Aksi NTT Menghalau Serangan Belalang Kembara

Oleh Ola Keda pada 14 Jun 2017, 18:00 WIB
Diperbarui 14 Jun 2017, 18:00 WIB
Serangan Belalang Kembara
Perbesar
Belalang kembara berterbangan mengikuti arah angin dan menuju ke arah utara dan barat di Kabupaten Sumba Timur. (Liputan6.com/Ola Keda).

Liputan6.com, Sumba Timur - Gubernur Nusa Tenggara Timur, Frans Lebu Raya mengatakan, fenomena belalang kembara yang mengepung Sumba Timur disebabkan sudah sangat berkurangnya predator atau pemangsa serangga ini.

"Memang ada satu hal, yakni pemangsa atau predatornya sudah mulai berkurang," ujar Lebu Raya kepada Liputan6.com, Kamis (14/6/2017).

Menurut Lebu Raya, serangan belalang kembara pernah terjadi tahun sebelumnya. Pada 2016, pemerintah menggunakan tenaga manusia untuk menangkap dan menguburkan belalang.

"Sekarang kita pasti berkoordinasi untuk menanganinya," katanya.

Pemerintah Provinsi NTT saat ini sedang berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat untuk mengantisipasi meluasnya serangan serangga ini.

"Ya kami terus koordinasikan untuk menangani, memang belalang ini sudah lama, sudah beberapa tahun tidak muncul, sekarang dia muncul lagi. Dahulu sudah ada penelitian yang kita lakukan bersama agar bisa menghilangkannya sama sekali," ujar Lebu Raya.

Ribuan ekor belalang kembara masih memenuhi Kabupaten Sumba Timur. Ribuan belalang kembara ini diduga masih berterbangan di wilayah tersebut dan mulai menyerang tanaman warga.

Serangga ini berterbangan mengikuti arah angin dan menuju ke arah utara dan barat wilayah tersebut. Belalang kembara adalah hama pemakan rumput-rumputan. Di Sumba Timur, mereka memakan rumput, jagung, hingga padi. 

Populasi belalang kembara melonjak diduga akibat kemarau panjang. Predator alami belalang kembara tidak tahan akan kemarau, sehingga populasi belalang kembara tidak terbendung karena terputusnya mata rantai itu.

Pada Sabtu 10 Juni kemarin, belalang kembara menyerbu Bandara Umbu Mehang Kunda dan memenuhi landasan. Akibatnya, pendaratan pesawat sempat tertunda karena landasan harus dibersihkan terlebih dahulu.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Pengendalian Belalang Kembara

Serangan Belalang
Perbesar
Bunyi sirene efektif untuk mengusir belalang-belalang yang menyerang Bandara Umbu Mehang Kunda. (Liputan6.com/Ola Keda).

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Timur Yohanis Tay mengatakan, pemerintah provinsi sudah mengirim bantuan pestisida dan melakukan tindakan pengendalian terhadap belalang kembara yang menyerang Sumba Timur.

"Untuk kasus hama belalang di Sumba Timur, kita sudah memberikan bantuan dan juga melakukan pengendalian di lapangan dengan melibatkan instansi terkait," kata Yohanis Tay kepada Antara di Kupang, Rabu terkait hama belalang di Sumba Timur.

Serangan belalang kembara di Sumba Timur terus meluas. Pekan lalu belalang kembara memasuki wilayah Kecamatan Kota dan Kambera.

Data sementara menunjukkan, serangga tersebut menyerang 21 hektare padi dan sawah di sekitar Kelurahan Kambaniru serta 221 hektare perkebunan jagung petani di wilayah Kelurahan Mau Hau dan Kelurahan Kambaniru.

"Tetapi kalau data kerusakan terakhir setelah Sabtu 10 Juni khusus untuk serangan hama belalang kami belum merangkumnya di lapangan. Hama belalang awalnya menyerang tanaman pangan petani di wilayah kecamatan," kata Kepala Dinas Pertanian Sumba Timur, Yohanis Yohanis Hiwa Wunu, Selasa (14/6/2017) dikutip Antara.

Yohanis Tay menambahkan, keberadaan belalang kembara sudah ada sejak Januari 2017 lalu di Kecamatan Umalulu, Sumba Timur. Namun populasi masih di padang penggembalaan dan belum menyerang tanaman pangan maupun hortikultura.

Untuk mengantisipasi serangan hama belalang pada tanaman dan hortikultura, sudah dilakukan pengendalian oleh petugas dari Dinas Pertanian Kabupaten Sumba Timur. Sampai dengan bulan April 2017, sudah dilakukan upaya pengendalian pada 161 titik/koloni.

Pengendalian dilakukan dengan menggunakan pestisida Confidor dan Fokker. Pestisida yang digunakan adalah Confidor sebanyak sekitar 10 liter dan Fokker sebanyak sekitar lima liter.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya