Awas, 5 Pantangan bagi Pendaki Gunung Agung

Oleh Dewi Divianta pada 23 Okt 2017, 01:04 WIB
Diperbarui 23 Okt 2017, 01:04 WIB
BNPB Terbangkan Drone untuk Pantau Kawah Gunung Agung
Perbesar
Penduduk mengamati Gunung Agung dari Desa Kubu, Kabupaten Karangasem, Bali, Rabu (11/10). Menurut BNPB, aktivitas vulkanik Gunung Agung masih tinggi sehingga PVMBG masih menetapkan status awas sejak 22 September lalu hingga saat ini. (AP/Firdia Lisnawati)

Liputan6.com, Karangasem - Gunung Agung terletak di Kabupaten Karangasem Bali. Gunung setinggi 3.142 mdpl itu menjadi salah satu gunung favorit bagi para pendaki dari seluruh Indonesia. Kini, Gunung Agung tengah berstatus awas.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan status awas Gunung Agung akibat tingginya aktivitas di dalam perut gunung itu pada Jumat malam, 22 September 2017, puk‎ul 20.30 Wita.

Menjadi lokasi favorit bagi para pendaki, ada beberapa pantangan bagi para pendaki yang hendak naik ke Gunung Agung. ‎Bagi masyarakat Hindu Bali, gunung merupakan daerah yang disucikan.

Ketua Perhimpunan Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat, Wisnu Bawa Tenaya menjelaskan, dalam konsep Hindu Bali, gunung dan laut merupakan dua hal yang mesti mendapat porsi penghormatan dalam konteks keseimbangan alam.

"Laut dan gunung istilahnya yakni konsep segara-gunung. Segara-gunung merupakan dua hal yang mesti dihormati dan diagungkan dalam konsep kami sebagai orang Hindu," kata Wisnu Bawa Tenaya kepada Liputan6.com belum lama ini.

Soal pantangan bagi mereka yang ingin naik ke puncak Gunung Agung rupanya sudah menjadi pengetahuan umum bagi para pendaki. Salah satunya adalah Tian, pendaki asal Denpasar.

"Tiap gunung memiliki pantangan masing-masing. Kalau di Gunung Agung memang ada beberapa pantangan yang saya tahu," kata Tian dihubungi melalui saluran telepon.‎

Dihubungi terpisah, Jro Mangku Kari dari Temukus, Karangasem menjelaskan, pantangan-pantangan itu memang sudah sejak dahulu kala ada. Beberapa pantangan itu merupakan titah dari Ida Bhatara Lingsir yang bersemayam di Gunung Agung.

"Memang pantangan itu sudah sejak dulu ada. Bagi pendaki yang terpenting adalah niatnya tulus, selalu mengingat Beliau, Ida Batara Lingsir," kata Jro Mangku Kari.‎

Berikut ini beberapa pantangan bagi para pendaki yang hendak naik ke Gunung Agung dihimpun dari berbagai sumber.

1. Tak diperkenankan membawa makanan dan minuman yang mengandung daging sapi. Bagi pendaki yang baru memakan daging sapi juga tak diperkenankan mendaki Gunung Agung. Berkaitan atau tidak, melihat sakralnya Gunung Agung bagi umat Hindu Bali, bisa jadi daging sapi merupakan pantangan yang harus dihindari oleh pendaki karena bagi umat Hindu Bali, sapi merupakan hewan yang disucikan.

2. Tidak diperkenankan membawa perhiasan dari emas. "Memang tak diperkenankan membawa perhiasan emas kalau mendaki. Soal alasannya, itu memang sudah dari dulu. Kita harus mematuhi perintah dan keinginan Beliau (Ida Bhatara Lingsir)," tutur Jro Mangku Kari.

3. Bagi perempuan yang tengah datang bulan tak diperkenankan mendaki Gunung Agung. Lantaran Gunung Agung merupakan kawasan suci sebagaimna konsep segara-gunung, kesucian menjadi aspek yang tak bisa dipisahkan. Hal itu berlaku sama ketika kita hendak masuk ke dalam pura.

4. Tidak bertingkah laku di luar kewajaran. Ya, di Gunung Agung sikap tetap harus dijaga.

5. Membawa turun sampah yang dihasilkan di atas Gunung Agung.

Saksikan video pilihan berikut ini: