Duel Lawan Beruang Betina, Petani Sawit Bersimbah Darah

Oleh Yuliardi Hardjo Putro pada 13 Jun 2017, 03:00 WIB
Duel Lawan Beruang Betina Petani Sawit Bersimbah Darah

Liputan6.com, Bengkulu - Sarin (50), warga Dusun Batu Aji Desa Kayu Ajaran, Kecamatan Ulu Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan, nyaris tewas. Petani kelapa sawit ini bersimbah darah usai duel melawan seekor Beruang Madu betina yang melindungi anaknya.

Sarin yang tengah berjalan menuju pondok "ramuan" atau pondok peristirahatan yang berjarak 500 meter dari kantor Babinsa Koramil Ulu Manna itu bersirobok dengan beruang betina setinggi lebih dari dua meter bersama satu ekor anaknya. Karena jarak yang sangat dekat, beruang langsung menyerang Sarin dan terjadilah duel yang tidak seimbang.

Sambil berteriak minta pertolongan, Sarin terus berupaya menangkis serangan beruang. Kalah tenaga dan tanpa alat bantu, Sarin lalu tumbang dan menjadi bulan-bulanan sang Beruang Madu (Helarctos malayanus).

Warga yang datang usai mendengar teriakan Sarin bersama aparat TNI langsung menghalau beruang bersama anaknya menggunakan bunyi-bunyian. Sarin yang tergeletak dengan luka robek pada bagian kepala, wajah, dahi dan pelipis serta mengalami patah tulang tangan langsung dilarikan ke puskesmas terdekat.

Alimin, warga Desa Kayu Ajaran mengatakan, luka yang diderita sangat parah dan kondisi Sarin tidak sadarkan diri karena banyak kehilangan darah. Warga pun langsung mengevakuasi korban ke RS Hasannudin Damrah Bengkulu Selatan.

"Sudah dilakukan tindakan operasi," ucap Alimin saat dihubungi di Manna, Senin, 12 Juni 2017.

Kepala Resort Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kabupaten Bengkulu Selatan, Rinjuan Windi Adi, mengatakan pihaknya bersama warga dan TNI sudah melakukan pengusiran beruang tersebut ke habitatnya di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Saat ini, beruang tersebut sudah masuk jauh ke dalam hutan masyarakat diminta tetap waspada.

"Beruang Madu merupakan hewan yang dilindungi, jadi tindakan kami hanya melakukan pengusiran dan tidak bisa dibunuh," ujar Windi.

Beruang yang memiliki anak yang baru lahir, kata Windi, memang memiliki tingkat sensitivitas yang tinggi. Demi melindungi anaknya yang masih kecil, terkadang sang induk rela berpisah dari kawanan untuk menghindari bentrok. Bila bertemu binatang lain bahkan manusia, sang induk dipastikan akan menyerang.

"Sangat sensitif dan overprotektif," jelas Windi.

Kepala BKSDA wilayah Bengkulu dan Lampung, Abu Bakar, mengatakan saat ini pihaknya akan terus memantau pergerakan beruang dan Harimau Sumatera yang hidup di dalam kawasan Taman Nasional. Saat ini, habitat kedua hewan dilindungi itu terus tergerus aktivitas penebangan liar.

Kondisi inilah yang memicu beruang dan Harimau Sumatera sering turun gunung karena cadangan makanan yang ada di taman nasional terus menipis. Kasus beruang masuk kampung ini bukan yang pertama.

Tercatat pada 2016 hingga pertengahan 2017 ini sudah ada 28 kasus. Dari angka itu, lebih dari lima kasus terjadi bentrok dengan manusia.

"Jika mereka nyaman di habitatnya, tidak mungkin mereka masuk kampung. Jadi tolong hentikan aktivitas yang merusak hutan," kata Abu Bakar.