Sekeluarga Bertarung dengan 3 Beruang, Sang Ayah Terluka Parah

Oleh M Syukur pada 16 Okt 2017, 12:00 WIB
Diperbarui 18 Okt 2017, 11:13 WIB
Jago Karate, Kakek 63 Tahun Selamat dari Serangan Beruang Hitam

Liputan6.com, Indragiri Hilir - Seorang penjerat binatang di Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, bernama Putang kritis dan dirawat intensif di rumah sakit setempat usai bertarung dengan tiga beruang di hutan. Bagian wajah dan bibirnya nyaris putus akibat cakaran binatang buas yang dimaksud.

Kejadian ini menambah daftar rentetan pertarungan antara hewan buas dan manusia di Riau. Sebelumnya, ada petani tewas setelah bertarung dengan beruang di Kabupaten Kampar. Satu lagi kritis setelah penyerangan di kebun karet itu.

Kapolsek Mandah, Inspekstur Polisi Satu Warno, membenarkan adanya kejadian yang menimpa Putang itu meski tidak ada laporan resmi kepada pihaknya. Dia menyebut, pemburu hewan itu masih dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Puri Husada, Kecamatan Tembilahan, Indragiri Hilir.

Berdasarkan informasi yang dikumpulkan Warno, kejadian bermula keti‎ka Putang bersama dua anaknya masuk ke hutan di Desa Cahaya Jambu, Kecamatan Mandah, untuk mengecek jerat hewan yang dipasangnya, beberapa hari sebelumnya. Di salah satu jeratannya, Putang mendapat tangkapan besar nan buas, yaitu beruang.

Bersama dua anaknya, Putang nekat mendekati jerat itu dengan maksud membebaskan beruang. Merasa nyawanya terancam, beruang tadi berontak dan meraung sebagai tanda minta bantuan kepada hewan lainnya.

"Dan raungan ini mengundang beruang lainnya yang berada di hutan," ucap Warno, Minggu malam, 15 Oktober 2017.

Raungan ini tak hanya mendatangkan satu beruang, tapi tiga ekor sekaligus. Putang yang sudah terjepit terpaksa melawan bersama dua anaknya. Dua beruang akhirnya berhasil ditakuti dengan hunusan parangnnya.

Hanya saja, masih ada seekor beruang berukuran besar bergeming digertak dengan parang. Hewan ini menyerang Putang dan dua anaknya, sehingga terjadi pertarungan antara beruang dengan keluarga dimaksud.

"Anak-anak korban berhasil mengusir beruang besar ini dan masuk ke semak-semak dalam hutan," sebut Warno.

Namun, akibat perkelahian dengan beruang, Putang tak sadarkan diri karena mengalami luka serius. Korban kemudian dibawa anaknya ke puskesmas terdekat hingga dirujuk ke RSUD Puri Husada Tembilahan.

"Lokasi kejadian ini memang jauh dari kecamatan," ujar Warno.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

2 of 2

Lawan Beruang Ganas Pakai Tangan Kosong

20160408-Ilustrasi-Beruang-iStockphoto
Ilustrasi Beruang (istockphoto)

Sebelumnya, pasangan suami istri di Desa Teluk Paman, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Riau, diserang beruang liar ketika menderes getah karet di kebun. Akibat, sang istri bernama Buni meninggal dunia akibat serangan hewan karnivora itu, sementara suaminya Sarudi kritis dan dilarikan ke RSUD Arifin Ahmad, Kota Pekanbaru.

Penuturan kepala desa setempat, Rino Chandra, kejadian itu terjadi pada Selasa, 3 Oktober 2017, sekitar pukul 10.00 WIB. Keduanya berangkat dari rumahnya sejak pagi untuk menderes getah karet.

Tanpa disadari, tiba-tiba ‎hewan buas itu langsung menyerang Buni. Melihat itu, sang suami langsung berusaha menolong istrinya dan bertarung melawan beruang dengan tangan kosong.

"Namun, keganasan beruang tidak tertandingi kedua pasangan suami istri tersebut hingga menyebabkan keduanya terluka parah," kata Rino kepada wartawan kala dihubungi dari Pekanbaru, Selasa, 3 Oktober 2017 petang.

Rino menerangkan, Buni mengalami luka parah di bagian wajah dan badannya akibat cakar beruang. Perempuan 47 tahun itu akhirnya meninggal dunia di lokasi kejadian. Sementara Sarudi dilarikan ke rumah sakit karena luka serupa dan masih kritis.

Sementara itu, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Riau turut prihatin atas kejadian ini. BBKSDA sudah mendapat laporan serangan beruang di kebun karet tersebut.

"Anggota BBKSDA ‎sudah mendampingi korban di rumah sakit," ujar Humas BBKSDA Riau, Dian Indriarti, kala dihubungi terpisah.

Dian menyebut BBKSDA juga telah turun ke lokasi dan menyiapkan kerangkeng untuk menangani konflik antara beruang dan masyarakat setempat. Kepolisian juga dilibatkan pencarian dengan menyusuri kebun karet dan sawit di lokasi.

"WWF juga turun bersama aparat desa dan pihak pihak terkait lainnya," kata Dian.

Lanjutkan Membaca ↓