Petani Lebak Resah Tak Ada Burung Hantu di Pohon Besar

Oleh Liputan6.com pada 28 Agu 2017, 21:00 WIB
Diperbarui 28 Agu 2017, 21:00 WIB
Tari burung hantu (1)
Perbesar
Para penjaga hutan kemudian mengasuh anak-anak burung itu, walaupun nantinya akan dilepaskan kembali pada bulan Agustus. (Sumber cuplikan video People's Daily)

Liputan6.com, Lebak - Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Lebak, Banten meminta warga melestarikan populasi burung hantu (strigiformes). Tujuannya untuk mengurangi resiko serangan hama tikus.

Selama ini, serangan hama tikus yang menyerang tanaman padi sulit diberantas akibat menurunya jumlah populasi ular dan burung hantu. Penanganan hama tikus dilakukan petani dengan cara pengemposan, penyediaan racun tikus dengan menggunakan zat kimia untuk membunuh tikus.

Padahal, lebih efektif melestarikan predator alami yakni burung hantu yang juga ramah lingkungan dibandingkan menggunakan senyawa kimia.

"Kami berharap populasi burung hantu dilestarikan dan tidak dilakukan pemburuan," kata Kepala Seksi Perlindungan Tanaman Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Lebak, Itan Oktarianto di Lebak, Senin (28/8/2017), dilansir Antara.

Ia mengajak warga agar tidak melakukan perburuan burung hantu karena bisa meminimalisasi serangan hama tikus yang menyerang tanaman padi milik petani. Saat ini, jumlah populasi burung hantu di sejumlah daerah di Kabupaten Lebak terancam punah dan tidak ditemukan lagi di pohon-pohon besar.

Biasanya, suara burung hantu itu terdengar merdu di malam hari. Namun, kini populasinya terancam punah sehingga serangan hama tikus mengkhawatirkan.

"Kami menduga menghilangnya burung hantu itu akibat perburuan juga kerusakan hutan yang menjadi habitatnya," katanya.

Menurut Itan, selama ini serangan hama tikus terjadi di sejumlah kecamatan sehingga produksi pangan menurun. Berdasarkan data serangan hama yang meyerang tanaman padi di Kabupaten Lebak seluas 1.022 hektare dan 148 hektare dilaporkan mengalami gagal panen. Penyabab serangan hama itu di antaranya wereng batang coklat (WBC) dan tikus.

Saat ini, kata dia, populasi burung hantu yang tinggal di pohon-pohon besar, seperti pemakaman warga maupun hutan desa sudah tidak ditemukan. Burung hantu adalah kelompok burung yang merupakan anggota ordo strigiformes dan masuk golongan burung buas (karnivora, pemakan daging) dan merupakan hewan malam (nokturnal).

"Kami minta warga melestarikan burung hantu itu dan tidak melakukan perburuan juga merusak hutan," katanya.

Jarkasih (50) warga Desa Malabar Kecamatan Cibadak Kabupaten Lebak, mengaku tanaman padi miliknya seluas dua hektare gagal panen akibat serangan hama tikus itu. Sekitar 1990-an, kata dia, serangan hama tikus terhadap tanaman padi tidak begitu parah karena masih banyak ditemukan burung hantu.

Saat ini serangan hama tikus meluas sehingga merugikan pendapatan petani.

"Kami pada 1980-1990-an masih mengamati banyak burung hantu di pohon-pohon besar, namun kali ini hampir punah," katanya.