Perhitungan PVMBG soal Kemungkinan Gunung Agung Tak Jadi Erupsi

Oleh Yanuar HDewi Divianta pada 02 Okt 2017, 14:30 WIB
Diperbarui 02 Okt 2017, 14:30 WIB
Perhitungan PVMBG Soal Kemungkinan Gunung Agung Tak Jadi Erupsi
Perbesar
Gempa yang terdeteksi semakin sering merupakan manifestasi dari pergerakan magma dari bawah Gunung Agung. (Liputan6.com/Dewi Divianta)

Liputan6.com, Karangasem - Sudah sepuluh hari sejak ditetapkan di level Awas, Gunung Agung terus mengeluarkan asap putih dari dalam kawah. Kepala Subbidang Mitigasi Pemantauan Gunung Api Wilayah Timur Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Devy Kamil, menyebut asap putih itu sebagai asap solfatara.

Menurut Devy, pembentukan asap terjadi karena pergerakan magma dari bawah gunung tertahan di leher magma. Leher magma itu bisa terbentuk karena gunung terbesar di Pulau Dewata itu sudah pernah meletus.

Magma yang tertahan di bawah leher magma kemudian menggumpal lantaran tak memiliki saluran untuk keluar. Sementara, leher saluran magma begitu keras dan belum dapat ditembus.

"Tapi datang terus-menerus tekanan. Akhirnya dia menghasilkan gelembung gas yang terpisah dari cairan. Lama-lama gelembung gas itu makin banyak dan terus bertambah. Sampai akhirnya banyak sekali dan menjadi gelembung besar," kata Devy di Pos Pemantauan Gunung Api Agung, Rendang, Senin (2/9/2017).

Ia melanjutkan, ketika tekanan terus-menerus terdorong dari bawah gunung, magma akan berusaha mencari ruang termudah di dalam diri gunung tersebut. Ruang termudah itu adalah melewati patahan yang manifestasinya berupa getaran-getaran gempa vulkanik dan tektonik.

"Dia kan kumpulan gas. Dia kepingin ke luar. Dia berusaha terus untuk itu. Nah, sekarang kalau steaming ke atas, dia terus mencari celah. Dan akhirnya September, ketika dibombardir sekian banyak gempa, keluarlah asap solfatara," ucap Devy.

Kemunculan asap solfatara dari puncak Gunung Agung, kata Devy, merupakan suatu keanehan. Pasalnya, asap itu tidak pernah keluar sejak gunung diamati Juli lalu.

"Akhirnya setelah Juli itu mulai keluar kecil. Mulai Agustus dan September mulai rutin, tapi tipis. Tapi sekarang sudah berbunyi zzzzzzz. Itu namanya steaming jet. Sudah terbayang seperti apa itu," katanya.

Devy mengatakan, apabila ada celah dari patahan yang bisa ditembus magma, gas otomatis bisa keluar dalam jumlah besar. Jika itu terjadi, Gunung Agung kemungkinan tidak jadi meletus. Sebaliknya, jika gas yang terbuang dalam volume kecil, kemungkinan erupsi Gunung Agung semakin besar.

"Jadi, kalau kita lihat asap yang ke luar sedikit, itu justru was-was kita, karena gasnya tidak rilis kan. Inginnya kita rilis terus, kalau bisa membesar asapnya," ujarnya.

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Simulasi Erupsi Gunung Merapi di Yogya

Gunung Merapi
Perbesar
Gunung Merapi (Liputan6.com/ Reza Kuncoro)

Kesiapsiagaan menjadi hal utama dari penanganan bencana alam di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Setidaknya ada dua agenda simulasi yang akan digelar sebagai bentuk kesiapsiagaan bencana.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)DIY akan menggelar gladi lapang penanganan darurat bencana erupsi Gunung Merapi pada 18 Oktober 2017 dan simulasi penanganan banjir pada November.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah DIY Krido Suprayitno mengatakan kesiapsiagaan ini dilakukan untuk mengukur kesiapan masyarakat dan pemerintah dalam menghadapi bencana. Simulasi itu penting dalam hal koordinasi dengan berbagai instansi yang terlibat dalam penanganan bencana.

"Kita tidak boleh lengah, meskipun kita tidak ingin bencana terjadi. Siaga itu kita siapkan simulasi di 18 Oktober 2017 dan simulasi di bulan November," katanya, Minggu, 1 Oktober 2017.

Krido mengatakan gladi lapang bencana erupsi Merapi ini sudah direncanakan jauh-jauh hari. Saat ini, endapan hasil erupsi Merapi masih ada jutaan meter kubik di kawasan atas yang jika terjadi banjir, material itu akan terbawa arus sungai dan membahayakan warga.

"Sedimen Merapi jutaan meter kubik di KRB 3, apalagi di KRB 1. Ini persiapan karena itu masuk periodesasi (Merapi). Tapi kalau itung-itungan di lapangan berbeda. Merapi masih proses kita persiapan saja," katanya.

Krido mengatakan, biaya persiapan hingga simulasi mencapai Rp 150 juta. Simulasi dilakukan di daerah Sindumartani, Jongkang, Ngaglik, Sleman, karena menjadi daerah yang paling rawan terkena erupsi Merapi.

"Itu di wilayah timur dekat dengan Merapi secara fisik mengarah ke selatan. Lokasi ini juga padat penduduk di jarak 10 km," katanya.

Krido berharap simulasi itu akan meningkatkan kesiapan warga menghadapi bencana. Ia berharap pada 2022, setiap desa menjadi desa siaga. Saat ini, baru 187 desa siaga dari 301 desa yang ada di DIY.

"Kita punya renkon atau rencana kontijensi. Renkon itu secara periodik diuji ya lewat simulasi," kata Krido.

Lanjutkan Membaca ↓