Duel Berdarah Manusia dengan Beruang, Ular Piton, dan Buaya

Oleh Fajar Eko NugrohoAbelda GunawanM Syukur pada 10 Okt 2017, 14:00 WIB
Diperbarui 12 Okt 2017, 13:13 WIB
20160408-Ilustrasi-Beruang-iStockphoto

Liputan6.com, Jakarta - Pertarungan manusia lawan manusia sudah biasa, baik karena konflik atau dalam sebuah pertandingan. Hal biasa juga jika pertarungannya antara hewan lawan hewan, biasanya dalam sebuah ajang adu hewan. Nah, bagaimana jika duelnya antara manusia dan hewan?

Insiden pertarungan manusia dan hewan terjadi di sejumlah daerah beberapa waktu terakhir. Seperti dilaporkan Liputan6.com, terjadi insiden pertarungan tersebut: manusia tarung dengan beruang, babi, ular piton, hingga buaya.

Jatuh korban dari duel manusia lawan hewan itu, dari yang korban luka hingga meninggal dunia. Berikut cerita pertarungan antara manusia dan hewan tersebut.

Lawan Beruang dengan Tangan Kosong

Pasangan suami istri di Desa Teluk Paman, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Riau, diserang beruang liar ketika menderes getah karet di kebun. Akibatnya sang istri bernama Buni meninggal akibat serangan hewan karnivora itu, sementara suaminya Sarudi kritis dan dilarikan ke RSUD Arifin Ahmad, Kota Pekanbaru.

Penuturan kepala desa setempat, Rino Chandra, kejadian itu terjadi pada Selasa, 3 Oktober 2017, sekitar pukul 10.00 WIB. Keduanya berangkat dari rumahnya sejak pagi untuk menderes getah karet.

Tanpa disadari, tiba-tiba ‎hewan buas itu langsung menyerang Buni. Melihat itu, sang suami langsung berusaha menolong istrinya dan bertarung melawan beruang dengan tangan kosong.

"Namun, keganasan beruang tidak tertandingi kedua pasangan suami istri tersebut hingga menyebabkan keduanya terluka parah," kata Rino, Selasa, 3 Oktober 2017 petang.

Buni mengalami luka parah di bagian wajah dan badannya akibat cakar beruang. Perempuan 47 tahun itu akhirnya meninggal dunia di lokasi kejadian. Sementara Sarudi dilarikan ke rumah sakit karena luka serupa dan masih kritis.

Sementara itu, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Riau turut prihatin atas kejadian ini. BBKSDA sudah mendapat laporan serangan beruang di kebun karet tersebut.

Kepala Humas BBKSDA Riau, Dian Indriarti, mengatakan pihaknya telah turun ke lokasi dan menyiapkan kerangkeng untuk menangani konflik antara beruang dan masyarakat setempat. Kepolisian juga dilibatkan pencarian dengan menyusuri kebun karet dan sawit di lokasi.

Kasus ini masih berbuntut, warga memburu beruang. Namun meski telah menghilangkan nyawa, hewan itu masih tetap saja dilindungi peraturan di Indonesia. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam langsung turun ke lokasi supaya hewan tadi tidak dibunuh saat ditangkap.

Puluhan warga yang berkumpul sejak pagi dan masuk ke kebun karet serta sawit, tempat beruang itu berada. Masyarakat membawa senapan dan senjata tajam sebagai perlindungan jika sewaktu-waktu beruang menampakkan diri serta menyerang.

Warga ini dikawal petugas BBKSDA, kepolisian‎ dan aparatur desa agar tidak salah bertindak yang berakibat membahayakan diri sendiri atau beruang yang tengah diburu.

"Juga dipasang kerangkeng di kebun itu dan dikasih umpan supaya tertangkap beruangnya," kata Dian.

Jika tertangkap nanti, BBKSDA berencana membawa beruang itu ke Pekanbaru, tepatnya di Jalan HR Soebrantas. Di lokasi ini ada penitipan satwa milik BBKSDA dan akan dilakukan pengkajian untuk tindakan selanjutnya.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini: 

2 dari 7 halaman

Lawan Beruang dengan Parang Tumpul

Memburu Beruang
Warga Memburu beruang yang tewaskan petani. Foto: (M Syukur/Liputan6.com)

Tersesat di hutan di Kecamatan Teluk Meranti, ‎Kabupaten Pelalawan, Riau, pria bernama Darma harus bertarung dengan hewan buas. Dia diserang beruang dan terluka serius. Nyawanya masih selamat, tetapi harus mendapat perawatan intensif di rumah sakit setempat.

Sudah sembilan hari sejak peristiwa itu, Darma masih terbaring lesu di atas kasur perawatan RSUD Pangkalan Kerinci. Dia pun dibesuk dua anggota DPRD setempat, yaitu Faisal dari Fraksi Gerindra, dan Baharudin dari Fraksi Golkar, Senin siang, 18 September 2017.

Menurut Faisal, kondisi korban berumur 50 tahun itu sangat memprihatinkan. Di sekujur tubuhnya terdapat luka cakaran serta gigitan dari hewan buas tersebut.

"Dan selama dirawat di rumah sakit, tidak ada yang menemaninya karena korban sebatang kara," kata Faizal.

Menurut Faisal, korban merupakan warga Desa Sungai Ara, Kecamatan Pelalawan. Sudah lama kartu tanda penduduknya hilang dan tidak ada keluarga karena berada di luar daerah.

Penuturan Faizal setelah berbincang dengan korban, kejadian bermula ketika Darma bersama rekannya berniat berburu burung di hutan di Kecamatan Teluk Meranti. Mereka berangkat mengendarai sepeda motor dan berencana beberapa hari berburu di sana.

"Baru hari pertama, korban terpisah dari temannya dan tersesat hingga malam hari. Korban lalu mencari tempat istirahat," kata Faizal.

Di hari kedua, korban melanjutkan perburuan burung seraya mencari rekan di hutan. Ketika siang menjelang, korban bertemu beruang yang langsung menyerangnya.

Berbekal parang tumpul, korban berusaha menyelamatkan diri dan melawan hewan buas itu. Beberapa saat setelah bertarung, beruang tadi langsung meninggalkan korban karena diduga kelelahan serta mengalami luka.

"Mungkin beruang kelelahan, dan meninggalkan korban begitu saja," kata Faizal meniru pengakuan korban.

Korban sendiri, akibat pertarungan itu, menderita sejumlah luka serius. Korban berusaha bertahan hidup di tengah hutan dengan peralatan seadannya.

"Korban bertahan hidup, dia minum air parit hingga bertahan delapan hari," terang Faizal.

Delapan hari bertahan dari maut, korban dihampiri keberuntungan setelah petugas patroli dari sebuah perusahaan lewat dan memberikan pertolongan kepadanya. "Korban akhirnya dibawa Puskesmas Bunut, selanjutnya dirujuk ke RSUD Selasih," kata Faizal.

 

3 dari 7 halaman

Serangan Balik Ular Piton

Ular Piton
Ilustrasi Foto Ular Piton (iStockphoto)

Keberadaan ular piton sepanjang 7 meter meresahkan warga dan karyawan di seputaran perkebunan PT SSK, Desa Danau Rambai, Kecamatan Batang Gangsal, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Rencana penangkapan lalu disusun oleh empat warga yang sudah terbiasa menangkap ular.

Dalam peristiwa itu, seorang karyawan perusahaan tersebut, Robert Nababan, terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Dia kritis setelah bertarung dengan hewan pelilit itu dan membutuhkan darah golongan O untuk transfusi.

‎"Saat ini, kondisi abang saya (Robert) masih dirawat di ruang ICU RSUD Indrasari Pematangreba," ujar Anas, adik korban dihubungi dari Pekanbaru, Senin, 2 Oktober 2017.

Anas menjelaskan, kejadian bermula ketika korban bersama tiga rekannya masuk ke kawasan perkebunan pada Sabtu, 30 September 2017, sekitar pukul 19.00 WIB. Tujuannya untuk menangkap ular karena sering terlihat di jalanan dan perkebunan.

Anas menambahkan, ular piton itu sejak sebulan belakangan meresahkan warga karena kerap memangsa ternak peliharaan. Ketiga kawan korban mengaku tidak sanggup untuk menjinakkan ular itu, kalau korban tidak ikut.

"Panjangnya sekitar 7 meter, besar kali ularnya. Makanya abang saya diajak oleh tiga temannya karena sudah sering menangkap ular," ucap Anas.

Korban dan tiga rekannya kemudian mengintai ular ini di salah satu ruas jalan. Ketika itu, beberapa warga berhenti karena ular dimaksud melintas. Penangkapan dilakukan dengan berbekal tali dan karung goni.

Salah seorang rekan korban sudah memegang tubuh ular. Selanjutnya, korban diminta memegang kepala ular untuk kemudian dimasukkan ke dalam karung.

"Tiba-tiba ular tadi melawan dan langsung mengigit tangan kiri abang saya yang sedang pegang karung goni," ucap Anas.

Robert yang menjadi incaran ular piton itu langsung menarik tangan kirinya dari mulut ular dan berhasil lepas. Namun, urat nadi tangan kiri korban putus, akibat digigit ular.

Meski demikian, ular piton tersebut akhirnya berhasil ditangkap korban dan rekannya. Ular kemudian dibawa ke tempat keramaian dan mati di tangan warga.‎

Dagingnya sudah dipotong-potong dan dibagikan ke warga sekitar untuk dikonsumsi. Kabar dimakannya ular piton yang membuat Robert kritis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Indrasari itu, dibenarkan oleh Kapolsek Batang Gansal Inspektur Satu Sutarja. 

"Kabar yang saya dapat begitu, daging ularnya dimakan setelah dibagika‎n kepada warga," kata Kapolsek Batang Gansal Inspektur Satu Sujarta, Rabu (4/10/2017) petang.

Dia menyebutkan, masyarakat di sana mayoritasnya nonmuslim, sehingga bisa saja memakan daging ular. Oleh karenanya, Sutarja tidak heran kalau daging ular itu dibagi-bagikan untuk dikonsumsi.

"Maka wajar saja ular itu dimakan, kan mayoritas non muslim," sebut Sutarja.

Desa tersebut memang dikenal banyak ular piton dengan ukuran beragam. Semak-semak dan banyaknya kebun sawit menjadi faktor ular jenis ini berkembang biak dengan cepat.

 

4 dari 7 halaman

Serangan Buaya Kandas

Buaya Muara
Crocodylus porosus atau buaya muara adalah sumber keresahan warga Kupang, Nusa Tenggara Timur, dalam beberapa hari terakhir.

Serangan buaya ganas kembali terjadi di Provinsi Riau. Dua warga di Desa Sikakak, ‎Kecamatan Cerenti, Kabupaten Kuantan Singingi, selamat setelah diserang buaya di sungai setempat. Keduanya berhasil lolos dari terkaman setelah melawan beberapa menit, sehingga reptil raksasa dari zaman purba itu melepaskan gigitannya.

Menurut Kapolres Kuantan Singingi, AKBP Pibri Karpiananto, kedua korban menderita luka serius, sehingga mendapat perawatan. Pemulihan masih dilakukan sejak keduanya diserang pada Minggu sore, 1 Oktober 2017.

"Korban pertama bernama Yolpi Pranyuno berumur 27 tahun, sedangkan korban kedua bernama Candra umur 40 tahun‎," ucap mantan Kasubdit III Reserse Kriminal Umum Polda Riau ini, Senin (2/10/2017) siang.

Pibri menjelaskan, kejadian bermula ketika ‎korban Yolpi mendatangi Sungai Kuantan untuk mandi sekitar pukul 16.00 WIB. Beberapa menit dalam air membersihkan badan, tiba-tiba saja muncul buaya muara dari arah belakang dan langsung mengigitnya.

Dalam terkaman buaya, Yolpi berusaha melawan dan hampir saja diseret ke dasar sungai. Perlawanan Yolpi membuat buaya tadi menyerah dan melepaskan buruannya. "Korban langsung berlari ke tepian sungai menyelamatkan diri," kata Pibri.

Tak lama setelah peristiwa ini, tepatnya pukul 18.00 WIB, buaya yang sama di sungai tersebut kembali mengganas. Dia menyerang korban lainnya, Candra, ketika mandi ‎di lokasi yang berjarak 200 meter dari lokasi pertama.

Sama seperti korban pertama, Candra tak ingin jadi santapan buaya lapar itu dan berusaha melawan sekerasnya. Perlawanannya membuahkan hasil, korban berhasil melepaskan gigitan buaya dan berlari ke tepian.

"Kedua korban ini dilarikan ke rumah sakit setempat untuk perawatan," kata Pibri.

Atas kejadian ini, korban Yolpi disebut Pibri mengalami luka di bagian ‎lutut dan mendapat enam jahitan, selanjutnya luka robek di punggung. Sementara, korban Candra menderita luka robek di bagian betis.

Dengan adanya serangan buaya ganas tersebut, Pibri mengimbau warga sekitar berhati-hati jika beraktivitas di sungai. Ia tak ingin ada korban lainnya yang diterkam buaya.

 

5 dari 7 halaman

Buaya Terkam Pawang

evakuasi buaya muara di pontianak
(Raden AMP/Liputan6.com)

Supriyanto (39) yang mengaku pawang buaya, menjadi korban keganasan buaya di Sungai Muara Jawa, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Tubuhnya diseret ke dasar Sungai Muara Jawa di hadapan puluhan warga yang menonton. Warga bahkan sempat memvideokan tragedi itu dengan layar telepon seluler atau ponsel.

"Supriyanto menjadi korban kedua diseret buaya muara pada saat itu," kata Kepala Polsek Sektor Muara Jawa, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Ajun Komisaris Triyanto, Senin, 18 September 2017.

Triyanto menjelaskan, Supriyanto pada dasarnya berupaya ikut membantu mencari korban atas nama Arjuna yang hilang di lokasi yang sama. Supriyanto mengaku punya kelebihan supranatural indra keenam. Hingga akhirnya, ia nekat mencari korban dengan menyelami sungai.

Lalu siapa sebenarnya Supriyanto, berikut fakta-fakta memilukan di balik tragedi pawang yang diterkam buaya.

Merapal Mantra di dalam Sungai

Dengan berendam di dalam sungai, Supriyanto ini menggelar ritual untuk menangkap buaya ganas yang memangsa warga bernama Arjuna. Namun, saat Supriyanto berenang ke pinggir, tiba-tiba sesuatu yang tidak jelas wujudnya menyerang dari dasar sungai. Di antara keduanya sempat terjadi pergumulan. Namun, beberapa detik kemudian Supriyanto lenyap dan tidak muncul lagi dari sungai. Begitu pun korban yang sebelumnya dicaplok buaya juga hilang.

Ahli Sembuhkan Penyakit Aneh

Supriyanto dikenal sebagai sosok orang pintar di daerahnya. Diketahui, ia kerap menyembuhkan penyakit tak wajar yang diderita orang. Karena memiliki kemampuan menyembuhkan penyakit yang tidak wajar, ia kerap dipanggil ke luar daerah untuk menyembuhkan orang.

Supriyanto mendalami ilmu supranatural sejak muda. Ketenarannya bahkan terkenal hingga ke Pulau Jawa, Sulawesi, dan Sumatera. Namun belakangan diketahui, Supriyanto sebanarnya bukan pawang buaya.

Punya 2 Anak Masih Kecil

Supriyanto yang tewas dimangsa buaya, mempunyai dua anak yang masih bersekolah. Anak pertamanya berusia 14 tahun, sedangkan anak keduanya berumu 9 tahun. Supriyanto yang merupakan warga Muara Jawa Ulu, ia bermaksud membantu pencarian korban Arjuna yang dimangsa buaya, pada Sabtu, 16 September 2017.

Abaikan Firasat Istri

Polisi sebenarnya telah melarang warga untuk berada di dekat Sungai Muara Jawa. Meski belum dipasang garis polisi, Supriyanto nekat menyelam ke dalam sungai. Tak hanya polisi, istri Supriyanto juga telah mewanti-wanti agar Supriyanto tak ikut campur mencari korban.

Namun, kepada istrinya, Supriyanto mengatakan hanya melihat saja. Sebelum pergi ke sungai dimangsa buaya, ia sempat merokok dan meminum kopi bikinan istrinya. Hanya saja, Supriyanto tampak resah.

Pawang Hujan

Supriyanto memang dikenal sebagai orang pintar. Ia terbiasa menyembuhkan warga yang menderita penyakit aneh. Dalam kesehariannya, Supriyanto juga dikenal sebagai pencari tokek. Tokek itu sendiri nantinya akan dijual, yang diduga berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit kronis.

Ternyata, perkara menangani buaya, Supriyanto belum pernah melakukannya sama sekali. Istrinya mengatakan, suaminya lebih sering diminta menjadi pawang hujan.

Kondisi Jenazah

Saat ini, polisi sudah memulangkan kedua jenazah korban agar dikuburkan keluarga masing-masing di Anggana dan Muara.

"Sudah ditemukan keduanya. Kondisi mayat korban masih utuh, hanya ada beberapa luka di badannya," ucap Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Muara Jawa, Ajun Komisaris Triyanto, saat dihubungi Liputan6.com dari Kota Balikpapan.

Triyanto menjelaskan, korban pertama atas nama Arjuna ditemukan mengambang berjarak 10 meter dari lokasi serangan buaya pada Sabtu, 16 September 2017 pukul 00.45 WITA. Pada jenazah korban terdapat luka di sekitar area wajah dan tangan kanannya.

Adapun Supriyanto yang mengaku sebagai pawang buaya, ujar Triyatno, mengalami luka robek gigitan di kaki kiri dan wajahnya. Kedua korban diduga meninggal dunia akibat kehabisan napas setelah diseret ke dalam sungai di Muara Jawa yang dasarnya mencapai lima meter.

 

6 dari 7 halaman

Jangan Bangunkan Babi Tidur

Ilustrasi Babi Hutan
Peluru milik pemburu yang ditargetkan untuk babi hutan buruannya, salah sasaran dan mengenai wanita tersebut (sumber. Telegraph.co.uk)

Nasib nahas menimpa seorang petani di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Ia tewas usai diserang seekor babi hutan di sebuah kebun, Kamis pagi, 5 Oktober 2017, sekitar pukul 06.30 WIB.

Korban bernama Tohari (55), warga Desa Dukuh Salam Kecamatan Slawi. Ia meninggal dunia setelah sempat mendapatkan perawatan medis di RSUD dr Soeselo Slawi.

Informasi yang dihimpun Liputan6.com, Tohari melihat babi hutan itu usai buang hajat di sungai yang tak jauh dari rumahnya. Tohari sempat pulang dan memberi tahu anak dan istrinya, bahwa ada babi yang sedang tidur di dekat sungai.

Anak dan istri korban sempat memberi tahu agar Tohari tidak kembali ke sungai. Namun, Tohari membandel, dan malah mengganggu babi hutan yang tengah tidur itu.

Babi itu mengamuk dan menyerang Tohari hingga pria paruh baya itu tersungkur. Tohari sempat melawan. Karena ukuran babi lebih besar dan sifat liar babi yang membuncah, Tohari kalah.

Warga yang kebetulan melintas, membawa Tohari pulang ke rumah dengan kondisi terluka parah. Tohari meninggal akibat luka parah di sekujur tubuhnya seperti bagian kaki, badan, tangan, dan kepala akibat terjangan moncong babi hutan seberat satu kuintal itu.

Sugiarti, anak Tohari mengatakan, bapaknya sempat dibawa ke rumah sakit. Namun karena luka cukup parah, Tohari akhirnya mengembuskan napas terakhir. "Tadi juga bapak sempat dibawa ke rumah sakit dan penanganan medis. Tapi nyawanya tak tertolong," kata dia lirih.

Warga yang marah kemudian memburu babi yang dianggap telah membunuh Tohari tersebut. Dengan peralatan seadanya, yakni sebilah kayu dan tali, warga mencari keberadaan babi hutan itu.

