi ayunan dan sekarang itu yang menjadi fasilitas ekstrem di Bukit Buttu Macca tersebut," kata Hendrianto.

Hendra, salah satu anggota dari Laskar Bambapuang mengatakan kawasan wisata ekstrem Bukit Buttu Macca hingga saat ini masih dikelola secara swadaya, termasuk pengadaan peralatan ayunan.

"Insyaallah ke , wisata ekstrem Buttu Macca dapat memberikan kontribusi buat Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Enrekang. Sehingga, kita butuh sentuhan Pemerintah Kabupaten Enrekang tentunya," ucap Hendra.

Pengunjung mudah menemukan lokasi wisata ini karena letaknya tepat di pinggir jalan poros Enrekang-Makale. Secara administratif, Buttu Macca terletak di Dusun Pulauan, Desa Bambapuang, Anggaraja, Enrekang, Sulawesi Selatan. Jaraknya sekitar 40 kilometer dari Kota Enrekang atau 230 km dari Kota Makassar.

Bagi yang tinggal di Kabupaten Enrekang, kamu bisa mengandalkan google map untuk mencari lokasi Buttu Macca ini. Buka saja aplikasi google map dan silahkan ketikan Buttu Macca lalu ikuti rutenya.

Sementara, bagi Anda yang ingin menggunakan bus angkutan umum dari Kota Makassar ke Kabupaten Enrekang, bisa langsung memberitahu sopir busnya agar diantar ke objek wisata Bambapuang di Kecamatan Anggeraja.

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 3 halaman

Terinspirasi Olahraga Ekstrem

Ngeri-Ngeri Sedap, Berayun di Bibir Jurang Bukit Cekong
Perbesar
Ayunan Ekstrem di Bukit Cekong. (Liputan6.com/Fauzan)

Pencetus ayunan yang dapat memacu adrenalin ini adalah Hafsan. Pencinta alam yang juga menggemari olahraga ekstrem terinspirasi membuat ayunan tak biasa setelah melihat kegemaran anak muda yang menyenangi olahraga ekstrem."Saya dan anak muda pencinta alam di sini yang memulai ide ini," kata Hafsan kepada Liputan6.com, Jumat, 30 Desember 2016.

Awalnya, ucapĀ Hafsan, di Bukit Cekong hanya ada sirkuit balap motor trail. Ia kemudian melihat ada potensi lain yang bisa dikembangkan dengan memanfaatkan kondisi ketinggian bukit yang mencapai sekitar 1000 mdpl. Ayunan pun berdiri di ketinggian 150 meter dari dasar jurang.

"Dari atas ayunan ini, kita bisa melihat keindahan deretan pegunungan dan perbukitan di Kabupaten Enrekang," ujar Hafsan.

Meski ekstrem, Hafsan memastikan semuanya harus aman. Sebelum berayun di Swing Extreme, nama ayunan itu, peserta akan menggunakan perlengkapan keselamatan.

"Peserta akan menggunakan full body harnesses serta pengaman lainnya, sementara ayunannya menggunakan tali yang sudah dipastikan kekuatannya," tutur dia.

Tidak hanya ayunan, di lokasi wisata outbound yang dikelola oleh Hafsan ini terdapat pula wahana lain seperti games outbound, flying fox, camping ground dan Teras Pohon.

"Selain Swing Extreme, ada juga flying fox sepanjang 200 meter, outbound games, teras pohon dan camping ground. Yang pasti tidak akan kecewa deh kalau main ke sini," ujar Hafsan.

3 dari 3 halaman

Ayunan Langit Kulon Progo

[Bintang] Yogyakarta
Perbesar
Ayunan Langit, Watu Jaran, Kulon Progo, Yogyakarta. (Sumber Foto: gaby.gabz/Instagram)

Pengelola Desa Wisata Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengembangkan destinasi baru "Ayunan Langit Watu Jaran". Wahana Ayunan Langit Watu Jaran ini dikembangkan untuk mendukung Desa Wisata Purwosari.

Di wahana Ayunan Langit Watu Jaran ini, wisatawan disuguhi atraksi yang menggugah adrenalin. Saat pagi ataupun sore hari, pengunjung bisa menaiki ayunan dengan ketinggian delapan meter dan kedalaman jurang enam meter. Bukit Watu Jaran ini berada di ketinggian 750 mdpl.

"Silakan, bagi wisatawan yang mempunyai keberanian, datang untuk menikmati Ayunan Langit yang ada di Desa Purwosari," kata Kepala Desa Purwosari Purwito Nugroho Wiji Mulyanto di Kulon Progo, Selasa 16 Mei 2017, dilansir Antara.

Purwito mengatakan harga tiket objek wisata Ayunan Langit sebesar Rp10 ribu per orang. Tiket ini, biaya ojek pulang pergi dan asuransi. Kemudian, bagi wisatawan yang akan menikmati ayunan dikenai biaya Rp 20 ribu per orang dengan durasi sekitar lima menit. Total biaya untuk menikmati atraksi wisata Ayunan Langit Watu Jaran Rp 30 ribu per orang.

Purwito menjelaskan kekuatan ayunan paling berat 500 kg. Alat yang digunakan dengan baja, sehingga bisa tahan dari korosi. Selain itu mengunakan empat batang besi supaya lebih kuat. Dia menjamin pihaknya akan melakukan perawatan secara berkala.

"Kami akan melakukan perawatan secara berkala. Alat ayunan bisa bertahan lebih dari tiga tahun," katanya.

Terkait jalan menuju Ayunan Langit Watu Jaran yang rusak, Purwito mengatakan akan dibangun pada 2017 ini dengan APBD kabupaten. "Pertengahan tahun ini akan dibangun," katanya.

Salah satu pengunjung Ayunan Langit Watu Jaran Ferdy Devian Supriyono mengatakan saat naik ayunan, tangan dan kakinya dingin. Tapi setelah diayun, rasa itu hilang, dan adrenalin semakin meningkat.

Ia mendapat informasi keberadaan Ayunan Langit Watu Jaran dari media sosial. Untuk membuktikan hal tersebut, dirinya langsung ke sini. "Saya dapat informasi dari Instagram," katanya.

Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo Krissutanto mengatakan pengelola wisata memang harus membuat sesuatu yang unik, dan atraktif supaya dapat menarik kunjungan wisata. Di Desa Wisata Purwosari sangat lengkap mulai dari curug, gua hingga agrowisata wisata. Agrowisata didukung kebun salak, kambing PE, kapulaga, cengkih, dan teh.

"Kami memberikan dukungan bagi masyarakat yang mengembangkan wisata. Kami akan mempromosikan objek wisata yang dikembangkan masyarakat," ujar dia.

Namun demikian, ia mengakui ada persoalan pengembangan objek wisata , yakni infrastruktur jalan yang belum memadai. Untuk itu, pihaknya melakukan koordinasi dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman untuk pembangunan infrastruktur jalannya.

"Kendala pengembangan wisata di Bukit Menoreh yakni akses jalan," katanya.

Lanjutkan Membaca ↓