Pengungsi Perahu dari Gunung Agung Tak Tenang Gara-Gara Sapi

Oleh Hans Bahanan pada 04 Okt 2017, 09:33 WIB
Diperbarui 04 Okt 2017, 09:33 WIB
Pengungsi Perahu
Perbesar
Anak-anak Pengungsi asal Desa Ujung Pesisir Islam, Karangasem, Bali ‎ bermain di tepi pantai Pantai Melase, Kecamatan Batu Layar, Lombok Barat. Foto: (Hans Bahanan/Liputan6.com)

Liputan6.com, NTB - Puluhan warga Desa Ujung Pesisir Islam, Karangasem, Bali, yang mengungsi ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), nekat ingin kembali ke kampung halamannya demi hewan ternak.

Sebab, sejak mereka mengungsi, mereka meninggalkan hewan ternak dan barang-barang rumah tangga lainnya untuk menyelamatkan diri dari letusan Gunung Agung. Karena itu, mereka sangat menghawatirkan ternak mereka.

"Kami mau berangkat Kamis pagi pakai perahu karena sapi-sapi kami tak ada yang urus dan anak-anak juga mau sekolah," ujar Syahidan, salah seorang pengungsi asal Desa Ujung Pesisir Islam, Selasa, 3 Oktober 2017.

Syahidan mengaku memiliki 10 ekor sapi dan beberapa petak sawah. Namun sejak status Gunung Agung dinaikkan ke level Awas dan gempa terus-menerus terjadi, dia terpaksa meninggalkan hewan ternak tersebut demi keselamatan diri sendiri dan keluarganya.

Awalnya ia begitu panik dan sempat ingin menjual sapi- sapi tersebut demi kebutuhannya selama mengungsi. Namun, karena harga yang ditawarkan pembeli sangat murah, yaitu hanya 3 juta rupiah per ekor, ia pun urung menjualnya.

"Saya tidak mau jual, masa sapi tiga ekor ditawar 9 juta. Padahal, biasanya harganya 11-16 juta rupiah per ekornya," kata Syahidan.

Syahidan dan keluarganya mengungsi ke Lombok pada Senin, 2 Oktober 2017 karena khawatir akan lahar Gunung Agung yang dipastikan akan mengalir melalui sungai yang ada di daerah mereka. Hal sama yang terjadi kala Gunung Agung meletus pada 1963.

Karena itu, ia terpaksa mengungsi ke Lombok bersama anak dan istrinya menggunakan perahu kayu dari Pantai Ujung Pesisir Islam, Karangasem, menuju ke Pantai Melase, Batu Layar, Lombok Barat, melalui Selat Lombok.

"Laharnya pasti akan mengalir di sungai itu, jadi kami panik dan berusaha menyelamatkan diri. Mau ke kota kejauhan dan macet, jadi terpaksa pakai perahu ke Lombok," kata Syahidan.

Saksikan video pilihan berikut ini!