Sensasi Wine Pala dari Kepulauan Sangihe

Oleh Yoseph Ikanubun pada 16 Sep 2017, 15:02 WIB
Diperbarui 16 Sep 2017, 15:02 WIB
Benarkah Konsumsi Wine Bisa Turunkan Risiko Diabetes?
Perbesar
Benarkah Konsumsi Wine Bisa Turunkan Risiko Diabetes?

Liputan6.com, Sangihe - Mereka sekolah di daerah yang cukup terpencil, di SMK Kelautan dan Perikanan Baramuli, Kecamatan Tamako, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara. Namun, meski jauh dari pusat perkotaan, puluhan siswa ini mampu mengolah daging buah pala menjadi wine yang hangat dan nikmat.

"Daging buah pala ini memang tidak digunakan oleh petani maupun pedagang di sini. Kasihan memang karena hanya dibuang begitu saja, sehingga saya berpikir untuk mengolahnya menjadi produk yang berguna. Selain selai, juga menjadi wine," ungkap Milda Lantemona, guru SMK Perikanan dan Kelautan Baramuli Tamako, Jumat, 8 September 2017.

Dalam sebuah ruangan berukuran sekitar 3x5 meter, di Kampung Balane, Kecamatan Tamako, Kepulauan Sangihe, sejumlah siswa tampak sibuk dengan pekerjaan mereka. Lengkap dengan baju praktikum seperti jubah putih, mereka membersihkan daging buah pala untuk diolah menjadi selai dan wine.

"Mereka masih duduk di kelas XI Jurusan Pengolahan Hasil Perikanan. Jadi prakteknya mereka langsung dengan membuat kecap, nuget, dan bakso ikan. Selain itu juga membuat selai dan wine pala," ujar Milda, lulusan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Sam Ratulangi Manado.

Hangatnya wine pala dari Kepulauan Sangihe karya anak-anak SMK Tamako (Liputan6.com/Yoseph Ikanubun)

Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk pengolahan wine pala ini mudah diperoleh. "Daging buah pala berlimpah, karena tidak digunakan petani dan pedagang. Lalu gula pasir, ragi, dan air," ujar Milda yang pernah bertugas sebagai guru di sejumlah pulau di daerah perbatasan Filipina ini.

Semua peralatan yang dibersihkan digunakan agar steril. Pembersihan ini merupakan proses awal dalam pengolahan wine pala. Selanjutnya, satu kilogram daging pala yang telah dikupas, dikukus dengan menggunakan dandang sampai tekstur daging pala itu lembut.

"Kemudian dituangkan ke dalam wajan. Daging pala yang telah dikukus tadi, dihaluskan dengan menggunakan blender. Hasil gilingan daging pala yang telah halus diperas dengan menggunakan kain saringan dan dituangkan ke dalam panci," jelas Milda.

Hangatnya wine pala dari Kepulauan Sangihe karya anak-anak SMK Tamako (Liputan6.com/Yoseph Ikanubun)

Selanjutnya, ditambahkan satu kilogram gula putih dan lima liter air. Setelah semua bahan tercampur di dalam panci, maka proses perebusan dilakukan hingga mendidih. Jika sudah mendidih, adonan didinginkan kemudian ditambahkan satu sendok ragi.

"Setelah itu dituangkan kedalam toples, dibiarkan atau difermentasi selama satu bulan untuk menjadi wine. Semakin lama wine difermentasi, maka semakin baik pula kualitas wine tersebut," ungkap Milda.

Dia menambahkan, dari satu kilogram daging buah pala itu bisa diperoleh lima botol berisi sekitar 600 mililiter wine pala.

Dengan kadar alkohol 10 persen, wine pala asal Kepulauan Sangihe ini cukup menghangatkan. "Sudah ada beberapa pemesan produk wine pala ini dari luar daerah seperti Kupang," tandas Milda.

Untuk memperkuat kelembagaan dan keterampilan siswa maupun masyarakat, dibentuklah Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Anugerah, Kampung Balane. "Kelompok ini bergerak di bidang disertifikasi produk perikanan dan pertanian," ujar dia.

KSM Anugerah ini mendapat pendampingan Perkumpulan Sampiri dan Yapeka. "Melalui kelompok ini siswa dan masyarakat ditingkatkan kapasitasnya, terutama ketrampilan mengolah hasil-hasil alam yang melimpah di daerah ini seperti pala," ungkap Ami Raini Putriraya dari Perkumpulan Yapeka.

 

Simak video pilihan berikut ini:

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya