Cara Ampuh Usir Ribuan Belalang yang Serang Bandara

Oleh Ola Keda pada 12 Jun 2017, 21:00 WIB
Diperbarui 12 Jun 2017, 21:00 WIB
Serbuan belalang
Perbesar
Ribuan belalang memenuhi Bandara Umbu Mehang Kunda, Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. (Liputan6.com/Ola Keda)

Liputan6.com, Sumba Timur - Ribuan belalang kembara yang 'menyerang' Bandara Umbu Mehang Kunda di Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur pada Sabtu 10 Juni 2017 sempat mengganggu penerbangan. Salah satu cara untuk mengusir belalang-belalang itu adalah dengan sirene.

Salah satu warga Waingapu, Mariana Silvana Moy atau yang akrab disapa Yane mengatakan, butuh kurang lebih waktu satu jam untuk mengusir belalang kembara dari bandara. Caranya adalah dengan membunyikan sirene.

"Sirene dibunyikan, mobil-mobil bandara keliling sehingga belalang tidak bisa mendarat," kata Yane saat dihubungi Liputan6.com, Senin (12/6/2017).

Pengusiran menggunakan sirene efektif karena frekuensi pendengaran belalang kembara berbeda dengan manusia. Suara sirene itu mengganggu belalang dan membuat mereka pergi.

Yane memperkirakan ada sekitar 3.000 belalang kembara yang memenuhi bandara siang kemarin. Ribuan belalang kembara tersebut ada yang terbang rendah mendekati landasan bandara, ada juga yang terbang tinggi.

"Mereka mungkin ingin mau mendarat ke landasan tapi tidak bisa karena sudah dihalau," ucap dia.

Yane menuturkan bahwa belalang kembara umum ditemukan di Sumba Timur namun bukan dalam jumlah hingga ribuan. Munculnya ribuan belalang kembara ini mengagetkan warga yang menunggu di bandara.

"Kemarin warga yang menunggu pesawat dan di jalan-jalan semua kaget. Mereka berhenti melihat belalang," ujar Yane.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Bentuk Pokja

Serangan Belalang
Perbesar
Bunyi sirene efektif untuk mengusir belalang-belalang yang menyerang Bandara Umbu Mehang Kunda. (Liputan6.com/Ola Keda).

Pemerintah Provinsi NTT melalui Dinas Pertanian Nusa Tenggara Timur membentuk Pokja pengendalian guna mengantisipasi serangan ribuan belalang di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur.

Tim pokja pengendalian Dinas Pertanian NTT dibentuk berkat koordinasi Dinas Pertanian NTT dengan Dinas Pertanian Sumba Timur yang menyebar di beberapa wilayah Sumba Timur.

"Koordinasinya terus berjalan dan saat ini Tim Pokja sudah turun di lapangan," ujar Kepala Dinas Pertanian NTT, Yohanes Tay Ruba kepada Liputan6.com, Selasa 12 Juni 2017.

Yohanes mengatakan, tim pokja pengendalian dilengkapi dengan alat misflower atau atau alat semprot pestisida.

"Bantuan dari kementerian untuk pestisida sebanyak 1 ton dan itu sisa bantuan tahun sebelumnya," kata Yohanes.

Saat ini, menurut Yohanes, kelompok belalang itu masih berterbangan sehingga petugas baru bisa melakukan tindakan saat malam hari.

"Sekitar pukul 01.00 Wita petugas baru bisa siram pestsida. Karena saat itu belalangnya bisa hinggap. Mereka hidup berkelompok dan terbang mengikuti arah angin," kata Yohanes.

Dia menambahkan, kejadian ini menjadi perhatian serius pemerintah provinsi NTT. "Initinya kami akan berusaha untuk menekan agar tidak meluas," pungkas Yohanes.

Populasi belalang kembara melonjak diduga akibat kemarau panjang. Belalang kembara tidak tahan akan kemarau sehingga populasi belalang kembara tidak terbendung.

Belalang kembara adalah hama pemakan rumput-rumputan. Di Sumba Timur, mereka memakan rumput, jagung, hingga padi.

Pada Sabtu 10 Juni 2017 kemarin, belalang kembara menyerbu Bandara Umbu Mehang Kunda dan memenuhi landasan. Akibatnya, pendaratan pesawat sempat tertunda karena landasan harus dibersihkan terlebih dahulu.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya