Sejarah Serangan Ribuan Belalang Kembara di Sumba Timur

Oleh Ola Keda pada 13 Jun 2017, 11:02 WIB
Diperbarui 13 Jun 2017, 11:02 WIB
Sejarah Serangan Ribuan Belalang Kembara di Sumba Timur
Perbesar
Serangan belalang kembara di Sumba Timur membuat warga terancam kelaparan. (Liputan6.com/Ola Keda)

Liputan6.com, Kupang - Belalang kembara "meneror" Waingapu, Sumba Timur, NTT, pada Sabtu, 10 Juni 2017. Ternyata, serangan itu bukan yang pertama terjadi di wilayah tersebut.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumba Timur, Johanis Hiwa Wunu, menceritakan kisah "teror" oleh belalang kembara dari tahun ke tahun. Sekitar 1998-1999, periode yang dikenal sebagai awal masa reformasi itu, menjadi awal serangan kawanan serangga ke Sumba Timur.

Penyebabnya saat itu adalah pembakaran padang oleh investor baru yang membuka lahan dan perburuan burung besar-besaran. Padahal, burung merupakan predator alami belalang kembara.

"Mungkin itu lahan yang sebenarnya daerah mereka makan dan efeknya sekarang larinya ke kota," kata Johanis kepada Liputan6.com, Rabu (13/6/2017).

Saat itu, kata Johanis, jalanan dipenuhi oleh belalang. Faktor cuaca juga memengaruhi meledaknya populasi belalang kembara.

"Lebih parah yang 90-an karena jalanannya penuh dengan belalang. Misal mendung dan hujan, dia lebih cepat menetas lagi anak belalang. Telurnya lebih cepat menetas lagi," katanya.

Pada 2016, serangan belalang kembara juga terjadi di Sumba Timur. "Sekitar bulan November 2016 sudah mulai. Oktober-November itu mereka bertelur, apalagi dengan curah hujan Sumba Timur, jadi sekitar Januari menetas banyak sekali," tuturnya.

Puncak dari serangan belalang terjadi pada Juni 2017. Faktor pembakaran ladang oleh petani membuat kawanan belalang ini "meneror" kota. Jika sudah demikian, kemungkinan gagal panen bagi petani setempat semakin besar.

"Ini berarti rawan pangan sudah untuk Sumba Timur karena sebelumnya sudah ada hama tikus gitu dan petani banyak gagal panen untuk panen kali ini," kata Johanis.

Belalang kembara terbang ke arah kota hingga mengganggu bandara semata-mata karena mengikuti arah angin. Pemerintah Sumba Timur telah mengambil langkah penanganan dengan menyemprotkan 1 ton pestisida kimia di tengah malam dengan alasan tertentu.

"Karena tengah malam jam tidur (belalang kembara), mereka menetap sudah. Kalau siang kan mereka terbang, agak susah. (Penyemprotan pestisida) bisalah mengurangi," paparnya.

Populasi belalang kembara melonjak diduga akibat kemarau panjang. Predator alami belalang kembara tidak tahan akan kemarau, sehingga populasi belalang kembara tidak terbendung.

Pada Sabtu, 10 Juni 2017, belalang kembara menyerbu Bandara Umbu Mehang Kunda dan memenuhi landasan. Akibatnya, pendaratan pesawat sempat tertunda karena landasan harus dibersihkan terlebih dahulu.

Ribuan belalang kembara yang menyerbu Bandara Umbu Mehang Kunda di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, NTT, sejak kemarin hingga kini sudah mulai menyebar ke tanaman warga.

Bupati Sumba Timur, Gideon Mbiliyora, mengatakan ribuan belalang tersebut kini masih beterbangan dan memenuhi tanaman warga. "Masih ada sampai sekarang, bahkan ada yang mulai hinggap di tanaman petani," kata Bupati Gideon saat itu.

Tak hanya di dalam kota, aktivitas di Bandara Umbu Mehang Kunda juga sempat terganggu beberapa jam. Sebab, landasan pacu pesawat dipenuhi belalang yang beterbangan.

Tonton Video Menarik Berikut Ini:

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya