Curahan Hati Ayah Pemuda Apes Korban Penganiayaan di Minggu Pagi

Oleh Fauzan pada 25 Apr 2017, 12:03 WIB
Diperbarui 25 Apr 2017, 12:03 WIB
Curahan Hati Ayah Pemuda Apes Korban Penganiayaan di Minggu Pagi
Perbesar
Ayah seorang pemuda apes mengungkapkan jika anaknya dan dua pemuda apes lainnya baru saling kenal setelah mereka sama-sama diamankan polisi. (Liputan6.com/Fauzan)

Liputan6.com, Makassar - Kasus penganiayaan tiga pemuda apes terus berlanjut. Polisi telah menetapkan dua satpam sebagai tersangka, sedangkan anggota TNI yang terekam kamera ikut menganiaya ketiga pemuda masih belum ada kabar telah ditindak.

Atas penganiayaan yang dialami anaknya, Daeng Limung, ayah dari salah satu pemuda Sulaiman (19), mencurahkan perasaannya. Menurut Limung, anak laki-lakinya itu selain dipukuli, juga disiram air panas di kemaluannya serta dipaksa meminum air selokan.  

"Habis badannya itu. Anak saya luka-luka karena dipukul pakai selang, selain itu disiram juga kemaluannya pakai air panas lalu dipaksa juga minum air got (selokan)," kata lelaki yang sehari-hari bekerja sebagai sopir becak motor itu saat ditemui Liputan6.com, Senin, 24 April 2017.

Pasca-penganiayaan itu, Sulaiman menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar. "Untungn ada polisi yang datang jemput dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara. Andai tidak, bisa mati anak saya," ujarnya tanpa menyebutkan berapa lama putranya dirawat.

Daeng Limung menegaskan anaknya bukanlah seorang begal. Sehari-hari, Sulaiman bekerja sebagai sopir odong-odong.

Sebelum kejadian, sambung Daeng Limung, anaknya saat itu dalam perjalanan pulang ke rumah setelah mengantar sepupunya. "Malam itu setelah ia kerja, dia pergi antar sepupunya pulang, lalu tinggal sejenak di rumah sepupunya dan pulang pada subuhnya," tuturnya.

Saat perjalanan pulang dari rumah sepupunya itu, lanjut Daeng Limung, anak laki-lakinya itu menyaksikan tabrakan terjadi di Jalan Dr. Sam Ratulangi. Sulaiman lalu berinisiatif mengejar pelaku tabrak lari bersama dua pemuda lain, yakni Iksan Ansari dan Afdal, yang baru dikenalnya seusai mereka diamankan di kantor Polsek Tamalate.

"Iya dia keja karena mobil itu menabrak lari. Seandainya memang begal, buat apa dia kejar sampai depan perumahan seperti itu?" ujar Daeng Limung kesal.

Menurut Daeng Limung, jika anaknya memang begal, tidak mungkin nekat mengejar korban hingga ke sekitar perumahan. Ia juga mengungkapkan saat anaknya mengejar mobil sedan itu, ia sempat serempat hingga terjatuh.

"Waktu sudah masuk di (Jalan) Metro Tanjung Bunga, anakku sempat diserempat dan terjatuh. Untung tidak luka parah anakku," katanya.

Sebelumnya, tiga pemuda mengalami nasib apes di Minggu pagi,  ketiga pemuda itu adalah Iksan Ansari (17), Sulaiman (19) dan Afdal (18). Menurut keterangan Kapolsek Tamalate Kompol Amrin, para pemuda apes itu mengaku melihat sebuah sedan yang melakukan tabrak lari di Jalan Dr. Sam Ratulangi sebelum dikejar.

Setibanya di Jalan Metro Tanjung Bunga, oleh pemilik mobil Honda Accord berpelat nomor DD 15 KO tersebut, ketiga pemuda itu dituduh sebagai begal. Teriakan sopir mengundang kedatangan anggota TNI serta beberapa orang satpam perumahan.

Mereka lalu menggelandang tiga pemuda itu ke Pos Jaga perumahan hingga akhirnya ketiga pemuda itu jadi bulan-bulanan anggota TNI dan satpam. Ketiga pemuda itu mengalami luka lebam di sekujur tubuh mereka karena hantaman benda tumpul, kayu dan selang. Rambut mereka pun dipotong tak karuan oleh warga.

Aparat kepolisian yang mengetahui kejadian itu lalu mengamankan ketiga pemuda yang dituduh begal tersebut. Iksan Ansari (17), salah seorang dari tiga pemuda apes itu lalu melaporkan penganiayaan yang dialaminya ke Polrestabes Makassar pada Senin, 17 April 2017.

Dari laporan itu, polisi menetapkan dua satpam perumahan The Maple sebagai tersangka, keduanya adalah SDN (32 tahun) dan SDL (47 tahun). Keduanya terbukti memenganiaya tiga pemuda apes di Minggu pagi itu.