Awas, Ponsel-Ponsel Pintar ini Ancam Warga Semarang

Oleh Edhie Prayitno Ige pada 28 Mar 2017, 18:01 WIB
Diperbarui 28 Mar 2017, 18:01 WIB
bahaya ponsel pintar android black market
Perbesar
Pakar keamanan Cyber Pratama Persada mengingatkan bahaya ponsel pintar black market. (foto : Liputan6.com/ Edhie Prayitno Ige)

Liputan6.com, Semarang Semarang sebagai salah satu kota dengan pertumbuhan ekonomi cukup tinggi ternyata menjadi salah satu pintu masuk pencurian data nasabah perbankan lewat ponsel pintar. Pencurian biasanya dilakukan melalui ponsel pintar yang terinfeksi malware.

Dengan malware yang diinjeksikan, sang bandit bisa mengambil data bahkan memodifikasi proses finansial di ponsel pintar, baik lewat SMS banking, mobile banking, dan internet banking.

Kajian Communication and Information System Security Research Center (CISSReC) menyebut, salah satu kemungkinan malware menyerang ponsel pintar yang didistribusikan melalui ponsel pintar di pasar gelap, khususnya ponsel berbasis android. Hal ini terjadi karena beberapa tipe ponsel laris tidak masuk ke tanah air, terbentur oleh regulasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang dikeluarkan oleh Kementrian Perindustrian.

Menurut Chairman CISSReC, Pratama Persadha, banyaknya ponsel pintar 4G di pasar gelap atau black market (BM) sangat berbahaya bagi konsumen. Namanya juga pasar gelap, sehingga tidak membayar cukai dan mengakibatkan harga lebih murah.

Namun ancaman paling serius ponsel pintar BM berada pada sistem operasinya. Khususnya jenis android yang punya kemungkinan telah dimodifikasi pihak ketiga.

"Operating System android ini terbuka. Jadi siapapun sebenarnya bisa memodifikasi OS bawaan dengan berbagai macam tujuan. Bila ada malware yang disisipkan ini sangat berbahaya, karena jelas akan merugikan konsumen tanah air," kata Pratama di Semarang, Selasa (28/3/2017).

Pakar keamanan cyber ini menyebutkan ponsel pintar Android di pasar gelap seharusnya membawa OS Stock bukan OS distributor atau pihak ketiga. OS Stock adalah OS android resmi bawaan dari produsen, sehingga bisa dibilang aman. Sedangkan OS distributor sering disebut dengan OS abal-abal, karena biasanya tidak stabil dan sering dituduh menyertakan malware untuk kepentingan iklan.

"Ponsel BM ini kalau kita lihat di pasaran banyak juga memakai OS abal-abal. Ini memperbesar kemungkinan data kita dicuri. Apalagi jika kita melakukan transaksi keuangan lewat ponsel pintar, besar kemungkinan data diambil dan proses transaksi diubah," kata Pratama.

Di luar semua pencurian data nasabah perbankan, kerugian lain adalah adanya spam iklan, juga membuat baterai dan penggunaan data lebih boros. Kepada masyarakat yang biasa bertransaksi perbankan melalui ponsel pintar, seperti SMS banking dan internet banking, Pratama menyarankan agar tidak membeli ponsel pintar Android di pasar gelap.

"Pemerintah juga harus lebih tegas, karena selain membahayakan masyarakat Indonesia sebagai konsumen, ponsel BM ini juga membuat negara kehilangan pajak cukup besar," kata mantan pejabat Lembaga Sandi Negara ini.

Pratama menilai penggunaan ponsel pintar BM dalam jumlah besar bisa ikut meningkatkan jumlah fraud dalam transaksi perbankan. Meski saat ini masih sangat kecil, namun sebaiknya pemerintah mulai memberikan perhatian lebih serius.