Sungai Cigayam Cirebon Bak Kolam Limbah Industri Batu Alam

Oleh Panji Prayitno pada 21 Mar 2017, 17:31 WIB
Diperbarui 21 Mar 2017, 17:31 WIB
Sungai Cigayam Cirebon Bak Kolam Limbah Industri Batu Alam

Liputan6.com, Cirebon - Sejumlah siswa dan aktivis lingkungan hidup di Kabupaten Cirebon mendadak memenuhi Sungai Cigayam. Berbekal karung dan alat pemungut sampah, mereka membersihkan 16 titik sungai terbesar di Kabupaten Cirebon itu.

Salah satu titik yang dibersihkan berlokasi di Desa Wrujaya, Kecamatan Depok, Kabupaten Cirebon. Kegiatan bersih-bersih sungai sejak Minggu, 19 Maret 2017 itu dalam rangka menyambut Hari Air Sedunia yang jatuh pada 22 Maret 2017.

Ketua Sanggar Lingkungan Hidup Cirebon Cecep Supriyatna menyebutkan Sungai Cigayam menjadi salah satu titik aksi pembersihan lantaran sudah tercemar. Di sepanjang sungai ini, terdapat warga yang sebagian besar hidup dari industri batu alam.

"Sudah tercemar sekali, bahkan sampah pun nyangkut di pinggiran sungai dan pohon kalau alirannya deras dan banjir," kata Cecep, Senin, 20 Maret 2017.

Industri batu alam yang tersebar di beberapa wilayah di Kabupaten Cirebon tersebut sudah lama beroperasi. Bahkan, sebagian besar industri tersebut merupakan usaha turun temurun.

Menurut Cecep, kondisi air di Sungai Cigayam sudah sangat berbahaya akibat cemaran industri batu alam berupa debu dan limbah rumah tangga yang didominasi sampah plastik. Padahal, sungai tersebut masih dimanfaatkan warga untuk keperluan MCK maupun mencuci pakaian.

Dari data dihimpun di lokasi, industri batu alam juga tersebar di sejumlah wilayah Kabupaten Cirebon. Dia menyebutkan, tercatat sekitar tujuh dari 41 kecamatan di Kabupaten Cirebon kondisi sungainya sudah positif tercemar limbah batu alam dengan luas mencapai 40 hektare.

Akibat dari cemaran batu alam tersebut, tidak sedikit warga yang tinggal di kawasan industri batu alam mengeluh kotor dan merasakan gatal-gatal di tubuh mereka. Limbah itu juga menurunkan produktivitas lahan pertanian.

"Kalau ditelusuri, banyak sungai tercemar batu alam. Dari Cikalahang sampai titik daerah Jamblang dan banyak lagi. Padahal, sungai di Cirebon bisa di-explore jadi objek wisata sungai. Untuk penanganan limbah batu alam harus bersama-sama, terutama kesadaran masyarakatnya," tutur Cecep.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk Cisanggarung (BBWSCC) Charisal Mano menyampaikan, sejauh ini masih sedikit pengamatan pencemaran sungai masih sedikit. Namun, pihaknya sangat berusaha meningkatkan kualitas air untuk membantu beberapa spot konsumsi PAM.

Dia mengakui, Sungai Cigayam merupakan sungai yang sudah tercemar berat oleh limbah khususnya batu alam. Dari aspek kualitas, kata dia, masyarakat akan menerima dampak.

"SDA fungsinya bukan hanya menjernihkan air tapi mengamati dan menyampaikan bagaimana kondisi air di lingkungan sekitar kita," ujar dia.

Dari kondisi sungai tersebut, dia memastikan sumber pencemaran sebagian besar dari limbah batu alam. Dia pun mempertanyakan izin Amdal yang dimiliki kawasan industri batu alam.

"Kalau cemaran dari industri, maka kemungkinan ada Amdal yang terlewatkan. Proses pemantauan terhadap kegiatan itu harus ada langkah yang dilakukan, sehingga air yang masuk ke sungai sudah sesuai dengan baku mutu yang ditetapkan oleh gubernur," kata Charisal.