Usaha warga pun tak sia-sia, babi hutan itu terkepung dan berhasil ditangkap. Tanpa pikir panjang, babi yang tertangkap itu pun dibunuh. Seno, warga setempat mengatakan, serangan babi hutan tak hanya terjadi sekali. Kawanan babi hutan juga sering merusak ladang dan kebun milik warga.

"Sudah hampir setahun belakangan ini kawanan babi hutan sering terlihat di ladang milik warga. Hewan moncong itu merusak tanaman di beberapa desa," ucap Seno.

 

7 dari 7 halaman

Babi Bikin Patah Tulang

Duel Manusia vs Babi Hutan Terulang, 2 Petani Patah Tulang
Dua petani yang diserang babi hutan hingga tersungkur di tanah dan menderita patah tulang mengaku tak pernah mengganggu babi. (Liputan6.com/Fajar Eko Nugroho)

Konflik antara manusia dengan babi hutan kembali terjadi dan semakin memanas. Kejadian terbaru terjadi pada Minggu sore, 8 Oktober 2017 di Tegal, Jawa Tengah. Akibatnya, dua petani mengalami luka robek hingga patah tulang.

Kejadian itu berawal saat kedua korban bernama Ustad (45), warga Desa Gunung Agung, dan Rosidi (40), warga Desa Cempaka, Kecamatan Bumijawa, baru saja keluar dari kebun setelah bercocok tanam di sawah.

Tiba-tiba, seekor babi hutan menyerang dua petani di dua tempat berbeda sekitar pukul 16.30 WIB. Ustad diserang ketika sedang bercocok tanam di sawah miliknya, sedangkan Rosidi diserang saat sedang mencari rumput untuk makanan hewan ternak miliknya.

Meskipun kedua korban melawan, mereka tak sanggup dengan kekuatan babi hutan bewarna hitam itu. Mereka akhirnya jatuh tersungkur dengan sejumlah luka di bagian tubuh.

"Saya sempat menghindar, tapi babi itu seperti kesetanan mengincar saya. Karena serangan babi yang begitu liar, akhirnya saya jatuh tersungkur di tanah," ucap Ustad, Senin 9 Oktober 2017.

"Ini benar-benar menakutkan seperti monster. Babi hutan itu badannya cukup besar. Dan juga tak segan-segan menyerang manusia yang dilihatnya di mana pun," kata dia.

Hal senada diungkapkan Rosidi. Ia mengaku tak pernah mengganggu babi hutan, meskipun tak sengaja melihat keberadaannya di kebun. Ia bahkan selalu menghindar jika melihat babi hutan.

"Enggak berani mendekat, takut diserang. Tapi mungkin karena babi hutan saat itu lihat saya, kemudian langsung menyerang," ucap Rosidi.

Akibat kejadian itu, keduanya mengalami luka robek di tangan, perut, dan kaki. Ustad masih dirawat di IGD Puskesmas Bumijawa. Sementara, kondisi luka Rosidi yang lebih parah memaksanya untuk dirujuk ke RSUD dr Soeselo Slawi.

Tenaga medis RSUD dr Soeselo Slawi, Ahmad Rosidi, mengatakan Rosidi memang mengalami luka-luka sedang, tetapi lukanya cukup banyak. Luka-luka itu meliputi patah tulang tangan, tulang kaki, dan tulang hidung.

"Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut karena pasien merasakan nyeri di bagian dada," ucap Ahmad Rosidi.

Sebelumnya, pada Kamis, 5 Oktober 2017 lalu, seekor babi hutan dan seorang petani di Kecamatan Slawi Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, meregang nyawa usai duel di antara mereka di sebuah kebun.

Saat itu, korban bernama Tohari (55), warga Dukuh Salam, Kecamatan Slawi, sempat dilarikan di Rumah Sakit dr Soeselo Slawi. Namun, karena luka-luka parah yang dideritanya di bagian kepala, rahang, dada dan kakinya, ia meninggal dunia.

Babi yang membuat Tohari meninggal dunia kemudian diburu warga. Si babi akhirnya mati dan sempat menjadi tontonan warga.

Lanjutkan Membaca ↓