Para Pemburu Saweran Grebeg Syawal di Makam Sunan Gunung Jati

Oleh Panji Prayitno pada 04 Jul 2017, 16:02 WIB
Diperbarui 04 Jul 2017, 16:02 WIB
Para Pemburu Saweran Grebeg Syawal di Makam Sunan Gunung Jati
Perbesar
Meski saweran hanya koin, warga tetap memburunya ke makam Sunan Gunung Jati. (Liputan6.com/Panji Prayitno)

Liputan6.com, Cirebon - Sejumlah warga, baik dari Cirebon maupun luar Cirebon, memadati kawasan makam Sunan Gunung Jati, Minggu, 2 Juli 2017. Mereka rela menunggu rombongan keluarga Keraton Kanoman Cirebon keluar dari area pemakaman Sunan Gunung Jati.

Kepadatan warga tersebut untuk demi mendapatkan koin saweran yang dibagikan keluarga keraton usai berziarah. Tradisi berebut koin atau sawer yang ada dalam rangkaian Grebeg Syawal tersebut diyakini warga membawa berkah.

"Sudah biasa, Mas, setiap tahun juga saya ikut tradisi Grebeg Syawal terus sawer," kata Hasan, salah seorang warga Desa Panembahan, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon.

Menurut dia, tujuan utama datang ke acara tersebut adalah tidak lain untuk mengalap berkah sultan. Selain itu, kata dia, dibukanya pintu besar Makam Sunan Gunung Jati itu merupakan pemandangan yang langka.

"Kalau di Desa Panembahan itu rutin tiap tahun warganya berangkat ke tradisi Grebeg Syawal ini, kumpul dulu di masjid desa, lalu berangkat bersama-sama," kata dia.

Tradisi curak atau sawer dalam rangkaian Grebeg Syawal Keraton Kanoman Cirebon tersebut dipercaya memiliki berkah. Sehingga, banyak peziarah yang berebut untuk mendapatkannya.

Sejak pagi buta, ribuan warga dari berbagai daerah memadati komplek makam Sunan Gunung Jati. Mereka rela berdesakan ingin memanfaatkan momentum langka, yakni dibukanya pintu besar yang menembus langsung ke tempat peristirahatan terakhir salah seorang Wali Sanga tersebut.

Pintu besar tersebut dibuka lantaran segenap keluarga dan kerabat Keraton Kanoman yang dipimpin Pangeran Patih M. Qodiran datang menziarahi makam leluhurnya. Tradisi Grebeg Syawal tersebut sudah berlangsung sejak beberapa abad lalu.

Juru bicara Keraton Kanoman Cirebon, Ratu Raja Arimbi Nurtina, mengatakan Grebeg Syawal merupakan salah satu tradisi di Keraton Kanoman Cirebon yang dilaksanakan satu minggu setelah Idul Fitri. Menurut dia, esensi tradisi tersebut ialah melakukan ziarah kubur Sultan Kanoman beserta segenap keluarga dan kerabat dekat Keraton.

"Grebeg Syawal yang berlangsung setiap tahun ini dimaksudkan sebagai rasa syukur atas dikarunia Allah SWT, sehingga kita semua dapat melaksanakan ibadah puasa selama bulan Ramadan dan puasa sunah enam hari atau puasa Syawalan," kata Arimbi.

Ia mengatakan, prosesi ini dijadikan media silaturahmi untuk mengukuhkan ukhuwah islamiyah antara Sultan dengan masyarakat luas yang berziarah di makam Sunan Gunung Jati.

Menurut dia, dari berbagai sisi, rangkaian prosesi Grebeg Syawal ini telah mengekspresikan khazanah kebudayaan yang tidak bisa dilepaskan dari spirit masyarakat Cirebon.

 

Saksikan Video Menarik di Bawah Ini: