Bahagianya Warga Arborek Bisa Berbicara Bisik-Bisik

Oleh Katharina JanurEdhie Prayitno Ige pada 27 Jun 2017, 21:01 WIB
Diperbarui 27 Jun 2017, 21:01 WIB
arborek
Perbesar
Kampung Arborek dilihat dari perahu motor, birunya langit menambah eksotisme kampung wisata ini. (foto : liputan6.com / katharina janur

Liputan6.com, Raja Ampat Bising genset dari satu rumah ke rumah lainnya di Kampung Arborek, Distrik Meosmansar, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, selalu sahut-menyahut. Masing-masing rumah selalu mempertahankan mesin gensetnya selalu menyala, untuk pemenuhan kebutuhan listriknya.

Kepala Kampung Arborek, Daud Mambrasar mengaku akibat suara mesin genset, masyarakat harus sedikit berteriak, jika ingin berbincang dengan warga lainnya. Bising genset itu mungkin segera hilang dari Kampung Arborek, setelah banyaknya pemancangan tiang listrik di kampung wisata itu. 

"Tiang baru dipancang saja, masyarakat senang sekali, Apalagi, jika listrik sudah menyala. Warga sangat mensyukuri kehadiran PLN di kampung ini," kata Daud mengenang situasi saat tiang listrik dipasang, Senin, 26 Juni 2017.

Kampung Arborek merupakan salah satu kampung wisata yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Raja Ampat sejak 2009. Sayangnya sejak penetapan kampung wisata itu, listrik belum pernah menyala di kampung ini. 

Sebagai kampung wisata, sudah sering kampung ini mendapat prestasi dalam berbagai lomba yang digelar pemerintah. Bahkan, Daud dan istrinya pada tahun 2015 diundang menghadiri Upacara HUT Kemerdekaan RI di Istana Negara karena terpilih sebagai kampung wisata terbaik.

''Saya yakin, suara bising mesin genset akan hilang dan kami kembali menikmati suara desiran ombak di Patna. Ngobrol juga bisa bisik-bisik,'' kata Daud.

Rata-rata per kepala keluarga, memiliki penginapan 1-3 buah yang dikelola. Kesadaran wisata warga setempat, salah satunya dapat meningkatkan pemasukan bersih bagi warga pengelolaan penginapan berkisar Rp 5 juta per bulan. Kebutuhan listrik di kampung wisata ini menjadi sangat vital. Teristimewa bagi warga pengelola penginapan. 

Warga Arborek mendorong gerobak berisi kopor-kopor wisatawan. (foto : Liputan6.com / katarina djanur)

Bayangkan saja, dengan genset, setiap harinya dibutuhkan 10 liter bensin, untuk dapat menerangi listrik di rumah warga masing-masing, mulai pukul 18.00 hingga 06.00 WIT pagi hari. Harga satu liter bensin di daerah itu berkisar Rp 13 ribu atau masyarakat membutuhkan Rp 130 ribu setiap malam untuk menerangi rumahnya di malam hari.

Tetapi dengan kehadiran PLN, dapat menunjang pembangunan pariwisata, karena pemilik  penginapan dapat meningkatkan fasilitas lainnya di dalam penginapan itu, seperti AC, kulkas ataupun televisi. 

''Udara di sini sangat panas, sehingga dengan adanya listrik, wisatawan dapat menyimpan bahan-bahan makanan kebutuhannya. Paling tidak dengan adanya listrik, pelayanan bagi wisatawan akan semakin membaik,'' kata Daud.

 

Saksikan Video Menarik Berikut Ini:

Listrik Masuk Desa

Kabupaten Raja Ampat di Provinsi Papua Barat yang merupakan destinasi wisata utama di Indonesia bagian Timur. Ini sebabnya, program listrik masuk desa menjadi prioritas bagi PLN setempat. Tahun ini ada 51 desa atau kampung di Kabupaten Raja Ampat telah di survei untuk program listrik desa.

''Ada 89 desa di PLN Area Sorong yang disurvei untuk program pelistrikan 2017. Ada 51 desa yang berada di Raja Ampat, 32 desa di Kabupaten Sorong, dua desa di Sorong Kota dan empat desa di Kabupaten Tambrauw,'' kata Manajer PLN Area Sorong Aep Saepudin.

Warga Arborek kini bisa bisik-bisik dan tak perlu berteriak agar mengalahkan suara genset untuk berbicara dengan wisatawan. (foto : Liputan6.com / katharina Janur)

Raja Ampat diberi prioritas, karena merupakan destinasi wisata internasional yang membutuhkan peningkatan infrastruktur, termasuk di dalamnya ketersediaan energi listrik. Itu mutlak dibutuhkan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi warga yang mengelola obyek wisata serta adanya kerjasama dengan pemerintah Kabupaten Raja Ampat. 

"Kampung Arborek salah satu dari 51 kampung yang sudah dialiri listrik, sejak pertengahan Mei 2017 lalu, sementara untuk desa-desa lainnya masih dibangun," ujar Aep. 

Sementara itu, petugas PLN di Kampung Arborek, Agustinus Yam menuturkan daya kapasitas mesin di Kampung Arborek 50 KW. Namun, beban sementara yang digunakan warga berkisar 14,8 KW dan beban masih cukup banyak yang belum terpakai. Jumlah pelanggan yang tersambung sekitar 34 pelanggan dengan masing-masing daya per rumah yang digunakan 900VA dan 1300VA, sementara beberapa penginapan menggunakan daya hingga 2200VA.

Penginapan di kampung Arborek yang masih mencirikan orisinalitas arsitektur lokal. (foto : Liputan6.com / katarina janur)

Tahun ini, sebanyak 50 kampung di Raja Ampat, akan dibangun jaringan PLN, selanjutnya untuk mengaliri listrik, tinggal menunggu ketersediaan mesin dari kantor wilayah. 

Tahun 2017, PLN Area Sorong akan membangun jaringan listrik di 151 kampung. Sementara pada 2018, sebanyak 420 kampung dan pada 2019 membangun jaringan sebanyak 279 kampung. Sesuai dengan instruksi Pak Presiden melalui Program Papua Terang 2019, maka pada 2019, PLN Area Sorong sudah membangun jaringan listrik di 1.149 kampung.

arborek
Perbesar
Salah satu pemilik penginapan di kampung Arborek sibuk di depan penginapan, menata cangkang kerang yang menjadi salah satu souvenir khas. (foto : Liputan6.com / katharina janur)