Jangan Malu-Malu Cicipi Sagu Porno di Sangihe 

Oleh Yoseph Ikanubun pada 18 Sep 2017, 07:30 WIB
Diperbarui 18 Sep 2017, 07:30 WIB
Sagu Porno
Perbesar
Salah satu proses pembuatan sagu porno (Liputan6.com / Yoseph Ikanubun)

Liputan6.com, Sangihe - Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara, menyimpan kekayaan alam yang besar. Selain punya sumber daya kelautan dengan hasil ikan yang melimpah, daerah yang berbatasan dengan Filipina ini juga kaya akan keanekaragaman bahan pangan. Sebut saja tepung sagu, yang salah satu olahannya adalah menu sagu porno.

"Kami memang menyebutnya dengan sagu porno. Sejak dulu memang demikian penyebutannya," kata Cut Nyak Din Kendaunusa, warga Kampung Karatung Satu, Kecamatan Manganitu, Jumat, awal September lalu.

Cut Nyak Dien menjelaskan, sekali pun disebut sagu porno, sebenarnya tidak ada kaitan langsung dengan pornografi. “Hanya saja cetakan khusus untuk mengolah bahan tepung sagu itu yang disebut porno,” ucapnya.

Pengolahan tepung sagu sebelum diolah lagi menjadi berbagai jenis penganan, termasuk sagu porno, membutuhkan proses yang cukup panjang. Awalnya batang pohon sagu berdiameter sekitar 50 sentimeter dengan panjang 3-4 meter dipotong. 

Batang sagu itu kemudian dibersihkan dan dibelah menjadi 6-8 bagian. Tahap selanjutnya mengambil isi bagian dalam batang sagu itu dengan menggunakan mesin.

"Ini proses untuk mengambil bagian isi batang sagu untuk diolah menjadi tepung sagu," ujar Cut Nyak Dien, yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Kampung Karatung Satu.

Setelah isi bagian dalam batang satu itu sudah dihaluskan dengan menggunakan mesin, Yahulin, seorang ibu rumah tangga di kampung itu, sudah siap dengan peralatan sederhana untuk mengambil tepung sagu. Caranya isi bagian dalam yang sudah halus itu dicampur air dan diperas untuk memisahkan tepung sagu dan mengendapkannya di wadah yang sudah disiapkan.

"Tahap akhir adalah setelah tepung sagu mengendap, kita tinggal membuang airnya dan mengangkap tepung sagu untuk pengolahan selainjutnya," ujar dia.

Salah satu olahan dari tepung sagu itu yang tadi disebut sagu porno. Tepung sagu itu dibakar menggunakan cetakan khusus yang terbuat dari tanah liat.

"Cetakan itu lazim disebut porno. Dalam bahasa lokal olahan sagu itu disebut humbia pineda, tetapi lebih populer dengan sebutan sagu porno," ujar Cut Nyak Dien.

Sagu porno ini tidak langsung dibakar di api. Cetakan dari tanah liat yang terdiri beberapa kotak kecil berbentuk persegi panjang tersebut dibakar di atas bara api. Setelah panasnya cukup, tepung sagu kasar dituangkan di dalam cetakan. Lalu cetakan ditutupi seng dan di atasnya diletakkan bara.

"Nah, sagu akan akan masak dari hasil panas cetakan tanah liat tersebut. Rasa yang dihasilkan memang gurih. Apalagi jika dinikmati dengan menu ikan kuah ataupun ikan bakar," ujar dia.

Selain menjadi sagu porno, tepung sagu itu juga bisa diolah menjadi beberapa jenis penganan seperti mi dan makaroni. “Misalnya untuk mi sagu, kini makin banyak penggemarnya,” tutur Ketua Kelompok Tani KSM Lestari, Markus Samodara.

Melihat potensi tanaman sagu sebagai salah satu sumber bahan pangan yang besar di Kepulauan Sangihe, sejumlah pegiat masyarakat ikut melakukan pendampingan terhadap warga untuk terus mengembangkan tanaman sagu.

"Sagu ini penting sebagai salah satu upaya ketahanan pangan," kata Sam Barahama dari Perkumpulan Sampiri dan Ami Raini dari Perkumpulan Yapeka, dua lembaga yang aktif memberdayakan masyarakat Sangihe.

Saksikan video pilihan berikut ini:

 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya