Aktivitas Vulkanik Meningkat, Status Gunung Agung Jadi Waspada

Oleh Anri Syaiful pada 14 Sep 2017, 20:01 WIB
Diperbarui 14 Sep 2017, 20:01 WIB
Gunung Agung
Perbesar
Peningkatan status Gunung Agung, Karangasem, Bali, dari Normal ke Waspada pada 14 September 2017. Visual tanggal 13 September 2017. (Foto: Istimewa/PVMBG/Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral)

Liputan6.com, Karangasem - Status Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali, dinaikkan dari Level I (Normal) ke level II (Waspada). Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menaikkan status Gunung Agung terhitung mulai Kamis sore tadi sekitar pukul 14.00 Wita.

"Adanya peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Agung berdasarkan analisis data visual, instrumental, dan mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya," ucap Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, dalam keterangan tertulis, Kamis (14/9/2017) malam.

Terkait dengan kenaikan tersebut, menurut Sutopo, Badan Geologi telah memberitahukan kepala daerah dan instansi lain. Rekomendasi yang dikeluarkan oleh Badan Geologi antara lain masyarakat di sekitar gunung dan pengunjung agar tidak beraktivitas di dalam area kawah dan seluruh area di dalam radius tiga kilometer dari kawah gunung, atau pada elevasi 1.500 meter dari permukaan laut (mdpl).

Sejauh ini, imbuh dia, BNPB telah berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Bali dan BPBD Kabupaten Karangasem terkait peningkatan status Waspada Gunung Agung. Sosialisasi akan dilakukan kepada masyarakat agar mematuhi rekomendasi.

"Rencana kontinjensi akan segera disusun untuk merencanakan segala kemungkinan jika adanya peningkatan status gunung api lebih lanjut," ujar Sutopo.

Adapun Pos Pengamatan Gunung Agung yang berlokasi di Desa Rendang, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, merekam tujuh kali gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplitudo 2-6 mm, lama gempa 12-23 detik.

Selain itu, tercatat empat kali gempa Vulkanik Dangkal (VB) dengan amplitudo 3-6 mm dan lama gempa 7-13 detik. "Satu kali gempa Tektonik Lokal (TL) dengan amplitudo 6 mm, S-P 4.8 detik dan lama gempa 37 detik pada Rabu (13 September 2017)," Sutopo menambahkan.

Sejauh ini, menurut dia, petugas Pos Pengamatan Gunung Agung mengamati belum adanya perubahan signifikan tinggi dan tebal asap dari kawah dalam kurun waktu tiga bulan terakhir.

Adapun Badan Geologi melaporkan bahwa berdasarkan informasi dari pendaki Gunung Agung, pada 13 September lalu, terlihat embusan solfatara dari dasar kawah yang sebelumnya tidak pernah terlihat sampai periksaan terakhir pada April 2017.

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Aktivitas Vulkanik Meningkat

Gunung Agung
Perbesar
Status Gunung Agung di Karangasem, Bali, naik dari Normal ke Waspada pada 14 September 2017. Visual tanggal 1 Juli 2017. (Foto: Istimewa/PVMBG/Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral)

Menurut Sutopo, Badan Geologi juga melaporkan data terukur terkait dengan peningkatan status, seperti material vulkanik, tingkat kegempaan, dan citra termal.

Pada indikator gempa Vulkanik Dalam (VA) mengindikasikan proses peretakan batuan di dalam tubuh gunungapi yang diakibatkan oleh tekanan fluida magmatik dari kedalaman mulai terekam meningkat jumlahnya secara konsisten sejak 10 Agustus 2017 dengan amplitudo kegempaan vulkanik berkisar antara 3 mm sampai 10 mm.

Gunung Agung memiliki sejarah aktivitas erupsi yang dicirikan oleh erupsi-erupsi yang bersifat eksplosif dan efusif dengan pusat kegiatan yang berada pada kawah. Masih dilihat pada sejarah erupsi, potensi ancaman berupa bahaya berupa jatuhan piroklastik, aliran piroklastik, dan aliran lava.

Sutopo memaparkan, daerah yang berpotensi terancam jatuhan piroklastik dapat tersebar di sekeliling Gunung Agung tergantung pada arah angin. Dengan kondisi aktivitas seperti saat ini, apabila terjadi letusan, potensi bahaya diperkirakan masih berada di area tubuh Gunung Agung yang berada di lereng utara, tenggara, dan selatan gunung.

Sementara itu, ancaman bahaya secara langsung berada di daerah utara gunung, seperti di daerah aliran sungai Tukad Tulamben, Tukad Daya, Tukad Celagi yang berhulu di area bukaan kawah, Sungai Tukad Bumbung di Tenggara, Pati, Tukad Panglan, dan Tukad Jabah di selatan Gunung Agung berpotensi terhadap bahaya aliran piroklastik dan lahar. Jika erupsi efusif berupa aliran lava Gunung Agung.

Badan Geologi mencatat bahwa Gunung Agung yang meletus pada 12 Maret 1963 berskala VEI 5, dengan tinggi kolom erupsi setinggi 8-10 km di atas puncak Gunung Agung dan disertai oleh aliran piroklastik yang menghancurkan beberapa desa di sekitar.

VEI merupakan skala pengukuran relatif letusan gunung. Gunung Agung dengan VEI 5 dideskripsikan mengalami erupsi sangat besar. "Saat itu, letusan menewaskan sekitar 1.100 jiwa, yang sebagian terkena aliran lahar," ujar Sutopo, mengutip Badan Geologi.

Aktivitas Gunung Agung selesai pada 27 Januari 1964 dan menyisakan kawah dengan diameter 500 meter dan kedalaman hingga 200 meter.

Kendati demikian, Sutopo mengimbau warga untuk tetap tenang dan tidak terpancing pada hal-hal yang menyesatkan. Letusan gunung bersifat slow on set. Artinya, tidak seketika meletus, namun selalu mengeluarkan tanda-tanda peningkatan aktivitas vulkanik sebelumnya sehingga PVMBG dapat menetapkan rekomendasi lebih lanjut.

Lanjutkan Membaca ↓