Pihak Taman Nasional Komodo Buru Pengunggah Foto Pembantaian Rusa

Oleh Ola Keda pada 10 Agu 2017, 09:01 WIB
Diperbarui 10 Agu 2017, 09:01 WIB
Pihak Taman Nasional Komodo Buru Pengunggah Foto Pembantaian Rusa
Perbesar
Ilustrasi rusa.

Liputan6.com, Kupang - Beredarnya foto pembantaian rusa yang disebut terjadi di Taman Nasional Komodo membuat geram Kepala Balai Nasional Komodo, Sudiyono. Untuk itu, pihaknya membentuk tim investigasi internal untuk memburu pemilik akun Facebook yang memuat foto tersebut.

"Tim kami mendapatkan hasil bahwa dalam Facebook tersebut terdapat dua orang pelaku percakapan serta kapal dengan ciri khas daerah tertentu. Sementara data lain yang kami dapatkan dalam proses investigasi, tidak semuanya dapat kami sampaikan pada kesempatan ini agar tidak mengganggu dalam proses pengungkapan lebih lanjut," ujar Sudiyono kepada Liputan6.com, Kamis (10/8/2017).

Kesimpulan awal, kata Sudiyono, pengunggah foto pembantaian rusa tersebut berada di luar kawasan Taman Nasional Komodo. Oleh karena itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak lain sesuai dengan kewenangannya untuk menginvestigasi hal itu secara profesional.

Ia juga menyebut foto yang beredar tersebut belum dapat menjelaskan asal-usulnya rusa dari mana, kapan kejadian tersebut berlangsung, siapa pelakunya, dan data lain yang diperlukan dalam proses pengungkapan.

"Sejauh ini kami belum mendapatkan bukti yang sah secara hukum keterkaitan antara foto tersebut dengan TNK. Namun, pengunggah foto itu akan terus dilacak," kata Sudiyono.

Ia menjelaskan, sumber pakan komodo (Varanus komodoensis) sebagai pemakan
daging berupa daging rusa, kerbau, kuda, babi hutan, tikus dan hewan kecil lainnya. Ketersediaan rusa sebagai salah satu sumber pakan komodo, kata dia, saat ini masih mencukupi.

Hal tersebut dapat dilihat dari tren populasi Komodo sebagai satwa inti relatif stabil. Komodo, dia menjelaskan, mempunyai karakter spesifik, yaitu siklus makan dapat dilakukan satu bulan sekali.

Sudiyono menegaskan, pihak TNK saat ini selalu menggelar patroli rutin di dalam kawasan konservasi komodo dengan fokus pada daerah yang dianggap rawan
serta strategis.

"Dalam pengelolaannya kami melibatkan pihak lain, seperti pemerintah daerah,
kepolisian, pos AL, pihak TNI, WWF, DKPP, KSP, rekan-rekan media, para pelaku wisata, masyarakat serta mitra lainnya yang peduli terhadap kawasan konservasi," ucap Sudiyono.

Keberadaan rusa di Pulau Komodo, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, belakangan menjadi sorotan setelah foto pembantaian rusa beredar di media sosial.  Padahal, hewan yang terkesan jinak saat didekati pengunjung itu merupakan sumber makanan bagi si kadal purba.

Dalam foto tersebut, terlihat beberapa ekor tumpukan rusa yang telah mati diangkut menggunakan kapal. Selain itu, juga terlihat sejumlah orang berada di atas kapal itu. Diduga kuat, mereka adalah para pemburu liar yang menangkap hewan dilindungi tersebut.

Foto tersebut diunggah oleh Agus Pambagio, pengamat kebijakan publik di halaman Facebook miliknya.

Pada foto itu tertulis caption, "Pembantaian rusa setiap saat di Taman Nasional Komodo. Padahal rusa makanan utama komodo. Kalau terus diburu tanpa ada kontrol pasti habitatnya akan terganggu dan akan dapat mengancam kelangsungan sumber pangannya Komodo. Bayangkan kalau komodo lapar dan kita sedang ada di sana. Mari kita cegah perburuan massal rusa di TN Komodo."

Saksikan video menarik di bawah ini: