Buaya Kepala Kodok Mulai Terlihat di Perairan Kota Sampit

Oleh Liputan6.com pada 18 Sep 2017, 11:02 WIB
Diperbarui 18 Sep 2017, 11:02 WIB
Binatang Buas Buaya
Perbesar
Ilustrasi Foto Buaya (iStockphoto)

Liputan6.com, Sampit - Masyarakat yang tinggal di pinggir Sungai Mentaya, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, was-was dengan kemunculan buaya yang kini mulai terlihat di perairan kawasan Kota Sampit.

"Kaget juga begitu mengetahui ada pengemudi kelotok yang melihat buaya muncul karena aktivitas kapal besar dan kelotok di perairan kawasan kota ini kan cukup padat. Kalau buaya sampai muncul di sini, berarti ada pemicunya," kata Samsudin, warga Sampit, Minggu, 17 September 2017, dilansir Antara.

Beberapa pengemudi kelotok (perahu kecil bermotor) melihat kemunculan buaya di perairan dekat kawasan Mentaya Seberang. Dari bentuk kepalanya, buaya tersebut diduga jenis buaya muara. Buaya jenis ini sering disebut buaya kodok karena bentuk kepalanya mirip kepala kodok.

Kabar munculnya buaya di perairan kawasan kota dinilai tidak lazim. Selama ini, buaya sering muncul di perairan kawasan Mentaya Hilir Selatan dan sekitarnya, khususnya di sekitar Pulau Lepeh. Pulau itu merupakan pulau kecil di tengah Sungai Mentaya yang diduga menjadi habitat buaya karena buaya sering terlihat berjemur di kawasan itu.

Kemunculan buaya di perairan dekat permukiman membuat masyarakat was-was karena sebagian masyarakat pinggir sungai banyak beraktivitas di sungai. Masyarakat menduga buaya itu muncul akibat makin sulitnya mendapatkan makanan di habitatnya, sehingga mulai menyasar ke kawasan permukiman.

"Sejauh ini, memang belum ada gangguan. Buaya hanya muncul, kemudian tenggelam. Tapi meski begitu, tetap saja menakutkan. Yang namanya binatang buas, kalau kelaparan pasti akan memangsa apa pun yang bisa dimakannya," kata Samsudin.

Masyarakat juga menduga, kemarau yang mulai terjadi bisa menjadi pemicu, sehingga buaya tersasar ke kawasan permukiman. Pasang dan surut air sungai membuat buaya harus menyesuaikan diri dengan kondisi permukaan dan arus air.

Komandan Pos Jaga Balai Konservasi Sumber Daya Alam Daerah Kalimantan Tengah di Sampit, Muriansyah, mengaku belum mendapat laporan terkait masalah itu. Jika kabar itu benar, Muriansyah mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di sungai agar tidak menjadi korban terkaman buaya.

"Saya belum dapat informasi terkait masalah ini. Ini akan segera kami telusuri informasinya," kata Muriansyah.

Serangan buaya memang masih menjadi ancaman bagi masyarakat yang beraktivitas di Sungai Mentaya. Beberapa tahun terakhir, hampir tiap tahun ada saja warga yang diterkam buaya. Sebagian korbannya meninggal dunia, bahkan ada yang jenazahnya tidak ditemukan lagi.

Untuk mencegah jatuh korban jiwa akibat terkaman buaya, Balai Konservasi Sumber Daya Alam memasang pengumuman peringatan waspada ancaman buaya di sejumlah lokasi bantaran sungai. Populasi buaya di Sungai Mentaya yang diperkirakan masih cukup banyak, harus diwaspadai seluruh masyarakat.

Saksikan video pilihan berikut ini: